Danantara Fokus Pulihkan Return to Service Garuda
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pemulihan Garuda Indonesia saat ini difokuskan pada proses Return to Service (RTS) untuk memastikan kesiapan armada dan keandalan layanan penerbangan. Sebagian dana yang disuntikkan Danantara ke Garuda dialokasikan untuk mengatasi banyaknya pesawat yang grounded, yang memberikan pukulan ganda (double hits) maskapai penerbangan tersebut.
“Garuda Indonesia saat ini memiliki banyak pesawat yang grounded dan tidak dapat terbang karena belum bisa menjalani maintenance yang diperlukan. Ketika pesawat grounded, tidak ada revenue, sementara fixed cost terus berjalan. Jadi Garuda terkena double hits. Semakin lama penundaan, semakin besar pula ‘lubang’ yang harus ditutup. Karena itu, ini menjadi prioritas pada tahap pertama agar Garuda Indonesia dapat segera melakukan maintenance yang dibutuhkan sehingga pesawat Garuda, termasuk Citilink, dapat kembali memenuhi persyaratan untuk terbang secepatnya,” kata Febriany Eddy, Managing Director Business-3, Danantara Asset Management dalam Coffee Morning pekan lalu.
Febriany didampingi Managing Director Stakeholders Management G Communications BPI Danantara, Rohan Hafas dan Senior VP Public Affairs and Advocacy, Michael Reza Say.
Febriany menekankan, transformasi Garuda Indonesia dijalankan secara bertahap dengan memperkuat empat pilar utama, yakni peningkatan layanan pelanggan, pengembangan model bisnis yang adaptif, penguatan operasional berbasis keselamatan dan keandalan, serta modernisasi teknologi untuk mendukung efisiensi.
“Danantara Indonesia berkomitmen penuh mendukung Garuda Indonesia. Namun, dalam proses transformasi ini, komitmen penuh dari Danantara Indonesia bukan ‘free lunch’. Bersama manajemen Garuda Indonesia, kami akan mengawal seluruh proses hingga tuntas,” tegas Febriany.
Sebelumnya, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) akan menggelar penerbitan saham baru tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) dengan target perolehan dana Rp 23,67 triliun. Dana senilai Rp 23,67 triliun berasal dari setoran modal tunai senilai Rp 17,02 triliun dari PT Danantara Asset Management (DAM) dan sisanya dari konversi pinjaman pemegang saham DAM menjadi saham baru senilai Rp 6,65 triliun.
Baca Juga
Terbang Tinggi, Danantara Restrukturisasi Garuda Indonesia Tanpa Bebani APBN
Krakatau Steel
Selain Garuda, Krakatau Steel menjadi prioritas restrukturisasi tahun ini, dari 21 BUMN yang menjadi bidikan utama restrukturisasi oleh Danantara. Menurut Febriany, Krakatau diprioritaskan mengingat posisinya yang strategis dalam rantai pasok industri nasional. Kebutuhan baja domestik dan regional diproyeksikan terus meningkat seiring perkembangan sektor konstruksi, transportasi, dan manufaktur.
“Pertumbuhan industri baja selalu selaras dengan pertumbuhan ekonomi. Karena itu, melihat industri baja tidak bisa hanya dari kondisi hari ini. Investasinya bersifat jangka panjang 10 sampai 15 tahun ke depan. You invest for tomorrow, not today. Tetapi hari ini industrinya tetap harus efisien dan efektif,” jelas Febriany.
Danantara Indonesia saat ini tengah mengevaluasi berbagai opsi pengembangan Krakatau Steel secara bertahap, mulai dari pemulihan operasi, optimalisasi aset, hingga potensi kolaborasi teknologi. Seluruh langkah disusun dengan prinsip kehati-hatian untuk memastikan keberlanjutan industri baja nasional.
Adapun dalam sektor aviasi, integrasi Pelita Air ke dalam Garuda Group diperkenalkan sebagai upaya penyelarasan ekosistem penerbangan nasional. Langkah ini bertujuan memperjelas segmentasi layanan, memperkuat pengelolaan armada, dan memastikan konsistensi kualitas layanan publik.
Pada tingkat portofolio, penyederhanaan struktur BUMN menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan fokus usaha dan efisiensi. “Kemitraan strategis dimanfaatkan tidak hanya sebagai akses permodalan, tetapi juga sebagai pintu masuk teknologi, pasar, dan kapabilitas baru,“ tutur Febriany.
Febriani menggarisbawahi bahwa proses transformasi di seluruh sektor strategis akan terus dijalankan secara hati-hati, berbasis analisis, dan berorientasi pada kesinambungan jangka panjang. Garuda Indonesia dan Krakatau Steel diposisikan sebagai simpul penting dalam memperkuat konektivitas dan industri dasar, sementara penataan portofolio BUMN diarahkan untuk memastikan struktur usaha negara semakin efektif, kompetitif, dan memberikan nilai nyata bagi masyarakat.
Baca Juga
RUPSLB Besok, Garuda (GIAA) Ungkap Skema Suntikan Dana Rp 23,67 Triliun dari Danantara

