Inflasi AS Lebih Rendah, Kurs Rupiah Melemah Kamis
JAKARTA, investortrust.id - Inflasi Amerika Serikat tercatat lebih rendah dari ekspektasi, sehingga meredakan kekhawatiran bahwa ekonomi terbesar di dunia itu mungkin akan jatuh ke dalam stagflasi. Seiring dengan itu, kurs rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan di pasar spot valas melemah, Kamis (13/03/2025) pagi.
Berdasarkan data Yahoo Finance, nilai tukar mata uang Garuda melemah terhadap geenback sebesar 10 poin atau 0,06% pada pukul 09.11 WIB, ke level Rp 16.449 per dolar AS. Secara year to date, mata uang Garuda sudah terdepresiasi 2,29%.
Baca Juga
Inflasi AS Lebih Rendah
Sementara itu, imbal hasil Treasury AS naik pada Rabu (12/03/2025) waktu setempat, seiring kelegaan investor setelah rilis laporan inflasi AS yang lebih rendah. Inflasi yang melunak meredakan beberapa kekhawatiran tentang ekonomi negeri adidaya itu.
Imbal hasil Treasury 10 tahun, yang menjadi acuan, naik lebih dari 3 basis poin menjadi 4,322%. Imbal hasil Treasury 2 tahun bahkan naik hampir 6 basis poin menjadi 3,997%, setelah sebelumnya sempat turun ke level terendah sejak Oktober pada Selasa pagi.
Baca Juga
Indeks harga konsumen (Consumer Price Index/CPI) Februari ternyata lebih rendah dari perkiraan, yakni naik 0,2% secara musiman dari Januari dan tingkat inflasi tahunan 2,8%, menurut Departemen Tenaga Kerja AS. Ekonom yang disurvei oleh Dow Jones sebelumnya memperkirakan kenaikan bulanan sebesar 0,3% dan kenaikan tahunan 2,9%.
CPI inti, yang tidak memasukkan harga makanan dan energi yang bergejolak, naik 0,2% dalam sebulan dan meningkat 3,1% dalam 12 bulan terakhir. Angka ini lebih rendah dari ekspektasi kenaikan bulanan 0,3% dan kenaikan tahunan 3,2%.
Data ini meredakan kekhawatiran langsung bahwa ekonomi mungkin akan jatuh ke dalam stagflasi, di tengah investor semakin khawatir tentang dampak tarif terhadap ekonomi AS secara keseluruhan. Stagflasi adalah situasi di mana pertumbuhan melambat atau berhenti, sementara inflasi tetap tinggi, hal yang dikhawatirkan investor.

