Inflasi AS Meningkat, Kurs Rupiah Melemah Kamis Pagi
JAKARTA, investortrust.id - Indeks dolar Amerika Serikat menguat dalam pembukaan perdagangan Kamis (14/11/2024) pagi, usai rilis inflasi Oktober Negeri Paman Sam kemarin waktu setempat. Dilansir Yahoo Finance, kurs rupiah merosot 25 poin (0,16%) ke level Rp 15.794/USD.
Imbal hasil US Treasury 10 tahun juga sedikit naik pada Rabu (13/11/2024) waktu setempat, tapi yield US Treasury 2 tahun turun. Imbal hasil US Treasury 10 tahun naik kurang dari 2 basis poin menjadi 4,451%, sementara imbal hasil US Treasury 2 tahun turun sekitar 7 basis poin menjadi 4,275%.
Baca Juga
Harga Emas Antam Lanjut Turun Rp 11.000 per Gram, Cek Rinciannya
Pergerakan ini terjadi setelah indeks harga konsumen (CPI) AS, yang mengukur biaya sekumpulan barang dan jasa, pada Oktober 2024 menunjukkan kenaikan tingkat inflasi tahunan, namun tetap sesuai ekspektasi. Angka tersebut naik 0,2% secara bulanan dan 2,6% secara tahunan. Core CPI, yang tidak termasuk harga makanan dan energi yang bergejolak, naik 0,3% untuk bulan tersebut dan berada di 3,3% secara tahunan, juga sesuai dengan perkiraan.
"Secara keseluruhan, ini adalah laporan yang sesuai dengan konsensus, yang memengaruhi kebijakan pemotongan suku bunga The Fed pada Desember," tulis Ian Lyngen, kepala strategi suku bunga AS di Tim Strategi Pendapatan Tetap BMO Capital Markets, seperti dilansir CNBC.
Baca Juga
Data inflasi yang masih terkendali ini diperkirakan membuat Federal Reserve (The Fed) berada di jalur untuk menurunkan suku bunga bulan depan. Pasar memperkirakan kemungkinan sebesar 79% untuk pemotongan suku bunga sebesar seperempat poin persentase, menurut CME FedWatch Tool.
Menanti Data Inflasi Produsen AS
Analis pasar keuangan Cheril Tanuwijaya mengatakan, rilis data inflasi AS periode Oktober baik inflasi umum maupun inflasi inti menunjukkan kenaikan yang sesuai perkiraan. Dengan demikian, kekhawatiran batalnya pemangkasan suku bunga The Fed di bulan Desember seperti yang dikatakan Gubernur The Fed Minnesota, Neil Kashkari, bisa terabaikan untuk sesaat.
"Namun, hari ini, pasar menanti data inflasi produsen AS untuk kembali menerka langkah pemangkasan suku bunga The Fed selanjutnya. Sementara, di Eropa, pelaku pasar bersikap wait and see menanti rilis data tenaga kerja dan PDB (produk domestik bruto) Euro Area," ujarnya saat membeberkan hasil analisis Tim Riset InvestasiKu, Jakarta, Kamis (14/11/2024).
Baca Juga
Asing Lanjut Net Sell Saham Rp 0,69 Triliun Rabu, di SBN Rp 0,34 Triliun
Sementara itu, di Asia, pelaku pasar mencermati akibat kenaikan yield obligasi pemerintah AS menjelang rilis data inflasi AS. Selain itu, tren pelemahan harga komoditas global di tengah penguatan USD.

