Indeks Dolar Melemah, Kurs Rupiah Dibuka Terkoreksi Kamis Pagi
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank dibuka terkoreksi Kamis (10/10/2024) pagi. di tengah indeks dolar Amerika Serikat yang melemah. Dilansir Yahoo Finance, hingga pukul 10.00 WIB, kurs rupiah bergerak melemah 33 poin (0,21%) ke level Rp 15.648/USD.
"Saat ini, investor tengah berhenti sejenak untuk menilai prospek suku bunga acuan AS. Kalender data AS yang sedikit minggu ini memberikan jeda, setelah laporan pekerjaan yang kuat Jumat lalu menyebabkan dolar menguat dan membuat pasar meredam skala penurunan suku bunga yang diharapkan," kata Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi, dikutip Kamis (10/10/2024)..
Ibrahim Assuaibi menjelaskan sebelumnya, data nonfarm-payrolls (NFP) atau penggajian nonpertanian yang kuat membuat pasar menilai kembali ekspektasi penurunan suku bunga The Fed dalam waktu dekat. Investor sekarang membobot sekitar 85% peluang penurunan Fed Funds Rate seperempat basis poin, serta kemungkinan kecil Bank Sentral AS akan membiarkan suku bunga tidak berubah, merujuk pengukuran dari CME FedWatch.
"Laporan Indeks Harga Konsumen AS bulan September pada hari Kamis akan menjadi bagian utama data minggu ini," kata Ibrahim.
Sementara itu, indeks dolar tercatat melemah 0,08 poin atau 0,08% ke 102,85 pagi ini. Namun, secara year to date, kembali menguat dibanding pada 1 Januari yang sebesar 102,41.
Baca Juga
Harga Minyak Melemah Didorong Konflik Timur Tengah hingga Risiko Badai
Kejutan PM Jepang
Dari pasar Asia, Perdana Menteri baru Jepang Shigeru Ishiba, yang dikenal sebagai pengkritik kebijakan moneter longgar, mengejutkan pasar dengan pernyataan baru-baru ini bahwa negara itu belum siap untuk kenaikan suku bunga lebih lanjut. Ishiba telah menetapkan pemilihan umum diadakan pada 27 Oktober 2024, menjelang pertemuan kebijakan moneter Bank Jepang pada bulan Oktober dan pemilihan presiden AS bulan depan.
Sementara itu, investor tetap fokus pada Cina setelah hari yang bergejolak di pasar Negeri Tirai Bambu dan Hong Kong pada sesi sebelumnya. Beijing mengatakan pada hari Selasa bahwa mereka "sangat yakin" akan mencapai target pertumbuhan setahun penuh, tetapi menahan diri untuk tidak memperkenalkan langkah-langkah fiskal yang lebih kuat. Hal ini mengecewakan investor yang telah mengandalkan lebih banyak stimulus dari para pembuat kebijakan, untuk mengembalikan ekonomi Tiongkok ke jalurnya.

