Mata Uang Digital Bank Sentral dan Dampak terhadap Dominasi Dolar
INVESTORTRUST.ID – Bank sentral di seluruh dunia terus mempertimbangkan untuk menerbitkan mata uang digital mereka sendiri (central bank digital currency/CBDC). Beberapa pihak telah mengambil langkah ke arah ini.
Bank Rakyat Tiongkok meluncurkan uji coba e-CNY di Shenzhen pada 2020, dan sejak itu memperluas penggunaannya ke kota-kota lain. Sveriges Riksbank sedang menguji e-krona untuk pembayaran komersial dan ritel. Bahkan, Dewan Federal Reserve Amerika Serikat yang relatif tenang telah mengeluarkan makalah, yang mempertimbangkan pro dan kontra CBDC.
Terbukti, bank-bank sentral berebut untuk menaiki kereta CBDC sebelum meninggalkan stasiun. Tapi, apa yang memotivasi tindakan 'gila' ini?
Baca Juga
Kurs Rupiah Bergejolak, BI Telat Rilis Indikator Stabilitas Nilai Tukar
Salah satu argumennya adalah, dengan menyediakan akses digital kepada siapa pun yang memiliki ponsel atau kartu pintar, CBDC akan memperluas teknologi pembayaran modern ke masyarakat," kata Tri Winarno kepada Investortrust, Jumat (4/10/2024). "Namun, pengalaman negara-negara seperti India menunjukkan bahwa ada cara yang lebih mudah untuk mencapai tujuan ini," imbuhnya.
India mampu mengatasi masalah “unbanked” dengan mewajibkan bank-bank komersial untuk menawarkan rekening tabungan tanpa persyaratan saldo minimum. “Skema Kekayaan Rakyat Perdana Menteri (The Prime Minister’s People’s Wealth Scheme)" juga menugaskan bank-bank pemerintah untuk menawarkan rekening tanpa saldo dan berbiaya rendah, kepada penduduk perdesaan yang tidak mempunyai rekening bank. Pada tahun lalu, sekitar 400 juta “rekening masyarakat India” telah dibuka.
India juga telah menciptakan infrastruktur pembayaran elektronik yang efisien dan berbiaya rendah, United Payments Interface. UPI adalah sistem pembayaran real-time yang dioperasikan oleh National Payments Corporation, sebuah organisasi nirlaba yang disponsori pemerintah. Bank, perusahaan uang elektronik, dan perusahaan teknologi telah memperkenalkan aplikasi pembayaran seluler berkemampuan UPI, yang memungkinkan pengguna mengirim uang antar-rekening bank.
Namun, meski ada sekitar 300 bank yang berpartisipasi dalam sistem ini, pemerintah India masih ingin meluncurkan CBDC. Mungkin motivasinya adalah keyakinan pembuat kebijakan bahwa CBDC akan menguntungkan sektor teknologi informasi (TI). Namun, dari sudut pandang inklusi keuangan dan kemudahan pembayaran, unit ini akan menjadi mubazir.
Ketergantungan Dolar Merugikan
Di sisi lain, pembayaran lintasbatas tidak begitu murah dan sederhana. Selain itu, pemerintah semakin merasa tidak nyaman dengan ketergantungan mereka pada dolar AS sebagai instrumen dominan dalam transaksi tersebut, karena Amerika Serikat menggunakan sanksi keuangan. Harapannya adalah CBDC dapat memberikan alternatif digital dalam proses transaksi pembayaran lintasbatas negara, tanpa khawatir tergejolak oleh keganasan greenback.
Selain itu, tidak ada hambatan untuk menukar CBDC negara lain dan menggunakannya untuk pembayaran internasional. Beberapa CBDC dapat berjalan di satu blockchain. Dengan bantuan dari Bank for International Settlements, bank sentral telah bereksperimen dengan platform yang dikenal sebagai mBridges, tempat CBDC dapat ditransaksikan.
