Relaksasi Pajak Selamatkan Industri Otomotif Indonesia
JAKARTA, investortrust.id – PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) menyatakan relaksasi pajak, seperti insentif keringanan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) dan Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) bisa meningkatkan penjualan mobil di Indonesia. Insentif ini dapat menyelamatkan industri penting yang belakangan kian tertekan tersebut.
Wakil Presiden Direktur TMMIN Bob Azam menegaskan, pada masa pandemi Covid-19, kebijakan serupa diterapkan pemerintah dan berdampak pada peningkatan penjualan mobil Toyota hingga 40%. "Pengalaman pascapandemi Covid-19, penjualan kita bisa tumbuh sampai 30--40%. Selain itu, pajak yang diterima pemerintah (tax revenue) malah naik, walaupun tax rate-nya diturunkan," katanya di Jakarta, Selasa (10/12/2024).
Saat pandemi pada 2020, pihaknya membukukan penjualan ritel mencapai 182.665 unit. Ini sekitar 31% dari total pasar nasional.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita sebelumnya mengatakan, pihaknya tengah membahas mengenai insentif atau stimulus yang akan diberikan kepada industri, setelah pemerintah menerapkan kenaikan upah minimum provinsi (UMP) 6,5% pada 2025. Ini antara lain dengan memberikan keringanan PPnBM dan insentif PPN DTP untuk industri otomotif, termasuk untuk mobil hybrid dan listrik.
"Kemarin kita membahas bantuan-bantuan atau insentif apa, atau stimulus apa yang perlu, dan akan disiapkan oleh pemerintah untuk membantu dunia usaha, untuk membantu industri. Salah satu opsi bantuan melalui pemberian insentif, di antaranya berupa keringanan PPnBM dan Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah untuk industri otomotif. Itu akan kami ambil, kami lakukan bukan hanya untuk mobil listrik, tapi juga kami akan upayakan untuk mobil-mobil di luar listrik seperti hybrid dan sebagainya, dan ini kemarin sudah kami bicarakan," kata Agus kepada awak media, Kamis (5/12/2024).
Sementara itu, berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil di Indonesia turun sejak 2023. Asosiasi ini juga telah merevisi target penjualan mobil 2024.
Target penjualam mobil di awal 2024 adalah 1,1 juta unit, kini diturunkan menjadi 850 ribu unit. Ketua I Gaikindo Jongkie Sugiarto mengatakan kondisi pasar otomotif, khususnya kendaraan roda empat, sepanjang tahun berjalan masih lesu.
"Itu menjadi alasan Gaikindo merevisi target tersebut. Alasannya, ya memang angka-angka penjualan kan tidak bisa meningkat signifikan,” kata Jongkie.
Padahal, jumlah penjualan mobil domestik tahun lalu juga sudah turun, berada di bawah target 1,05 juta unit sepanjang 2023. Merujuk data Gaikindo, penjualan mobil secara whole sales mencapai 1.005.802 unit sepanjang 2023, turun 4% dibanding capaian tahun 2022 sebanyak 1.048.040 unit. Sementara penjualan secara retail sepanjang 2023 mencapai 998.059 unit, turun 1,5% dibanding 2022 yang mencapai 1.013.582 unit.
Butuh Kemudahan Likuiditas Kredit
Lebih lanjut, Bob menyatakan, selain memberikan relaksasi pajak, hal lain yang bisa meningkatkan penjualan otomotif adalah yakni kemudahan likuiditas kredit bagi level rumah tangga. Menurut dia, apabila dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara, kredit rumah tangga Indonesia belum sesuai dengan produk domestik bruto (PDB).
"Kredit rumah tangga kita kecil sekali, cuma 9% dari PDB. Ini kecil dibandingkan dengan Thailand yang sudah 26% dan Singapura yang di atas 50%," katanya sebagaimana dikutip kantor berita Antara.
Baca Juga
Ketum Kadin Anindya Bakrie Melihat Perlunya Insentif bagi Industri Otomotif
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mempertimbangkan untuk merevisi target penjualan kendaraan tahun ini, di tengah menurunnya daya beli masyarakat. Adapun target penjualan yang ditetapkan pada tahun ini sebanyak 1,1 juta unit, sementara data penjualan mobil secara wholesales periode Januari hingga Agustus 2024 berjumlah 560.619 unit. Sedangkan penjualan secara retail pada periode tersebut sebesar 584.879 unit.

