BI Rate Tetap 5,75%, Net Capital Inflow US$ 1,5 Miliar
JAKARTA, investortrust.id - Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) periode 18-19 Februari 2025 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 5,75%. Dewan Gubernur BI juga memutuskan untuk mempertahankan suku bunga deposit facility dan suku bunga lending facility. Sementara itu, BI mencatat terjadi net capital inflow US$ 1,5 miliar year to date di investasi portofolio, hingga 17 Februari 2025.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, RDG BI periode Februari juga memutuskan untuk mempertahankankan suku bunga deposit facility di level 5%. Suku bunga lending facility juga dipertahankan di level 6,50%.
“Selain itu, arahnya ke depan, ada ruang untuk penurunan suku bunga acuan, dengan melihat inflasi RI rendah dan perlunya kita bersama pemerintah mendukung keinginan untuk pertumbuhan ekonomi (nasional) tinggi. Keputusan BI ini dilakukan di tengah pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2025 diperkirakan sebesar 3,2%. Di sisi lain, ketidakpastian pasar keuangan global tetap tinggi, dipengaruhi kebijakan tarif impor Amerika Serikat yang (naik) lebih cepat dan lebih luas dari perkiraan semula, serta arah kebijakan bank sentral AS,” kata Gubernur BI Perry dalam Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur BI Bulan Februari 2025, di Kantor BI, Jakarta, Rabu (19/02/2025).
Mendampingi Gubernur BI adalah Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti, Deputi Gubernur BI Doni P Joewono, dan Deputi Gubernur BI Juda Agung. Selain itu, Deputi Gubernur BI Aida S Budiman dan Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta.
Baca Juga
SUN Beri Yield hingga 7,14%, Pemerintah Tarik Utang Rp 30 Triliun
Net Inflow Dorong Cadev
Perry mengatakan, di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan global, aliran modal asing ke investasi portofolio hingga pertengahan triwulan I-2025 berdasarkan data hingga 17 Februari 2025 mencatatkan net inflow US$ 1,5 miliar. Perkembangan ini antara lain dipengaruhi oleh aliran masuk modal asing ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) yang secara neto tercatat mencapai US$ 0,5 miliar.
Net capital inflow mendorong cadangan devisa Indonesia pada Januari 2025 tinggi. Nilainya sebesar US$ 156,1 miliar.
Baca Juga
Keputusan RDG BI Januari
Sementara itu, RDG BI pada 14-15 Januari 2025 memutuskan untuk memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75%. Keputusan itu disampaikan oleh Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers RDG sebelumnya di Kantor BI.
"Berdasarkan asesmen menyeluruh dan proyeksi mengenai perekonomian di global maupun nasional, Rapat Dewan Gubernur memutuskan untuk menurunkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75%," kata Perry saat itu.
Selain memangkas BI Rate di level 5,75%, Dewan Gubernur BI memutuskan untuk menurunkan suku bunga deposit facility dan suku bunga lending facility. Perry mengatakan RDG BI periode Januari memutuskan untuk menurunkan suku bunga deposit facility 25 bps ke level 5%. Suku bunga lending facility juga turun 25 bps menjadi 6,50%.
Deflasi Bulanan Januari
Sementara itu, pada kesempatan terpisah sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pada Januari 2025 terjadi deflasi 0,76% secara bulanan. Hal ini berbalik arah dari Desember 2024 yang terjadi inflasi 0,44% secara bulanan.
“Terjadi deflasi di Januari 2025, berbeda dengan bulan sebelumnya dan bulan yang sama tahun 2024 yang mengalami inflasi. Deflasi secara bulanan pada Januari 2025 terjadi karena turunnya Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 106,8 pada Desember 2024 menjadi 105,99 pada Januari,” kata Plt Kepala Badan Pusat Statistik Amalia Adininggar Widyasanti, di Kantor BPS, Jakarta, Senin (03/02/2025).
BPS mencatat, inflasi secara tahunan sebesar 0,76% pada Januari 2025. Sedangkan secara tahun kalender terjadi deflasi 0,76%.
