Tutup Tahun 2024, Kurs Rupiah Menguat dari Dolar AS
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar (kurs) rupiah menutup perdagangan hari terakhir di tahun 2024 ini dengan menguat dari dolar Amerika Serikat (AS). Pada penutupan perdagangan Selasa (31/12/2024), kurs rupiah menguat tipis 5 poin (0,03%) ke level Rp 16.157/USD. Adapun sebelumnya Jisdor BI merilis rupiah bertengger di posisi Rp 16.162/USD kemarin.
Kurs rupiah yang ditransaksikan antarbank seperti dilansir Yahoo Finance terapresiasi 39 poin (0,24%) untuk bergerak ke level Rp 16.090/USD. Sebelumnya kurs rupiah diketahui ditutup pada posisi Rp 16.129/USD.
Menurut Ekonom Senior PT Bank Permata Tbk Faisal Rachman, dibandingkan dengan akhir tahun 2023, rupiah melemah 4,58% terhadap dolar AS. Utamanya disebabkan oleh meningkatnya kekhawatiran ‘high-for-longer’ pada paruh pertama 2024, serta diikuti oleh ketidakpastian global pasca terpilihnya Donald Trump pada kuartal keempat 2024.
"Ke depannya, rupiah masih berpotensi menguat terbatas sejalan dengan ekspektasi masuknya kembali investasi langsung pada 2025 pasca aksi wait and see Pemilu, serta berlanjutnya inflow di pasar portfolio," kata Faisal kepada Investortrust, Selasa (31/12/2024).
Sedangkan untuk akhir tahun 2025 mendatang, diperkirakan pergerakan kurs rupiah berpotensi menguat terbatas hingga di kisaran Rp 15.850/USD - Rp 16.250/USD.
Baca Juga
Pasar Respons Positif Pemberlakukan PPN 12%, Kurs Rupiah Menguat Jelang Tutup Tahun
Kondisi Ekonomi Domestik
Sementara Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi memberikan sejumlah catatannya perihal pergerakan kurs rupiah yang pada akhir tahun 2024 ini ditutup di kisaran level psikologis Rp 16.000/USD. Di antaranya seperti jumlah kelas menengah di Indonesia yang terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kelas menengah di Indonesia mencapai 47,85 juta jiwa pada 2024 atau setara dengan 17,13% proporsi masyarakat di Tanah Air. Jumlah itu menurun dibandingkan 2019 yang mencapai 57,33 juta jiwa atau setara 21,45% dari total penduduk.
"Artinya terjadi penurunan sebanyak 9,48 juta jiwa," katanya dalam keterangan tertulis, Selasa (31/12/2024).
Bersamaan dengan itu, data kelompok masyarakat kelas menengah rentan atau aspiring middle class malah naik, dari 2019 hanya sebanyak 128,85 juta atau 48,20% dari total penduduk, menjadi 137,50 juta orang atau 49,22% dari total penduduk. Adapun penyebab turunnya kelas menengah di Indonesia didorong oleh sejumlah faktor.
"Mulai dari dampak pandemi Covid-19 yang menyebabkan banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan sehingga terus menguras tabungan mereka, inflasi yang tinggi dan menurunnya pendapatan masyarakat Indonesia yang menyebabkan daya beli di masyarakat Indonesia mengalami penurunan," tuturnya.
Baca Juga
Selain itu, program makanan bergizi gratis (MBG) yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menyimpan potensi kebocoran anggaran hingga Rp 8,5 triliun per tahun. Menurut Ibrahim, kebocoran terjadi karena model distribusi sentralistik berbasis vendor besar dan dapur umum yang diusulkan pemerintah menjadi salah satu celah besar yang rentan terhadap inefisiensi dan korupsi.
"Selain potensi kerugian finansial, skema sentralistik ini dinilai memiliki kelemahan sistemik yang memperbesar risiko korupsi. Minimnya transparansi dalam pengelolaan anggaran dan pengawasan yang tidak memadai menjadi faktor utama yang membuat model ini rawan terhadap penyalahgunaan dana," tutupnya.

