Sektor Manufaktur Terus Merosot, Target Pertumbuhan Ekonomi 8% Jadi Taruhan
JAKARTA, investortrust.id - Ekonom senior Raden Pardede mengungkapkan, sektor manufaktur Indonesia terus mengalami kemerosotan dan sulit kembali mendapatkan momentum. Hal ini dinilai berbahaya, terlebih pemerintah sedang mengejar target pertumbuhan ekonomi 8%.
Raden memaparkan, pada medio 1988-1996 rata-rata pertumbuhan manufaktur Indonesia mencapai 10,8%. Hal tersebut berkontribusi terhadap rata-rata pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang mencapai 7,1%.
Baca Juga
Ketum Kadin Sebut Adaptifnya Tenaga Kerja pada Teknologi Bisa Ikut Pertahankan Kinerja Manufaktur
“Sumber pertumbuhan saat kita bertumbuh cepat adalah manufaktur. Adapun manufaktur kita pada 1988 sampai 1996, rata-rata pertumbuhannya 10,8%. Ekspor saat itu 14%,” ungkap Raden dalam acara seminar Economic Outlook 2025 dengan tema ‘Menggali Sumber Ekonomi Potensial Menuju Pertumbuhan 8%,’ Jakarta, Kamis (13/2/2025).
Sementara itu, pada medio 2000-2023, rata-rata pertumbuhan manufaktur hanya 4,3%, sedangkan rata-rata pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) 4,9%. Kondisi ini yang menurut Raden perlu menjadi perhatian pemerintah.
“Jadi kalau ditanya, apakah kita bisa me-refine strategi kita supaya manufaktur bisa bertumbuh di 10,8%? Sekarang itu di 4,8%, 4,7%, di bawah PDB rata-rata. Dahulu manufaktur sebagai the engine of growth, yang mendorong ekonomi semuanya,” ujar Tim Asistensi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.
Baca Juga
Kemenperin: PMI Manufaktur RI bisa Lebih Tinggi, Jika Relaksasi Impor Dicabut
Raden menyayangkan Indonesia gagal memanfaatkan boom manufaktur akibat teknologi baru yang terjadi belakangan ini. Dia menyebut, negara ASEAN yang mendapatkan benefit dari kondisi tersebut adalah Vietnam dan Malaysia.
“Indonesia tidak mendapatkan, demikian juga Thailand. Jadi relokasi industri dan semikonduktor yang booming akhir-akhir ini, kita tidak kecipratan. Vietnam dan Malaysia mendapatkan,” sebut Raden.
Kendati demikian, Indonesia masih memiliki peluang untuk memanfaatkan kondisi ini dan kecipratan boom manufaktur. “Malaysia maupun Vietnam sebetulnya sudah hampir tenggelam. Dia tidak mampu lagi untuk meng-absorb lebih banyak. Jadi ini menjadi peluang buat kita. Relokasi menjadi peluang,” kata dia.