“Pada Januari 2025, angka deflasi secara bulanan dan tahun kalender sama. Ini karena pembandingnya sama, yaitu bulan Desember 2024,” kata Amalia.
Notulen Lengkap Rapat BI
Berikut adalah notulen lengkap Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 18-19 Februari 2025:
1. Memutuskan mempertahankan BI-Rate 5,75%, suku bunga Deposit Facility 5,00%, dan suku bunga Lending Facility 6,50%.
Keputusan ini konsisten dengan upaya menjaga prakiraan inflasi 2025 dan 2026 tetap terkendali dalam sasaran 2,5±1%, serta stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamental di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. Selain itu, turut mendorong pertumbuhan ekonomi.
Ke depan, Bank Indonesia terus mencermati prospek inflasi dan pertumbuhan ekonomi dalam memanfaatkan ruang penurunan suku bunga BI Rate dengan mempertimbangkan pergerakan nilai tukar rupiah. Sementara itu, kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran terus diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) ditingkatkan, untuk lebih mendorong kredit/pembiayaan perbankan kepada sektor-sektor prioritas pertumbuhan dan penciptaan lapangan kerja, sejalan dengan program Asta Cita Pemerintah. Kebijakan sistem pembayaran juga diarahkan untuk turut menopang pertumbuhan, khususnya sektor perdagangan serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), dengan memperkuat keandalan infrastruktur dan struktur industri sistem pembayaran, serta memperluas akseptasi digitalisasi sistem pembayaran.
Arah bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran untuk menjaga stabilitas dalam rangka memperkuat pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan tersebut didukung dengan langkah-langkah kebijakan sebagai berikut:
- 1.Penguatan strategi operasi moneter pro-market untuk memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter, mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing (valas), serta mendorong aliran masuk modal asing, dengan:
- a.Mengoptimalkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI), dan Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI) sebagai instrumen moneter pro-market.
- b.Menjaga struktur suku bunga instrumen moneter untuk tetap menarik aliran masuk portofolio asing ke aset keuangan domestik.
- c.Memperkuat strategi transaksi term-repo dan swap valas.
- d.Memperkuat peran Primary Dealer (PD) untuk meningkatkan transaksi SRBI di pasar sekunder dan transaksi repurchase agreement (repo) antarpelaku pasar.
- 2.Penguatan strategi stabilisasi nilai tukar rupiah yang sesuai dengan fundamental, melalui intervensi di pasar valas pada transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Perkembangan potensi imbal hasil investasi saham dalam negeri dengan mengacu indikator IHSG Bursa Efek Indonesia, yield SRBI, dan return SBN. Infografis: Diolah Riset Investortrust. - 3.Perluasan instrumen penempatan dan pemanfaatan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) untuk mendukung pelaksanaan kebijakan kewajiban penyimpanan DHE SDA di dalam negeri sesuai PP No 8 Tahun 2025, meliputi:
- a.Penempatan di instrumen Term Deposit (TD) valas DHE hingga tenor 12 bulan.
- b.Penempatan di instrumen SVBI dan SUVBI hingga tenor 12 bulan.
- c.Pemanfaatan melalui: a) Pengalihan TD Valas DHE menjadi FX Swap; b) FX Swap lindung nilai dengan underlying TD Valas DHE; c) TD Valas DHE, SVBI, dan SUVBI dapat dijadikan agunan kredit rupiah dari bank.
- 4.Peningkatan insentif Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) dari paling besar 4% menjadi paling besar 5% dari DPK. Ini di antaranya besaran insentif KLM pada sektor perumahan, termasuk perumahan rakyat, dinaikkan secara bertahap dari Rp 23 triliun menjadi sekitar Rp 80 triliun, untuk mendukung program Asta Cita pemerintah di bidang perumahan, yang berlaku mulai 1 April 2025.
- 5.Penguatan publikasi asesmen transparansi Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) dengan pendalaman pada suku bunga kredit berdasarkan sektor prioritas yang menjadi cakupan KLM.
