Pulihkan Ekonomi, Fokus Tingkatkan Investasi
Oleh Ezaridho Ibnutama,
NHKSI Economist
INVESTORTRUST.ID – Ekonomi Indonesia pada kuartal ketiga 2024 menunjukkan dinamika yang lebih lemah dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, meski sektor investasi dan belanja pemerintah bisa memberikan dorongan bagi pertumbuhan ekonomi. Produk domestik bruto (PDB) Indonesia tercatat tumbuh 4,95% secara tahunan (year on year) pada triwulan lalu, dengan pertumbuhan kuartalan (quarter to quarter) sebesar 1,50%.
Di sisi lain, meski kinerja ekonomi ini lebih rendah dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, sejumlah sektor mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pertumbuhan ekonomi tercatat 5,11% yoy pada kuartal I dan menurun ke 5,05% yoy triwulan II.
Ada 5 hal penting menjadi catatan terkait kondisi ekonomi Indonesia pada kuartal III-2024. Ini mencakup:
1.Pertumbuhan PDB Stabil.
Indonesia mencatatkan pertumbuhan PDB yang lebih rendah pada kuartal III sebesar 4,95% yoy, yang menandakan adanya penurunan bertahap sejak kuartal pertama 2024. Namun demikian, pertumbuhan kuartalan sebesar 1,50% qoq menunjukkan ekonomi di Tanah Air masih bergerak meski dengan kecepatan yang lebih lambat. Untuk kuartal keempat 2024, kami memproyeksikan pertumbuhan lebih stabil dengan angka pertumbuhan 0,5-0,7% qoq, dengan kemungkinan besar tidak akan mencapai angka pertumbuhan tahunan 5%.
2.Pengaruh Kebijakan Pemerintah dan Investasi.
Meski konsumsi rumah tangga mengalami penurunan kontribusi terhadap PDB, pengeluaran pemerintah dan investasi, baik asing maupun domestik, membantu menopang pertumbuhan. Pemerintah telah meningkatkan likuiditas di pasar melalui pengampunan utang macet lama ke usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), plus kebijakan Bank Indonesia (BI) yang cenderung dovish, yang bertujuan untuk merangsang daya beli konsumen melalui suku bunga yang lebih rendah. Investasi sektor hilir, terutama di bidang transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi, menjadi subsektor yang menarik perhatian para investor asing sepanjang tahun ini.
Baca Juga
Sepekan, Asing Jual Neto Dua Kali Lipat Tembus Rp 10,23 Triliun di Pasar Keuangan
3.Penurunan Pengangguran, Peningkatan Underemployment.
Meski angka pengangguran menunjukkan tren penurunan, terdapat peningkatan signifikan dalam pekerjaan tidak penuh atau underemployment. Hal ini mencerminkan adanya ketidakseimbangan dalam pasar tenaga kerja RI, di mana meskipun lebih banyak orang yang mendapatkan pekerjaan, kualitas dan jenis pekerjaan tersebut belum sepenuhnya optimal.
4.Keyakinan Konsumen Menurun.
Tingkat kepercayaan konsumen pada kuartal III-2024 menunjukkan penurunan. Meskipun ada upaya untuk merangsang daya beli melalui kebijakan moneter yang lebih longgar, optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi tampaknya semakin menurun, yang berdampak pada konsumsi rumah tangga lebih lemah.
5.Penurunan Penjualan Mobil.
Penjualan mobil di Indonesia masih mencatatkan angka pertumbuhan negatif pada Oktober 2024. Hal ini mencerminkan adanya penurunan permintaan dari sektor konsumen, yang sejalan dengan penurunan kepercayaan konsumen dan daya beli.
Perubahan Pola Kontribusi Pertumbuhan
Ekonomi Indonesia pada kuartal ketiga 2024 menunjukkan perubahan signifikan pada kontribusi sektor konsumsi rumah tangga. Sementara, sektor investasi dan belanja pemerintah memberikan dorongan yang lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi. Pada saat yang sama, sektor-sektor tertentu di luar Jawa, seperti Bali dan Papua, menunjukkan angka pertumbuhan yang mencolok.