Baca Juga
Data Tenaga Kerja AS Menguat Dorong Dow Jones Rekor, Asing Keluar SRBI dan Saham RI
Namun, meski kita memiliki pengetahuan teknis, terdapat hambatan politik yang besar dalam penerapan pengaturan ini secara luas. Dapatkah Anda membayangkan Tiongkok dan AS menyepakati cara mengatur platform pertukaran CBDC mereka? Bisakah Anda bayangkan kesepakatan yang dicapai oleh 120 bank sentral?
Adu Cepat?
Motivasi lain penerbitan CBDC adalah adanya keyakinan bahwa keunggulan finansial -- dan bahkan geopolitik -- akan bergantung pada bank sentral mana yang paling cepat menerbitkannya. Pandangan ini didorong oleh ketegangan ekonomi dan politik antara Amerika Serikat dan Tiongkok, serta langkah cepat Cina dalam menerbitkan CBDC, yang dipandang mengancam dominasi dolar.
Namun argumen ini mengasumsikan bahwa CBDC akan digunakan untuk transaksi lintasbatas negara, dan akan menggantikan pasar antarbank internasional sebagai sarana transaksi internasional. Namun, mengingat kendala politik yang menghambat platform transaksi untuk CBDC yang berbeda, hal ini kemungkinan agak sulit terjadi.
Pada akhirnya, bank sentral pun menghadapi “trilema” ketika mempertimbangkan penerbitan CBDC. Mereka hanya dapat memiliki dua dari tiga hal: mata uang digital, kerahasiaan transaksi, dan stabilitas keuangan. Bank sentral Eropa, ketika menerbitkan CBDC, harus menghormati Peraturan Perlindungan Data Umum UE, undang-undang privasi data yang paling ketat di dunia.
Jika mereka menerbitkan mata uang digital melalui perantara resmi, penggunanya akan menikmati kerahasiaan. Namun pihak berwenang akan memiliki kemampuan terbatas, untuk melacak transaksi menggunakan CBDC mereka.
Tentu saja, orang yang menggunakan mata uang dalam transaksi sudah menikmati anonimitas, tetapi kita dapat membayangkan transaksi lain yang melibatkan transfer bank dilakukan menggunakan CBDC. Bank sentral dan pihak-pihak lainnya khawatir bahwa bank-bank komersial akan terdisintermediasi, yakni bahwa transaksi yang diselesaikan melalui transfer bank akan beralih ke CBDC.
Dengan adanya kerahasiaan transaksi, hal ini dapat menyebabkan timbulnya risiko keuangan dan ketidakseimbangan, yang tidak terlihat oleh regulator. Inilah sebabnya mengapa Bank Sentral Eropa dengan bijak hanya bergerak lambat menuju penerbitan CBDC.
Kontrol Modal Tiongkok
Sementara itu, Bank Rakyat Tiongkok (People's Bank of China/Bank Sentral RRT) tidak diwajibkan untuk memberikan kerahasiaan. Padahal, saat mengunduh dompet digital yang mampu melakukan transaksi tanpa batas, diperlukan informasi yang luas dari pengguna. Sementara saat mengunduh dompet terbatas yang mampu melakukan transaksi ritel kecil, itu hanya memerlukan nomor ponsel pengguna, dan berjanji, berapa pun nilainya, tidak melacak transaksinya.
Kita akan lihat. Langkah-langkah ini harus mencegah individu menggunakan e-CNY untuk menghindari kontrol modal Tiongkok, mengeluarkan sejumlah besar uang ke luar negeri, dan melakukan tindakan yang mengancam stabilitas keuangan. Mengenai apakah masyarakat akan mempercayai CBDC Tiongkok, mengingat kondisi ini, hanya waktu yang akan menjawabnya.
Keuangan internasional, sebagaimana diketahui oleh para pakar ekonomi moneter internasional, sudah lama penuh dengan trilema. Alih-alih menghindarinya, CBDC justru akan menciptakan masalah masalah baru bagi sistem perekonomian. Karena itu, prospek perkembangan penggunaan CBDC sepertinya akan berjalan lambat.