- 6.Perluasan akseptasi digital sebagai komitmen Bank Indonesia untuk mendukung penyediaan layanan umum pemerintah kepada masyarakat melalui kebijakan skema harga QRIS untuk kriteria merchant Badan Layanan Umum (BLU) dan Public Service Obligation (PSO), dari 0,4% menjadi 0%, yang akan berlaku mulai 14 Maret 2025, bersamaan dengan launching QRIS Tap (tanpa pindai).
- 7.Penguatan dan perluasan kerja sama internasional di area kebanksentralan, termasuk konektivitas sistem pembayaran dan transaksi menggunakan mata uang lokal.
Area ini mencakup (i) kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah dalam memitigasi gejolak global; (ii) koordinasi kebijakan moneter dan fiskal; (iii) upaya mendorong pembiayaan ekonomi melalui KLM; (iv) dukungan dalam mengakselerasi transformasi digital pemerintah; (v) upaya memperkuat hilirisasi dan ketahanan pangan, (vi) dukungan dalam mendorong pengembangan ekonomi hijau, syariah, dan inklusi; serta (vii) dukungan dalam pembangunan sumber daya manusia.
Selain itu, Bank Indonesia terus mempererat sinergi kebijakan dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Ini untuk menjaga stabilitas sistem keuangan.
2.Divergensi ekonomi dunia berlanjut dengan ketidakpastian global yang tetap tinggi.
Perekonomian Amerika Serikat diprakirakan tetap kuat. Hal ini ditopang oleh konsumsi rumah tangga, seiring upah dan produktivitas yang tinggi serta perbaikan investasi.
Sementara itu, ekonomi Eropa, Tiongkok, dan Jepang masih lemah dipengaruhi permintaan domestik yang belum kuat serta kinerja eksternal yang menurun. Ini sejalan dengan perekonomian global yang melambat dan dampak dari implementasi kenaikan tarif impor oleh AS. Ekspansi ekonomi India juga tertahan akibat proses konsolidasi fiskal dan investasi yang belum kuat. Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi dunia 2025 diprakirakan sebesar 3,2%.
Di sisi lain, ketidakpastian pasar keuangan global tetap tinggi. Ini dipengaruhi kebijakan kenaikan tarif impor AS yang lebih cepat dan luas dari prakiraan, serta arah kebijakan bank sentral AS.
Pertumbuhan ekonomi dan inflasi AS yang tinggi berdampak pada ekspektasi penurunan Fed Funds Rate (FFR) yang lebih terbatas. Kebijakan fiskal AS yang lebih ekspansif mendorong yield US Treasury tetap tinggi, meskipun sedikit menurun akibat meningkatnya permintaan investor global terhadap US Treasury.
Perkembangan tersebut menyebabkan besarnya preferensi investor global untuk menempatkan portofolionya ke AS. Indeks mata uang dolar AS masih tinggi dan menekan berbagai mata uang dunia. Ketidakpastian global yang tetap tinggi terus memerlukan respons kebijakan yang kuat, sehingga dapat memitigasi dampak rambatannya untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.
3.Pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan perlu terus didorong.
Pada triwulan IV-2024, pertumbuhan tercatat sebesar 5,02% (yoy). Ini meningkat dari 4,95% (yoy) pada triwulan sebelumnya, sehingga secara keseluruhan tahun 2024 mencapai 5,03% (yoy).
Pertumbuhan terutama disumbang oleh permintaan domestik, sejalan meningkatnya konsumsi rumah tangga dan tetap baiknya investasi. Dari sisi Lapangan Usaha (LU), LU Industri Pengolahan dan LU Perdagangan sebagai kontributor utama pertumbuhan juga tumbuh baik, sejalan dengan permintaan domestik yang terjaga. Secara spasial, kinerja pertumbuhan tertinggi tercatat di wilayah Sulawesi-Maluku-Papua (Sulampua).