Konsumsi rumah tangga Indonesia pada triwulan lalu mengalami penurunan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, menyumbang hanya 2,55% secara tahunan (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan kontribusi stabil sebesar 2,65% yoy pada kuartal pertama dan kedua 2024. Penurunan ini disebabkan oleh melemahnya daya beli konsumen, akibat kesempatan kerja yang terbatas dan pendapatan yang tidak mampu mengimbangi inflasi.
Sebaliknya, investasi bersih menunjukkan peningkatan yang signifikan, naik dari 1,32% yoy pada kuartal II menjadi 1,63% yoy triwulan III. Begitu pula belanja pemerintah tercatat tumbuh 0,32% yoy pada kuartal ketiga, melonjak signifikan dibandingkan dengan pertumbuhan negatif 0,3% yoy pada kuartal pertama dan pertumbuhan stabil 0,1% yoy kuartal kedua.
| Perkembangan transaksi neto oleh asing di SBN rupiah yang dapat diperdagangkan, hingga 7 November 2024. Infografis: Diolah Riset Investortrust. |
Baca Juga
Beberapa sektor menunjukkan indikasi pertumbuhan yang baik di Indonesia pada kuartal III-2024. Ini meliputi sektor energi, transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi. Investasi di sektor-sektor hilir Indonesia, terutama yang terkait dengan infrastruktur dan teknologi, telah menjadi daya tarik utama bagi investor asing sepanjang tahun ini.
Di sisi lain, ekspor neto Indonesia tercatat sedikit negatif dengan penurunan sebesar 0,08% yoy pada kuartal III. Meski demikian, sektor-sektor domestik yang didorong oleh investasi dan belanja pemerintah memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap perekonomian.
Bali-Papua Kunci Pertumbuhan
Secara regional, pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai stabil dengan Sumatra dan Jawa sebagai penggerak utama. Pulau Jawa tetap menjadi kontributor terbesar terhadap perekonomian nasional, dengan menyumbang 56,84% dari total PDB, meski mencatatkan pertumbuhan yang lebih lambat dibandingkan dengan wilayah lainnya. Ekonomi Jawa tercatat tumbuh lebih lambat dari nasional yakni di level 4,92%, hanya lebih baik dari Sumatra yang mencatatkan angka pertumbuhan 4,48% yoy. Kontribusi terhadap PDB dari Sumatra sebesar 22,30% atau terbesar kedua.
Sedangkan, wilayah seperti Maluku-Papua dan Bali-Nusa Tenggara mencatatkan angka pertumbuhan mencolok. Maluku-Papua tercatat tumbuh 6% yoy dan Bali-Nusra 5,28% yoy, tertinggi di antara enam wilayah Nusantara. Pertumbuhan ini sebagian besar didorong oleh basis ekonomi yang lebih rendah dan regulasi yang lebih longgar di sektor pertambangan, infrastruktur, dan pembangunan, jika dibandingkan dengan Jawa, Sumatra, dan Sulawesi.
Sulawesi mencatatkan angka pertumbuhan lebih lambat pada kuartal III yaitu 5,87% yoy, dibandingkan dengan 6,42% yoy pada kuartal sama tahun lalu. Pulau yang banyak menghasilkan nikel dan kakao ini menyumbang 7,23% terhadap ekonomi nasional.
Ekonomi Sulawesi Tenggara, yang merupakan rumah bagi banyak smelter nikel besar, tercatat mengalami pertumbuhan PDB yang kurang menggembirakan pada kuartal ketiga 2024. Wilayah pusat industri smelter nikel di Indonesia ini hanya mencatatkan kenaikan PDB 0,66% yoy, dengan sektor tambang tersebut tetap vital bagi perekonomian daerah.
Masalah Pekerja Kontrak Musiman
Dilihat dari tingkat pengangguran di Indonesia, tren penurunannya positif, berkurang dari puncaknya di 7,07% pada Agustus 2022 menjadi 4,91% pada Agustus 2024. Meski demikian, penurunan pengangguran ini tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas pekerjaan.
