Rupiah Melemah usai BI Tahan Bunga, Tembus Rp 16.300/USD
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat tepat setelah Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan BI Rate, di level 5,75%. Jisdor BI merilis mata uang Garuda bergerak loyo 82 poin (0,50%) ke level Rp 16.357 per dolar AS, Rabu (19/02/2025) sore.
Sebagaimana dilansir Yahoo Finance, kurs rupiah terhadap greenback kembali merosot melewati level psikologis Rp 16.300 per dolar AS sore ini. Kurs rupiah bergerak merosot 60 poin (0,37%) ke level Rp 16.329 per dolar AS. Kemarin, kurs rupiah berada di posisi Rp 16.269 per dolar AS.
Presiden Komisaris HFX International Berjangka Sutopo Widodo mengungkap, indeks dolar mempertahankan kenaikannya baru-baru ini, bertahan di sekitar 107 pada hari Rabu (19/2/2025). "Hal ini karena meningkatnya ancaman (penaiikan) tarif (impor) Presiden AS Donald Trump memicu kekhawatiran inflasi. Pada hari Selasa, Trump mengumumkan rencana untuk mengenakan tarif otomotif sekitar 25%, serta bea serupa pada semikonduktor dan impor farmasi. Ketegangan geopolitik juga mendukung dolar, terutama setelah AS mengecualikan negara-negara Eropa dari negosiasi damai dengan Rusia, atas perang yang sedang berlangsung di Ukraina," ungkapnya kepada Investortrust, Rabu (19/02/2025).
Baca Juga
Di sisi kebijakan moneter, pejabat Federal Reserve menegaskan kembali pendekatan hati-hati mereka terhadap pemotongan suku bunga acuan AS lebih lanjut, dengan menekankan fokus mereka pada pengurangan inflasi. Saat ini, pasar memperkirakan ada potensi sekitar 35 basis poin pelonggaran dari The Fed tahun ini.
"Pedagang sekarang menunggu rilis risalah FOMC terbaru, untuk wawasan tambahan tentang prospek suku bunga di masa mendatang," paparnya.
Siang ini, BI mempertahankan suku bunga acuannya pada 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 18-19 Februari 2025, sejalan dengan ekspektasi pasar. Sutopo menilai keputusan ini sejalan dengan strategi BI untuk menjaga inflasi tetap terkendali dengan target 2,5±1%, sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.
Asesmen Bank Indonesia
BI mencatat laju inflasi tahunan Indonesia turun menjadi 0,76% pada Januari 2025, dari 1,57% pada Desember 2024. Ini merupakan laju inflasi terendah sejak Maret 2000, namun masih berada dalam kisaran target.
Sementara itu, hingga pertengahan Februari 2025, nilai tukar rupiah relatif stabil, di tengah volatilitas pasar global. Depresiasi rupiah hanya 1,06% secara year-to-date dibandingkan Desember 2024. BI mengklaim, stabilitas ini tidak terlepas dari langkah BI yang proaktif dan komitmen kuat untuk menjaga nilai tukar rupiah.
Sementara itu, nilai penyaluran kredit di Indonesia tumbuh 10,27% secara tahunan pada Januari 2025, sedikit melambat dari pertumbuhan 10,39% pada Desember 2024, yang merupakan pertumbuhan terendah sejak November 2023. Perkembangan ini di tengah konsumsi rumah tangga yang menurun.
Baca Juga
Pertumbuhan kredit tersebut terutama ditopang oleh kredit investasi dan konsumsi, yang masing-masing secara tahunan tumbuh 13,22% dan 10,37%. Sementara itu, kredit modal kerja tumbuh di bawah rata-rata industri, yakni 8,4%.
"Meski demikian, rupiah masih sangat dipengaruhi oleh faktor global, seperti tarif AS dan sikap hawkish dari The Fed. Rentang perdagangan besok berkisar Rp 16.300 - Rp 16.400 per dolar AS," tuturnya.

