Makin Kuat, Kurs Rupiah Tutup Pekan Nangkring di Bawah Rp 16.300 per Dolar AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar (kurs) rupiah melanjutkan tren menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Kurs rupiah bahkan menutup pekan ini dengan nangkring di bawah Rp 16.300 per dolar AS. Jisdor Bank Indonesia (BI) mencatat, kurs rupiah menguat 13 poin (0,07%) ke level Rp 16.299 per dolar AS.
Sedangkan dilansir Bloomberg, kurs rupiah tergelincir tipis 6 poin (0,04%) ke level Rp 16.292 per dolar AS. Bloomberg juga menunjukkan indeks dolar AS (DXY) melemah 0,19% ke level 98,2.
Menurut pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, pedagang memperhatikan pidato para pejabat The Fed, untuk mendapatkan isyarat tentang langkah bank sentral selanjutnya. Pada hari Kamis (7/8/2025) Presiden Fed Atlanta, Raphael Bostic, menegaskan kembali pandangannya bahwa satu kali pemotongan suku bunga sudah tepat untuk tahun ini, tetapi menambahkan bahwa masih banyak data yang harus ditunggu sebelum pertemuan berikutnya.
Sebuah laporan Bloomberg mengatakan Gubernur Fed Christopher Waller telah muncul sebagai pilihan utama Trump untuk menggantikan Ketua Fed saat ini, Jerome Powell, yang akan mengundurkan diri pada pertengahan 2026. Waller termasuk di antara dua anggota dewan Fed yang memberikan suara untuk penurunan suku bunga pada bulan Juli, sejalan dengan tuntutan Trump.
Baca Juga
Kurs Rupiah Ditutup Menguat Kamis (7/8) Meski Posisi Cadev Menurun per Juli 2025
Selain itu, Presiden AS Donald Trump yang menguraikan pembatasan lebih lanjut pada industri minyak Rusia, khususnya pengenaan tarif tinggi terhadap India.
"Tarif timbal balik Trump terhadap mitra dagang utama mulai berlaku sejak Kamis, memicu kekhawatiran atas meningkatnya gangguan ekonomi di seluruh dunia, yang pada gilirannya dapat menekan permintaan minyak," ungkap Ibrahim dalam keterangan tertulis, Jumat (8/8/2025).
Sementara dari dalam negeri, pengusaha menyambut efektifnya pemberlakuan tarif resiprokal oleh AS dengan nada optimistis. Menurut Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie, keputusan tarif resiprokal 19% untuk Indonesia perlu segera disikapi dengan baik.
Salah satunya meningkatkan produksi untuk mendapatkan kesempatan.
“Namun, yang paling penting buat kita secara prinsip, kita sudah tahu di mana kita,” kata Anindya di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat (8/8/2025).
Anindya menilai, keputusan tarif resiprokal 19% untuk Indonesia salah satunya perlu disikapi dengan dengan meningkatkan produksi untuk mendapatkan kesempatan. “Sekarang bukan saja bertahan, kita sudah harus memikirkan untuk meningkatkan kapasitas pabrik,” jelas dia.