Ke depan, Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi 2025 dalam kisaran 4,7–5,5% (yoy). Prospek ini dipengaruhi oleh prakiraan peningkatan investasi, terutama investasi nonbangunan. Sementara itu, konsumsi rumah tangga perlu didorong sehingga dapat makin menopang permintaan domestik.
Dari eksternal, berbagai upaya untuk memperkuat ekspor perlu terus ditingkatkan, guna memitigasi dampak melambatnya permintaan negara-negara mitra dagang utama. Dalam kaitan ini, Bank Indonesia terus mengoptimalkan bauran kebijakannya untuk tetap menjaga stabilitas dan turut mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Stimulus kebijakan makroprudensial dan akselerasi digitalisasi transaksi pembayaran diperkuat, sehingga bersinergi dengan stimulus fiskal pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Lebih dari itu, Bank Indonesia mendukung penuh implementasi program Asta Cita pemerintah, termasuk untuk pembiayaan ekonomi, digitalisasi, serta hilirisasi dan ketahanan pangan.
4.Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) tetap baik, mendukung ketahanan eksternal.
NPI pada 2024 diprakirakan mencatat surplus, seiring dengan defisit transaksi berjalan yang terjaga dan surplus transaksi modal dan finansial yang berlanjut. Surplus neraca perdagangan berlanjut pada Januari 2025 sebesar US$ 3,5 miliar, meningkat dibandingkan dengan surplus bulan sebelumnya.
Perkembangan ini antara lain didukung oleh ekspor beberapa komoditas. Ini seperti logam mulia dan perhiasan/permata, produk kimia, serta karet dan barang dari karet.
Di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan global, aliran modal asing ke investasi portofolio hingga pertengahan triwulan I-2025 (hingga 17 Februari) mencatat net inflows US$ 1,5 miliar. Perkembangan ini antara lain dipengaruhi oleh aliran masuk modal asing ke instrumen SBN yang secara neto tercatat 0,5 miliar dolar AS.
Posisi cadangan devisa Indonesia pada Januari 2025 tercatat tinggi sebesar US$ 156,1 miliar. Ini setara dengan pembiayaan 6,7 bulan impor atau 6,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Selain itu, berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Secara keseluruhan, NPI 2025 diprakirakan terjaga, didukung oleh defisit transaksi berjalan yang tetap sehat dalam kisaran defisit 0,5% sampai dengan 1,3% dari produk domestik bruto (PDB), serta berlanjutnya surplus transaksi modal dan finansial. Prakiraan pada surplus transaksi modal dan finansial dipengaruhi oleh persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian domestik yang tetap baik, dan imbal hasil investasi yang menarik.
5. Rupiah terkendali.
Di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi, nilai tukar rupiah terkendali dengan kecenderungan menguat pada Februari 2025, ditopang komitmen kuat kebijakan Bank Indonesia. Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS pada Februari 2025 (hingga 18 Februari 2025) menguat sebesar 0,15% (point to point/ptp), dibandingkan dengan level nilai tukar akhir Januari 2024.
Perkembangan tersebut sejalan konsistensi kebijakan stabilisasi Bank Indonesia, serta didukung oleh aliran masuk modal asing yang masih berlanjut. Hal ini seiring imbal hasil instrumen keuangan domestik yang menarik, serta prospek ekonomi Indonesia yang tetap baik.
Di tengah perkembangan tersebut, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah 1,06% (ytd) dari level akhir Desember 2024. Namun demikian, frupiah relatif stabil bila dibandingkan dengan kelompok mata uang negara berkembang mitra dagang utama Indonesia, sedangkan terhadap kelompok mata uang negara maju di luar dolar AS tetap berada dalam tren menguat.
Ke depan, nilai tukar rupiah diprakirakan stabil didukung komitmen Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, dan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik. Seluruh instrumen moneter akan terus dioptimalkan, termasuk penguatan strategi operasi moneter pro-market melalui optimalisasi instrumen SRBI, SVBI, dan SUVBI, untuk memperkuat efektivitas kebijakan dalam menarik aliran masuk investasi portofolio asing dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.
