Indeks Dolar Longsor dari 109, Kurs Rupiah Dibuka Menguat
JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah yang ditransaksikan antarbank dibuka menguat dalam perdagangan Senin (6/1/2025), seiring indeks dolar Amerika Serikat lonsor dari posisi 109. Dilansir Yahoo Finance, nilai tukar mata uang Garuda bergerak menguat 9 poin (0,05%) ke Rp 16.175/USD, dibanding pada penutupan perdagangan terakhir di level Rp 16.184/USD.
Indeks dolar AS pekan lalu menembus di atas 109, mendekati level tertingginya dalam dua tahun, karena investor bertaruh pada kekuatan ekonomi pascaterpilihnya Presiden Donald Trump dan lebih sedikit pemangkasan suku bunga Federal Reserve tahun ini. Yahoo Finance mencatat, DXY melemah 0,09 poin atau 0,08% ke 108,87 Senin pagi.
"Di satu sisi, ekonomi AS terus menunjukkan ketahanan, mengungguli ekonomi global lainnya dalam waktu dekat. The Fed juga telah mengisyaratkan sikap yang lebih hati-hati terhadap pelonggaran kebijakan pada tahun 2025, dengan alasan inflasi terus berlanjut. Proyeksi terbaru pada Desember 24 menunjukkan hanya dua pemangkasan suku bunga seperempat poin tahun ini, penurunan tajam dari 100 basis poin yang diantisipasi dalam panduan September 2024," kata Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro dalam keterangan tertulis, Senin (6/1/2025).
Baca Juga
5 Penyakit Menular Perlu Diwaspadai 2025, Dunia Lebih Siap Hadapi Pandemi Baru?
Sementara itu PMI Manufaktur ISM AS membaik sebesar 0,9 poin dari bulan sebelumnya menjadi 49,3 pada Desember 2024, di atas ekspektasi pasar sebesar 48,4. Hasil tersebut mencerminkan laju kontraksi paling lemah di sektor manufaktur AS sejak 50,3 yang tercatat pada Maret 2024, yang merupakan satu-satunya periode ekspansi dalam industri tersebut sejak September 2022.
"Pengukur pesanan baru berada pada angka 52,5. Ini mencerminkan tingkat permintaan barang baru terkuat dalam 11 bulan, yang menunjukkan produksi yang lebih rendah bagi produsen mungkin mendekati titik terbawah, meskipun suku bunga restriktif oleh The Fed masih berlaku dalam jangka waktu lama," tuturnya.
Baca Juga
Di Malaysia HMPV Ditemukan Sejak 2023, akankah Jadi Pandemi Baru?

