Cadangan Devisa Indonesia: Cukupkah Menopang Rupiah?
Baca Juga
Sementara itu, ekspor Indonesia pada tahun 2024 baru senilai US$ 264,7 miliar, naik tipis dari tahun 2023. Tapi, ekspor itu turun dari US$ 292,9 miliar tahun 2022, saat pandemi Covid-19 masih mendera sebagian besar belahan dunia.
"Presiden Trump dikabarkan akan melakukan penyesuaian tarif bea masuk impor terhadap sejumlah negara dan yang termasuk menjadi sorotan adalah perang dagangnya dengan China. Kalau kami dengar banyak negara lain yang akan dikenakan (kenaikan) bea masuk ke AS, mudah-mudahan kita enggak. Jadi, ini justru bisa ada peluang untuk masuk (meningkatkan ekspor) ke sana," ucap Mendag Budi di Kantor Kemendag, Jakarta, Rabu (22/01/2025).
Pada Desember tahun 2024, cadangan devisa mencapai US$ 155,7 miliar atau mencetak rekor tertinggi baru. Cadev ini meningkat dibanding bulan sebelumnya sebesar US$ 150,2 miliar.
Baca Juga
Ekspor Indonesia hanya lebih baik dari Filipina sebesar US$ 38,41 miliar, Myanmar US$ 12,05 miliar, Kamboja US$ 6,56 miliar, dan Laos US$ 2,29 miliar. Selain itu, Brunei senilai US$ 0,18 miliar yang di peringkat buncit.
Maksimal Manfaatkan Peluang
"Bagi negara seperti Indonesia, perubahan ini menghadirkan tantangan sekaligus peluang. Negara-negara dengan keunggulan strategis dan potensi yang belum dimanfaatkan seperti Indonesia, dapat menggunakan momen ini untuk mempercepat pertumbuhan dan pengaruh di global," katanya kepada Investortrust, Selasa (21/01/2025).
Teguh mengatakan, Indonesia harus memperluas kemitraan global. RI harus memanfaatkan keikutsertaan dalam BRICS, guna memperkuat kemitraan dengan negara-negara sedang berkembang pesat dan berpenduduk banya seperti Tiongkok, India, Rusia, Brasil, dan Afrika Selatan.
"Hubungan yang lebih kuat dengan Tiongkok, India, Rusia, Brasil, dan Afrika Selatan ini dapat membuka pintu menuju pasar baru. Selain itu, meningkatkan investasi dan transfer teknologi," ujarnya.
Indonesia juga harus mengintensifkan upaya untuk mendiversifikasi mitra perdagangan dan investasi. Hal ini dilakukan dengan menjalin hubungan lebih erat dengan Uni Eropa, Afrika, dan Amerika Latin, sambil mempertahankan hubungan yang kuat dengan sekutu lama seperti Jepang, Korea Selatan, dan Australia.
"Indonesia perlu pula mengambil peran kepemimpinan yang proaktif dalam inisiatif regional, guna membentuk masa depan Asia Tenggara di bidang perdagangan, keamanan, dan inovasi, serta memastikan kepentingan RI berada di garis depan kebijakan regional. Kepemimpinan ini dapat diperkuat melalui inisiatif yang dipimpin ASEAN, seperti Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) yang sejalan dengan tujuan Indonesia memperdalam integrasi perdagangan," paparnya.
Jadikan RI Pusat Rantai Pasok Global
Teguh menjelaskan, “America First” itu telah menciptakan gangguan rantai pasok global, di mana Trump berencana menaikkan tinggi tarif impor dengan sasaran utama produk-produk Tiongkok. Hal itu, antara lain, karena AS sudah lama menanggung defisit neraca perdagangan yang luar biasa besar dengan China.
