Bunga Surat Utang Indonesia Tertinggi di Kawasan, 2 Kali Filipina
JAKARTA, investortrust.id - Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menyebut bunga surat utang Indonesia tertinggi di kawasan. Bunga pasar riil surat utang negara (SUN) tenor 1 tahun Indonesia saat ini sekitar 5,42%, dua kali Filipina.
“Bunga surat utang RI lebih tinggi dari negara-negara lain. Padahal, negara lain itu mempunyai rating S&P yang dekat atau sama dengan kita,” kata Wijayanto dalam "Evaluasi Kritis 100 Hari Pemerintahan Prabowo bidang Ekonomi", diakses Kamis (23/1/2025).
Baca Juga
Filipina 2,7%
Indonesia yang memiliki rating kredit BBB menempati posisi pertama jika dibandingkan dengan Filipina yang memiliki rating BBB+ dengan bunga pasar riil SUN tenor 1 tahun sebesar 2,7%. India yang memiliki rating BBB- memiliki bunga pasar riil SUN tenor 1 tahun sebesar 1,38%.
"Rata-rata bunga pasar riil SUN tenor 1 tahun untuk tujuh negara di kawasan, yaitu Indonesia, Filipina, Malaysia, India, Singapura, Thailand, Korea Selatan, dan Vietnam sebesar 1,74%," ujar Wijayanto.
SRBI Disorot
Wijayanto memaparkan Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menjadi salah satu portofolio yang banyak dimiliki investor asing. Dengan kondisi ini ada kekhawatiran risiko yang muncul yaitu jika terjadi pembalikan kepercayaan dari investor.
“Kalau ada reversal, tiba-tiba tingkat kepercayaan kita turun karena ada kesempatan di luar negeri yang lebih bagus,” ucap dia.
Wijayanto berharap kondisi ini dapat menjadi perhatian dari pemerintah. Terutama dalam upaya untuk memastikan investor memiliki kepercayaan terhadap Indonesia.
“Karena kalau kepercayaan sudah hilang, sulit untuk menahan mereka. Walaupun dengan bunga yang tinggi,” kata dia.
Baca Juga
Potensi Crowding Out
Sebelumnya, Wijayanto mengatakan komposisi perbankan yang membeli SBN dan SRBI yang cukup besar dapat mendorong potensi crowding out. “(Mereka mempertimbangkan) daripada mereka (bank) memberikan kredit kepada sektor riil, belikan saja SRBI dan SBN bunganya di atas 7%, dan zero risk,” kata dia.
Wijayanto menelisik kondisi perbankan yang membeli SRBI dan SBN dalam jumlah besar dapat dilihat dari porsi utang pemerintah yang melejit. Data kuartal III-2024, menunjukkan porsi utang pemerintah didominasi SBN sebesar 87,7% atau Rp 7.483 triliun. Sementara, pinjaman hanya 12,3% atau Rp 1.046 triliun.
“Dulu (porsinya) kira-kira 50%-50%. Utang dari SBN itu mudah. Kalau pinjaman, kita harus menulis proposal, harus lobi. Ada pengawasan dari donor,” ujar dia.

