Susiwijono Jelaskan Insentif PPnBM Tak Kontradiktif dengan Rencana PPN 12%
JAKARTA, investortrust.id - Sekretaris Menteri Koordinator (Sesmenko) bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan, pemberian insentif fiskal keringanan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) tidak kontradiksi dengan rencana penerapan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 12% untuk barang mewah. Saat ini PPN sebesar 11% dan akan dinaikkan menjadi 12% untuk barang mewah mulai 1 Januari 2025.
“Oh enggak (kontradiktif). Kan fungsinya memang direncanakan insentif fiskal itu untuk menjaga pertumbuhan ekonomi,” kata Susi, sapaan Sesmenko, di kantornya, Jumat (6/12/2024).
Baca Juga
UMP Naik 6,5%, Menperin Agus Rencanakan Insentif Mobil Hybrid dan Listrik
Susi mengatakan, insentif diberikan ke sektor-sektor tertentu dan berkontribusi besar ke produk domestik bruto (PDB). Beberapa sektor yang disebut Susi antara lain properti, otomotif, dan padat karya.
“Jadi, bukan semata-mata hanya merespons (PPN 12%). Tapi, kuartal IV-nya kan juga harus kita dorong kalau mau (pertumbuhan ekonomi) di atas 5%,” kata dia.
Pertumbuhan Kuartal IV 5,2%
Susi menjelaskan, untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi di atas 5%, di kuartal IV-2024 membutuhkan setidaknya bisa mencapai 5,2% atau lebih. Menurutnya, target ini tidak mudah dicapai, karena siklus pertumbuhan ekonomi di kuartal akhir cenderung rendah.
“Selain itu, di tahun depan kan tetap perlu didorong di kuartal I-2025. Karena kuartal I itu kan dengan transisi kelembagaan, yang masih perlu waktu,” ujar dia.
Baca Juga
Sebelumnya, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti memaparkan terjadi perlambatan daya beli. Dia mengatakan, penurunan daya beli terlihat dari laju pertumbuhan konsumsi di kuartal I hingga kuartal III-2024.
“Dan, ternyata ekonomi itu tumbuh lebih rendah. Pada semester I-2024, ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5,08% dan laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga sekitar 4,92%,” kata dia.
Esther juga menyoroti perlambatan kebijakan moneter. Dia mengatakan kredit bank juga relatif menurun.
“Karena kita tahu sektor manufaktur juga mengalami penurunan. Ini dari porsi kreditnya yang tadinya 18,7% pada 2015, sekarang 2024 menjadi 15%,” kata dia.