Penguatan kebijakan pemerintah terkait DHE SDA yang berlaku mulai 1 Maret 2025 diprakirakan akan turut mendukung stabilitas nilai tukar rupiah ke depan.
6.Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Januari 2025 menurun.
Inflasi IHK pada Januari 2025 sebesar 0,76% year on year. Ini lebih rendah dari realisasi bulan sebelumnya sebesar 1,57% (yoy).
Penurunan terutama dipengaruhi oleh dampak positif implementasi kebijakan diskon tarif listrik untuk rumah tangga dengan daya terpasang listrik < 2.200 VA. Hal ini mendorong komponen administered prices (AP) mengalami deflasi 6,41% (yoy).
Sementara itu, inflasi inti tetap terkendali pada level 2,36% (yoy). Ini sejalan dengan konsistensi suku bunga kebijakan Bank Indonesia (BI Rate) untuk mengarahkan ekspektasi inflasi.
Inflasi kelompok volatile food (VF) juga terkendali sebesar 3,07% (yoy), didukung oleh sinergi erat Bank Indonesia bersama TPIP dan TPID melalui GNPIP di berbagai daerah. Ke depan, Bank Indonesia meyakini inflasi IHK tetap terkendali dalam sasaran 2,5±1%.
Inflasi inti diprakirakan terjaga seiring ekspektasi inflasi yang terjangkar dalam sasaran, kapasitas perekonomian yang masih besar dan dapat merespons permintaan domestik, imported inflation yang terkendali sejalan dengan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah Bank Indonesia, serta dampak positif berkembangnya digitalisasi. Inflasi VF diprakirakan terkendali didukung oleh sinergi pengendalian inflasi Bank Indonesia dan Pemerintah Pusat dan Daerah.
Bank Indonesia juga terus berkomitmen memperkuat efektivitas kebijakan moneter guna menjaga inflasi tahun 2025 dan 2026 terkendali dalam sasaran 2,5±1%, dengan tetap mendukung upaya turut mendorong pertumbuhan ekonomi.
7.Strategi operasi moneter pro-market diperkuat untuk meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan.
Strategi operasi moneter pro-market diperkuat untuk meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan. Ini untuk memastikan pencapaian sasaran inflasi dan stabilitas nilai tukar rupiah.
Kebijakan tersebut juga dimaksudkan untuk mempercepat upaya pendalaman pasar uang dan pasar valas, serta mendorong aliran masuk modal asing ke dalam negeri. Hingga 17 Februari 2025, posisi instrumen SRBI, SVBI, dan SUVBI masing-masing tercatat sebesar Rp 892,90 triliun, US$ 3,03 miliar, dan US$ 587 juta.
Penerbitan SRBI telah mendukung aliran masuk portofolio asing ke dalam negeri dan stabilitas nilai tukar rupiah. Kepemilikan non-resident dalam SRBI per tanggal 17 Februari 2025 mencapai Rp 225,35 triliun (25,24% dari total outstanding).
Implementasi dealer utama (primary dealer) sejak Mei 2024 juga makin meningkatkan transaksi SRBI di pasar sekunder dan repurchase agreement (repo) antarpelaku pasar. Hal ini memperkuat efektivitas instrumen moneter dalam stabilisasi nilai tukar rupiah dan pengendalian inflasi.
Di samping itu, Bank Indonesia melakukan pembelian SBN dari pasar sekunder untuk memperkuat operasi moneter, sekaligus sinergi erat dengan kebijakan fiskal pemerintah. Selama tahun 2025 (hingga 17 Februari), Bank Indonesia telah membeli SBN sebesar Rp 32,46 trilliun, yaitu melalui pasar sekunder sebesar Rp 19,46 trilliun dan pasar primer sebesar Rp 12,99 trilliun.
Ke depan, Bank Indonesia terus mengoptimalkan strategi operasi moneter pro-market, untuk meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan moneter, mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas, serta mendorong aliran masuk modal asing. BI akan terus berkoordinasi erat dengan kebijakan fiskal pemerintah.
