Awali Tahun 2025, Rupiah Dihantui Kekuatan Dolar AS
JAKARTA, investortrust.id - Mengawali tahun 2025, nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank masih dihantui kekuatan dolar Amerika Serikat (AS). Membuka perdagangan hari pertama di tahun 2025, dilansir Yahoo Finance kurs rupiah bergerak merosot 109 poin (0.68%) ke level Rp 16.199/USD.
Menurut Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro, pada tahun 2025 ini pelaku pasar masih harus mengantisipasi setidaknya empat kondisi, yaitu risiko perlambatan ekonomi global, suku bunga yang tetap tinggi dalam jangka waktu lama, meningkatnya ketegangan geopolitik, dan pergeseran aliran dana asing.
Adapun sebelumnya indeks dolar ditutup naik mendekati level tertinggi dalam dua tahun. Indeks dolar AS (DXY) ditutup pada 108,5, naik lebih dari 6,5% pada tahun 2024, menandai kinerja tahunan terkuatnya sejak 2015.
"Reli ini didorong oleh terpilihnya kembali presiden terpilih AS Trump pada bulan November dan pergeseran Federal Reserve ke posisi yang lebih agresif," katanya melalui keterangan tertulis, Kamis (2/1/2025).
Baca Juga
Sementara itu pemangkasan Suku Bunga Dana Fed yang lebih lambat dapat memengaruhi pasar. Setelah siklus kenaikan suku bunga agresif yang dimulai pada awal 2022, bank sentral AS mulai menurunkan suku bunga pada 2024. The Fed mengumumkan pemangkasan suku bunga Fed Funds Rate sebesar 25 bps pada 24 Desember menjadi 4,5%, menandai pemangkasan ketiga berturut-turut pada 2024.
"The Fed memangkas perkiraan pemangkasan suku bunga 2025 menjadi 50 bps karena inflasi yang terus berlanjut dan pasar tenaga kerja yang kuat," ucapnya.
Ekspektasi kebijakan pro-pertumbuhan dan inflasi di bawah Trump, seperti pemotongan pajak dan kenaikan tarif, semakin mendukung USD. The Fed juga merevisi perkiraan pertumbuhan PDB ke atas untuk 2024 (2,5% vs 2% dalam proyeksi September) dan 2025 (2,1% vs 2%), sementara tetap stabil di 2% untuk 2026.
Baca JugaPasar Respons Positif Pemberlakukan PPN 12%, Kurs Rupiah Menguat Jelang Tutup Tahun