Akibatnya, perusahaan-perusahaan multinasional berusaha mencari alternatif basis produksi yang tidak bergantung pada Tiongkok, yang selama ini memiliki manufaktur sekaligus eksportir terbesar dunia. "Indonesia dapat memanfaatkan peluang ini dengan memasarkan diri sebagai pusat manufaktur dan logistik yang andal. Dengan reformasi kebijakan yang ditargetkan, pembangunan infrastruktur, dan insentif bagi investor asing yang lebih baik, Indonesia dapat menarik perusahaan yang mencari solusi rantai pasokan yang terdiversifikasi. Pembangunan kawasan ekonomi baru yang sedang berlangsung, seperti Kawasan Industri Terpadu Batang, harus dipercepat untuk memenuhi permintaan global," ujarnya.
Dengan meningkatkan inovasi, teknologi, digitalisasi, dan investasi di sektor strategis, maka Indonesia dapat menciptakan nilai tambah lebih tinggi sehingga dapat menggenjot ekspor dan surplus neraca perdagangan. Hal ini akan mendukung peningkatan cadangan devisa dan stabilisasi nilai tukar rupiah.
Dukungan BI
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, pihaknya siap mendukung pemerintah untuk meningkatkan inovasi, teknologi, digitalisasi, dan investasi di sektor strategis yang memberikan nilai tambah lebih tinggi. Hal ini antara lain dilakukan lewat Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) kepada perbankan sebesar Rp 295 triliun.
"BI mendukung program-program dalam mendorong kredit ke sektor-sektor prioritas, melalui insentif KLM. Kami terus mendukung program-program Astacita pemerintah RI untuk mendorong sektor riil melalui insentif KLM. Kami juga mendorong hilirisasi, pertanian khususnya," kata Perry.
BI juga mendukung akselerasi digitalisasi ekonomi yang tertuang dalam Astacita. Selain dukungan-dukungan tersebut, lanjut Perry, BI sedang mempersiapkan bentuk dukungan lainnya, termasuk menyiapkan instrumen baru untuk menempatkan devisa hasil ekspor (DHE) sumber daya alam (SDA) melalui Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI) dan Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI).
Stabilisasi Rupiah
Perry juga menjelaskan upaya BI untuk menjaga nilai tukar rupiah. "BI berkomitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, stabilitas moneter, serta stabilitas sistem keuangan bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Komitmen kami di Bank Indonesia terus memastikan rupiah itu stabil. Tentu saja, ini sejalan dengan mata uang regional di tengah tekanan dolar yang terus kuat,” kata Perry di Jakarta, Rabu (22/01/2025).
| Perkembangan rupiah terhadap USD berdasarkan kurs Jisdor BI dalam lima tahun terakhir, hingga 21 Januari 2025. Infografis: Diolah Riset Investortrust. |
Baca Juga
Perry menjelaskan bahwa komitmen BI untuk terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dilakukan melalui intervensi di pasar spot dan forward. Selain itu, pembelian Surat Berharga Negara (SBN) dari pasar sekunder.
"BI juga terus berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan, pembelian SBN dari pasar sekunder oleh Bank Indonesia telah disepakati melalui mekanisme pertukaran SBN secara bilateral (bilateral buyback/debt switching). Dengan langkah ini, BI juga turut mendukung pembiayaan fiskal bisa didorong. Bank Indonesia tahun 2025 akan melakukan pembelian SBN dari pasar sekunder termasuk debt switching. Dari SBN Covid-19 yang jatuh tempo tahun ini, kurang lebih Rp 100 triliun. Bahkan, kami berkomitmen untuk membeli SBN dari pasar sekunder lebih dari itu," ujar Perry.
DHE Potensi Tambah Devisa Rp 90 Triliun
Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyambut baik kebijakan terbaru DHE Sumber Daya Alam (SDA), yang mewajibkan eksportir menempatkan DHE 100% minimal satu tahun. Kebijakan tersebut diyakini dapat menambah cadangan devisa Indonesia hingga US$ 90 miliar per tahun.
“Kalau reguler biasanya kena pajak 20%. Tapi DHE tidak dikenai pajak atau 0%,” kata Airlangga di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (21/01/2025).

