Ketum Kadin Anindya Bakrie Melihat Perlunya Insentif bagi Industri Otomotif
JAKARTA, Investortrust.id - Program link and match yang dijalankan PT Astra International Tbk dan industri kecil dan menengah (IKM) di bidang otomotif tidak saja mencegah berlanjutnya deindustrialisasi, melainkan memperkuat supply chain atau rantai pasok dan mendorong usaha kecil dan menengah naik kelas. Insentif fiskal untuk industri otomotif dapat memperkuat Indonesia sebagai negara tujuan investasi.
“Ya, Kadin mendukung insentif fiskal bagi industri otomotif sebagaimana diungkapkan Pak Wamen (Wamen Perindustrian Faisol Riza -Red),” kata Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie kepada pers usai acara Link & Match yang diadakan Kementerian Perindustrian di Jakarta, Selasa (10/12/2024). Hadir pada pertemuan pers ini Wakil Menteri Perindustrian Republik Indonesia Faisol Riza dan jajarannya, Dirjen IKMA Reni Yanita, Chief of Corporate Affairs PT Astra Internasional Riza Deliansyah, Ketua Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) Rahmad Samulo, dan Wakil Ketum Kadin Bidang Perindustrian Saleh Husin.
Anindya mengapresiasi pemerintah yang sudah memberikan insentif buat industri yang meraih Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKD) pada level tertentu. Namun, jika Kementerian Keuangan memberikan insentif fiskal untuk mendongkrak industri otomotif, dampaknya bagi industri dan perekonomian akan sangat besar.
Dalam kesempatan yang sama, Anindya juga mengapresiasi Astra yang sudah menjadi lokomotif bagi IKM di bidang industri otomotif. Kerja sama link and match bahkan sudah sampai ke tier dua hingga tier tiga. “Kadin sebagai wadah dunia usaha melihat ini sebagai solusi yang baik, bukan hanya membuka akses pasar tapi juga memperkuat teknologi. Contoh ini perlu diperbanyak,” kata Anin.
Sebelumnya, Wamen Faisol Riza dalam kata sambutannya mengatakan, Vietnam baru saja menurunkan PPN dari 10% ke level 8% untuk menggerakkan ekonomi.
Dalam kata sambutannya, Wamen Faisol Riza menyebut, industri otomotif nasional sejatinya tengah menghadapi tantangan rantai pasok yang dipengaruhi oleh situasi ekonomi global yang tidak menentu. Untuk itu ia memahami jika Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mentapkan target penjualan kendaraan roda empat di tahun ini di kisaran 850 ribu unit.
“Namun, rencananya target ini di tahun depan akan dikembalikan menjadi 1 juta, bahkan lebih. Semoga bisa tercapai,” ujar Faisol.
Namun demikian ia kembali menekankan, di tengah sejumlah tantangan, dipastikan akan ada kesempatan dan peluang yang bisa dimanfaatkan oleh para pelaku industri Tanah Air, khususnya di industri otomotif.
Salah satunya adalah kecenderungan relokasi sejumlah perusahaan dari China, menyusul terpilihnya Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat, yang dalam kebijakannya nanti diprediksi bakal menerapkan kenaikan tarif ekspor dari negara-negara yang menikmati surplus perdagangan dengan AS seperti China.
Artinya, kini sejumlah negara tengah berlomba mempersolek diri dengan insentif-insentif fiskal yang bisa menarik para pelaku industri yang hengkang dari China. “Ini namanya perlombaan siapa cepat dia dapat. Siapa cepat menyediakan insentif, menyediakan sweetener, ..industri akan masuk. Pasti dia dapat (investasi baru, red),” ujarnya.
“Hari ini saya dengar Vietnam sudah menurunkan PPN 8 persen. Pasti karena ada upaya yang agresif yang ingin ditangkap,” tuturnya.
Sebagaimana diberitakan, pemerintah berencana memberlakukan pajak pertambahan nilai (PPN) dari 11% menjadi 12% per 1 Januari 2025. Pemerintah menyatakan bahwa PPN akan baru secara selektif, dan akan diterapkan pada barang-barang mewah, seperti mobil mewah, apartemen mewah, dan rumah mewah.
Jenis kendaraan tergolong mewah misalnya, mengacu Peraturan Menteri Keuangan No 141/PMK.010/2021 tentang Penetapan Jenis Kendaraan Bermotor yang dikenai Pajak Penjualan atas Barang Mewah dan Tata Cara Pengenaan Pemberian dan Penatausahaan Pembebasan, dan Pengembalian Pajak Penjualan atas Barang Mewah (termasuk kendaraan bermotor angkutan orang untuk pengangkutan kurang dari 10 orang -- termasuk pengemudi -- dengan kapasitas isi silinder sampai 3.000 cc). Untuk kendaraan bermotor beroda 2 atau 3 dengan kapasitas isi silinder lebih dari 250-500 cc termasuk barang mewah.
Bicara soal potensi transaksi yang digerakkan oleh industri tier-1 pendukung Agen Pemegang Merek (APM) di sektor otomotif seperti Astra, Anindya mengungkapkan adanya potensi transaksi yang bisa mencapai Rp 130 miliar per tahun.
Baca Juga
"Jumlah daripada APM tier 1 28 dan 57 IKM kalau tidak salah, sedangkan transaksinya hampir Rp 130 miliar per tahun," ucap Anindya.
Sebagai wadah dunia usaha dan memiliki jaringan terhadap seluruh perusahaan termasuk koperasi di Tanah Air, Anindya mengajak untuk memanfaatkan pertemuan bisnis atau link and match untuk meningkatkan industri komponen otomotif.
"Karena memang Kadin ini, bukan saja membantu dari sisi usulan dan kebijakan, tapi mempunyai juga kaki tangan sampai kepada provinsi, ada 38 provinsi. Jadi hal-hal seperti ini sangat, kami sambut baik," ungkapnya.
Acara link and match ini juga menghasilkan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) secara simbolis antara 28 APM tier 1 dengan 57 IKM. Sebelumnya, link and match pada November 2022 juga sempat menghasilkan MoU antara 16 APM tier 1 dengan 32 IKM dengan nilai realisasi potensian omzet sebesar Rp 115 miliar.

