Suku Bunga Turun, Penerbitan Surat Utang Korporasi untuk Refinancing Meningkat Tajam
JAKARTA, investortrust.id – Penurunan suku bunga acuan mendorong peningkatan penerbitan surat utang korporasi untuk refinancing sepanjang Januari–September 2025. Berdasarkan data PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), porsi penerbitan surat utang untuk refinancing naik menjadi 30,4% dari total Rp 160,1 triliun atau sekitar Rp48,65 triliun, dibandingkan periode sama tahun lalu hanya 24,5% atau Rp 23,23 triliun.
Kepala Divisi Riset Ekonomi Pefindo Suhindarto menjelaskan, peningkatan ini sejalan dengan kebijakan Bank Indonesia (BI) yang telah memangkas suku bunga acuan sebanyak lima kali hingga akhir kuartal III-2025.
Baca Juga
IHSG Ditutup Melesat 73 Poin, Banyak Saham ARA Dipimpin Emiten CPO
“Perusahaan mulai melakukan refinancing surat utang yang sebelumnya diterbitkan saat bunga tinggi, diganti dengan kupon lebih rendah seperti saat ini,” ujar Darto dalam konferensi pers virtual, Kamis (16/10/2025).
Sebaliknya, penerbitan surat utang untuk modal kerja justru turun dari 65,4% pada Januari–September 2024 menjadi 61,5% pada periode yang sama tahun ini. Dari total surat utang korporasi yang diterbitkan, 83,17% di antaranya telah mendapat peringkat dari Pefindo, dengan komposisi single rating sekitar 70% dan dual rating sebesar 13,52%.
Baca Juga
Berdasarkan sektor, perbankan menjadi penerbit terbesar dengan nilai Rp27,8 triliun dari sembilan perusahaan. Disusul pulp dan kertas sebesar Rp25,1 triliun dari empat perusahaan, kemudian sektor perbankan lainnya senilai Rp21 triliun dari 10 korporasi, serta multifinance di posisi keempat dengan total Rp16,9 triliun dari 11 perusahaan. “Sektor pembiayaan non-multifinance juga mencatat penerbitan besar, mencapai Rp15,8 triliun dari dua perusahaan,” tambah Darto.
Secara total, nilai penerbitan surat utang korporasi hingga kuartal III-2025 melonjak 68,65% dibandingkan periode sama tahun 2024 yang mencapai Rp 94,9 triliun. Sementara itu, penerbitan obligasi korporasi dan sukuk naik 70,37% (yoy) menjadi Rp 159,1 triliun, sedangkan penerbitan medium term note (MTN) justru turun menjadi Rp 800 miliar dari Rp 1 triliun pada Januari–September 2024.

