Harga Minyak Dunia Lanjutkan Peningkatan, Ini Pendorongnya
JAKARTA, investortrust.id - Harga minyak mentah Brent naik 39 sen (0,54%) menjadi US$ 72,28 per barel pada Selasa (12/11/2024). Sementara, harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) meningkat 31 sen (0,46%) menjadi US$ 68,43 per barel.
Melansir Reuters, Rabu (13/11/2024) kenaikan harga minyak ini karena adanya aksi short covering setelah sehari sebelumnya jatuh menyentuh level terendah dua minggu akibat proyeksi permintaan yang diturunkan oleh OPEC. Namun, kenaikan harga minyak tetap terbatas karena penguatan dolar AS yang mencapai level tertinggi tujuh bulan.
Kedua acuan harga minyak tersebut berada pada level terendah hampir dua minggu setelah Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) menurunkan perkiraan pertumbuhan permintaan minyak global untuk tahun 2024 dan 2025.
Penurunan ini disebabkan oleh lemahnya permintaan di China, India, dan beberapa wilayah lainnya, menjadikan ini revisi turun keempat berturut-turut untuk proyeksi tahun 2024.
“Proyeksi ini jelas bearish dan pasar masih mencoba mencerna dampaknya,” kata Direktur Energi Berjangka di Mizuho Bob Yawger.
Baca Juga
Selain itu, produksi minyak AS dan global diprediksi mencapai rekor tertinggi sedikit lebih besar tahun ini dibanding perkiraan sebelumnya, menurut Badan Informasi Energi AS (EIA) pada Rabu. Produksi minyak AS diperkirakan rata-rata 13,23 juta barel per hari (bpd) tahun ini, sementara produksi global mencapai 102,6 juta bpd.
Badan Energi Internasional (IEA), memiliki perkiraan pertumbuhan permintaan jauh lebih rendah dari OPEC, dijadwalkan merilis perkiraan terbaru pada Kamis.
Baca Juga
Pada sisi suplai, Presiden Rusia Vladimir Putin dan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman menekankan pentingnya melanjutkan koordinasi dalam OPEC+ saat berbincang melalui telepon pada Rabu, yang turut memberikan dukungan bagi pasar minyak. Sementara itu pasar juga masih berisiko terganggu oleh ketegangan geopolitik, khususnya dari Iran, atau konflik yang lebih lanjut antara Iran dan Israel.
“Jika perang ini terus berlanjut, kemungkinan besar Israel akan menyerang aset minyak Iran,” ujar seorang ahli strategi risiko politik independen, Clay Seigle. Seigle juga mengatakan serangan dapat terbatas pada kilang minyak Iran, tetapi pihak Israel mungkin menargetkan fasilitas produksi dan ekspor juga.