Jumlah pekerjaan penuh tercatat turun 0,4% yoy pada Agustus 2024. Sementara, angka underemployment terus meningkat, mencapai 31,94% pada Agustus 2024, dibandingkan dengan 31,54% pada tahun sebelumnya.
Sebagian besar pekerja tidak penuh ini berada di sektor formal, terutama sebagai pekerja kontrak musiman, meski sektor formal secara keseluruhan mencatatkan peningkatan signifikan, dengan kenaikan 3,44% yoy pada Agustus 2024 di industri pertanian, perdagangan, dan manufaktur.
Catatan lain, sektor informal juga tetap mendominasi pasar tenaga kerja Indonesia, menyumbang 57,95% dari total pekerjaan pada Agustus 2024. Ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan sektor formal yang hanya mencatatkan 42,05%.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kepercayaan konsumen Indonesia pada Oktober 2024 menunjukkan penurunan yang signifikan. Ini menciptakan nada pesimistis untuk dua bulan terakhir tahun 2024.
Survei pada Oktober 2024 menunjukkan penurunan tajam pada indeks yang mengukur optimisme konsumen terhadap peluang kerja, pendapatan saat ini, dan pembelian barang tahan lama. Di sisi lain, meski kebiasaan belanja konsumen mengalami pelemahan dalam beberapa bulan terakhir, konsumsi rumah tangga menunjukkan sedikit kenaikan.
Salah satu faktor yang berkontribusi adalah berkurangnya tekanan dari pembayaran bunga utang, yang tercatat sekitar 10,5% pada Oktober 2024. Kendati ada sedikit peningkatan dalam pengeluaran rumah tangga, mayoritas pengeluaran ini masih untuk kebutuhan dasar. Kesulitan dalam memperoleh pekerjaan yang stabil, harga barang yang tetap tinggi (meskipun ada deflasi dalam beberapa bulan terakhir), serta pertumbuhan pendapatan yang tidak signifikan menjadi hambatan utama bagi peningkatan daya beli konsumen.
Penurunan Penjualan Mobil Berlanjut
Sementara itu, penjualan mobil di Indonesia mengalami penurunan yang berlanjut pada Oktober 2024, dengan penurunan 3,9% secara tahunan menjadi 77.200 unit. Meskipun lebih ringan dibandingkan penurunan 9,1% pada September 2024, tren negatif penjualan mobil mencerminkan tantangan yang dihadapi oleh ekonomi Indonesia, terutama bagi kalangan menengah dan calon kelas menengah yang kesulitan dalam meningkatkan mobilitas ekonomi atau standar hidup mereka.
Lebih lanjut, hal itu diperkirakan dapat membatasi potensi kenaikan lebih lanjut pada indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia untuk tahun ini. Padahal, sebelumnya, prospek pertumbuhan IHSG Indonesia diharapkan dapat mencatatkan angka yang lebih tinggi di akhir tahun.
Investasi: Dominasi Transportasi-Infrastruktur
Di sisi lain, sektor investasi di Indonesia menunjukkan angka yang positif pada kuartal ketiga. Total investasi yang direalisasikan pada kuartal lalu tercatat tumbuh signifikan 15,24% yoy menjadi Rp 431,48 triliun. Sektor yang menyerap investasi terbesar adalah transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi, yang tercatat menerima investasi sebesar Rp 58,04 triliun atau sekitar 13,45% dari total investasi triwulan III.
Berikutnya adalah sektor industri mineral yang mencatatkan investasi Rp 55,87 triliun (12,95%). Kemudian, sektor pertambangan Rp 44,64 triliun (10,34%).
Investasi asing berkontribusi cukup signifikan. Peningkatan realisasi investasi asing sebesar 18,55% yoy, yang berkontribusi sekitar 53,92% dari total investasi yang masuk pada kuartal lalu.
Lebih dari separuh investasi tersebut (50,70%) dialokasikan ke luar Pulau Jawa, yang menandai adanya kemajuan ekonomi di luar wilayah Jawa. Negara-negara yang menjadi sumber utama investasi asing adalah Singapura (US$ 14,35 miliar), Hong Kong (US$ 6,06 miliar), dan Tiongkok (US$ 5,78 miliar).