8.Transmisi kebijakan moneter berjalan baik ke pasar uang dan pasar keuangan.
Sejalan dengan penurunan BI Rate pada Januari 2025, suku bunga pasar uang (IndONIA) bergerak turun, yaitu 5,70% pada 18 Februari 2025, dari semula sebesar 6,02% pada awal Januari 2025. Suku bunga SRBI untuk tenor 6, 9, dan 12 bulan tanggal 14 Februari 2025 juga menurun, namun tetap tercatat tetap menarik untuk mendukung aliran masuk modal asing dari masing-masing 7,16%; 7,20%; dan 7,27% pada awal Januari 2025 menjadi 6,38%; 6,42%; dan 6,46%.
Imbal hasil SBN tenor 2 tahun dan 10 tahun per 18 Februari 2025 juga menurun namun tetap menarik. Ini dari masing-masing 6,96% dan 6,98% pada awal Januari 2025 menjadi sebesar 6,44% dan 6,76%.
Sementara itu, likuiditas perbankan memadai sejalan dengan implementasi penguatan KLM, serta didukung oleh efisiensi perbankan dalam pembentukan harga yang makin baik dengan kebijakan transparansi SBDK. Hal ini berdampak positif pada suku bunga perbankan yang tetap terjaga. Suku bunga deposito 1 bulan dan suku bunga kredit pada Januari 2025 tercatat masing-masing sebesar 4,81% dan 9,20%, relatif stabil dibandingkan dengan level bulan sebelumnya.
9.Kredit perbankan tetap kuat mendukung pertumbuhan ekonomi.
Pada Januari 2025, pertumbuhan kredit mencapai 10,27% (yoy). Hal ini didorong oleh sisi penawaran dan permintaan.
Dari sisi penawaran, pertumbuhan kredit ditopang oleh realokasi alat likuid ke kredit oleh perbankan yang masih berlanjut, dukungan pendanaan dari pertumbuhan DPK yang masih terjaga, serta ketersediaan likuiditas yang tetap baik. Hal itu sejalan dengan implementasi penguatan KLM.
Dari sisi permintaan, pertumbuhan kredit didukung oleh kinerja penjualan korporasi yang masih tumbuh positif, di tengah konsumsi rumah tangga yang terbatas. Berdasarkan kelompok penggunaan, pertumbuhan kredit modal kerja, kredit investasi, dan kredit konsumsi masing-masing sebesar 8,40% (yoy), 13,22% (yoy), dan 10,37% (yoy).
Pembiayaan syariah juga tumbuh sebesar 9,71% (yoy), sementara kredit UMKM tumbuh 2,88% (yoy). Ke depan, Bank Indonesia akan turut mendorong pertumbuhan kredit melalui berbagai kebijakan makroprudensial yang akomodatif, sehingga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi.
10.Bank Indonesia terus memperkuat efektivitas implementasi KLM.
Mulai 1 Januari 2025, KLM diarahkan untuk mendorong kredit perbankan untuk mendukung pertumbuhan dan penciptaan lapangan kerja. Insentif KLM telah disalurkan pada sektor-sektor yang mendukung pertumbuhan dan penciptaan lapangan kerja, antara lain sektor pertanian, perdagangan dan manufaktur, transportasi, pergudangan dan pariwisata dan ekonomi kreatif, konstruksi, real estate, dan perumahan rakyat, serta UMKM, ultramikro, dan hijau.
Hingga minggu kedua Februari 2025, Bank Indonesia telah memberikan insentif KLM sebesar Rp 295 triliun. Angka ini meningkat sebesar Rp 36 triliun dari Rp 259 triliun pada akhir Oktober 2024.
Insentif itu telah diberikan kepada kelompok bank badan usaha milik negara (BUMN) sebesar Rp 129,2 triliun, bank badan usaha milik swasta (BUSN) sebesar Rp 131,9 triliun, bank pembangunan daerah (BPD) sebesar Rp 28,7 triliun, dan kantor cabang bank asing (KCBA) sebesar Rp 4,9 triliun.
Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah untuk mendukung kesuksesan program-program dalam Asta Cita. Ini melalui peningkatan KLM, guna mendorong pertumbuhan kredit/pembiayaan perbankan pada sektor-sektor prioritas, termasuk sektor perumahan dan pertanian.
11.Ketahanan perbankan tetap kuat.
Likuiditas perbankan memadai, tecermin dari rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) pada Januari 2025 yang tinggi sebesar 26,03%. Dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan pada Desember 2024 tercatat tinggi sebesar 26,69%. Ini ditopang rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) perbankan pada Desember 2024 yang terjaga rendah, sebesar 2,08% (bruto) dan 0,74% (neto).
Hasil stress-test Bank Indonesia menunjukkan ketahanan perbankan yang tetap kuat dalam menghadapi berbagai risiko, serta ditopang oleh kemampuan membayar dan profitabilitas korporasi yang terjaga. Bank Indonesia akan terus memperkuat sinergi kebijakan bersama KSSK dalam memitigasi berbagai risiko yang dapat mengganggu ketahanan perbankan dan stabilitas sistem keuangan, secara keseluruhan.
12.Kinerja transaksi ekonomi dan keuangan digital pada Januari 2025 tetap tumbuh.
Kinerja transaksi ekonomi dan keuangan digital pada Januari 2025 tetap tumbuh, didukung oleh sistem pembayaran yang aman, lancar, dan andal. Dari sisi transaksi, pembayaran digital mencapai 3,5 miliar transaksi atau tumbuh 35,3% (yoy), yang didukung oleh seluruh komponennya.
Volume transaksi pada aplikasi mobile dan volume transaksi pada internet terus meningkat. Pada Januari 2025, masing-masing tumbuh sebesar 29,7% (yoy) dan 19,8% (yoy).
Selain itu, volume transaksi pembayaran digital melalui QRIS tetap tumbuh pesat sebesar 170,1% (yoy). Hal ini didukung peningkatan jumlah pengguna dan merchant.
Dari sisi infrastruktur, volume transaksi ritel yang diproses melalui BI-FAST mencapai 338,5 juta transaksi atau tumbuh 41,5% (yoy), dengan nilai mencapai Rp 870,9 triliun pada Januari 2025. Sedangkan volume transaksi nilai besar yang diproses melalui BI-RTGS turun sebesar 9,0% (yoy) menjadi 799,3 ribu transaksi, dengan nilai Rp 15.880 triliun pada Januari 2025.
Sementara itu, dari sisi pengelolaan uang rupiah, Uang Kartal yang Diedarkan (UYD) tumbuh 11,0% (yoy) menjadi Rp 1.127,6 triliun pada Januari 2025.
13.Stabilitas sistem pembayaran tetap terjaga.
Stabilitas sistem pembayaran tetap terjaga, ditopang oleh infrastruktur yang stabil dan struktur industri yang sehat. Dari sisi infrastruktur, stabilitas sistem pembayaran tecermin pada penyelenggaraan Sistem Pembayaran Bank Indonesia (SPBI) yang lancar dan andal, serta kecukupan pasokan uang dalam jumlah dan kualitas yang memadai pada Januari 2025.
Dari sisi struktur industri, interkoneksi antarpelaku dalam sistem pembayaran terus menguat, diikuti oleh ekosistem Ekonomi Keuangan Digital (EKD) yang meluas. Transaksi pembayaran berbasis Standar Nasional Open API Pembayaran (SNAP) juga meningkat, sejalan dengan perluasan tingkat adopsi.
Bank Indonesia juga terus menjaga ketersediaan uang rupiah dalam jumlah yang cukup dengan kualitas yang layak edar di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), termasuk daerah Terdepan, Terluar, Terpencil (3T). Hal ini juga dilakukan selama periode Ramadhan dan Idul Fitri (RAFI), melalui program Semarak Rupiah Ramadhan dan Berkah Idul Fitri (Serambi) 2025.