Segera Berinovasi Tarik Investasi
Meskipun beberapa provinsi di Indonesia, seperti Sulawesi Tenggara, memiliki potensi untuk mendukung proses hilirisasi industri yang menjadi program unggulan pemerintah, pertumbuhan ekonomi lokal di wilayah-wilayah tersebut bisa dikatakan tetap stagnan. Kendati wilayah ini kaya akan sumber daya alam, terutama nikel, sektor pertanian tetap menjadi tulang punggung ekonomi di daerah tersebut. Sebagian besar penduduk masih bergantung pada pekerjaan di sektor pertanian formal, yang menghadirkan tantangan besar untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang signifikan, terutama mengingat hambatan struktural dalam peralihan ke sektor industri yang lebih maju.
Sementara sektor pertanian formal masih menjadi sumber pendapatan utama bagi sebagian besar penduduk Indonesia, diperkirakan akan sulit untuk RI mencapai pertumbuhan ekonomi lebih dari 5% secara tahunan pada kuartal keempat 2024.
Oleh karena itu, untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi, pemerintah Indonesia harus berinovasi dalam meningkatkan upaya menarik investasi asing langsung (FDI). Salah satu langkah tersebut adalah perjalanan mantan Menteri Pertahanan yang kini Presiden RI Prabowo Subianto, beserta para penasihat dekatnya, yang baru-baru ini melakukan kunjungan ke Tiongkok dan Amerika Serikat pada November 2024. Tujuan kunjungan adalah untuk mengamankan lebih banyak investasi langsung yang dapat memberikan dorongan bagi sektor-sektor strategis dalam perekonomian Indonesia.
Meski ada upaya untuk menarik lebih banyak FDI, kondisi perekonomian Indonesia di kuartal keempat 2024 diperkirakan akan menghadapi berbagai hambatan. Sebagian besar tantangan ini berasal dari struktur ekonomi Indonesia yang masih bergantung pada sektor pertanian, serta keterbatasan daya beli masyarakat pascapandemi Covid-19.
Di samping itu, kebijakan Bank Indonesia (BI) yang dovish dengan penurunan suku bunga dan program pengampunan utang pemerintah untuk sektor perbankan yang terkait dengan krisis keuangan 1998 berpotensi memperburuk masalah mal-investasi, terutama di sektor properti. Salah satu kebijakan yang ditempuh pemerintah adalah penghapusan sebagian utang terkait krisis keuangan 1998 yang diberikan kepada sektor perbankan, sebagai langkah untuk meningkatkan likuiditas dan menstabilkan industri perbankan.
Namun, langkah ini dapat memperburuk ketimpangan investasi di sektor properti, di mana akan semakin banyak properti dibangun tanpa mempertimbangkan daya beli konsumen yang lemah. Pascapandemi, tabungan konsumen telah terkikis, dan kemampuan mereka untuk membayar utang jangka panjang, seperti kredit pemilikan rumah (KPR), menjadi terbatas.
Hal ini dapat memengaruhi pengeluaran konsumen di masa depan, di mana sektor perbankan mungkin akan lebih cepat mendistribusikan kredit tanpa memperhatikan akumulasi tabungan individu. Hal ini justru akan memperburuk kebutuhan akan likuiditas lebih banyak dari pemerintah.
Dengan kondisi tersebut, prospek ekonomi Indonesia di kuartal keempat 2024 dan kuartal pertama 2025 diperkirakan akan menghadapi banyak tantangan. Meski upaya untuk menarik investasi asing terus dilakukan, ketergantungan pada sektor pertanian dan mal-investasi di sektor properti dapat membatasi potensi pertumbuhan yang lebih tinggi.
Di samping itu, kebijakan fiskal dan moneter yang diambil pemerintah, meskipun dimaksudkan untuk mendorong ekonomi, berpotensi memperburuk ketimpangan dan memperlambat pemulihan daya beli masyarakat. Dalam jangka panjang, tantangan-tantangan ini perlu diatasi agar Indonesia dapat mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan dan inklusif, pertumbuhan yang naik kelas. ***

