Rupiah dan Mata Uang Negara Mitra Dagang Menguat Terhadap Dolar AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah dan mata uang negara-negara mitra dagang Indonesia serempak menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah terapresiasi ke level Rp 16.762 per US$ pada Selasa (3/2/2026) pukul 09.09 WIB.
Penguatan rupiah dan mata uang negara mitra dagang ini karena indeks dolar AS atau DXY yang melemah 0,11% me jadi 97,52.
Selain rupiah penguatan juga terpantau terjadi terhadap yen Jepang (0,10%), yuan China (0,07%), euro Uni Eropa (0,17%), poundstreling Britania Raya (0,12%), rupee India (0,52%), peso Filipina (0,06%), dolar Singapura (0,11%), dan baht Tailan (0,32%).
Baca Juga
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menjelaskan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik 4 bps ke 4,28% (+10,9 bps ytd), seiring meredanya tekanan dari aksi jual tajam pada logam mulia dan mata uang kripto pekan lalu, sehingga investor kembali memfokuskan perhatian pada momentum kinerja laba dan kepemimpinan saham berkapitalisasi besar.
Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun bergerak mendekati level tertinggi lima bulan di sekitar 4,3% yang tercapai dua pekan sebelumnya, mengikuti pemulihan pasar saham, di tengah penilaian pasar terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve di bawah calon ketua baru, Kevin Warsh.
Pasar kembali beralih ke aset berisiko setelah koreksi di awal pekan, seiring anjloknya harga emas yang mendorong bursa-bursa utama menaikkan persyaratan marjin secara signifikan untuk posisi terbuka.
Sementara itu, investor obligasi terus mencermati bagaimana Warsh akan memimpin FOMC tahun ini. Ketua The Fed yang akan datang tersebut dipandang sebagai pihak yang hawkish terhadap inflasi dan sebelumnya menentang perluasan neraca The Fed saat krisis keuangan global, yang turut memperlebar kurva imbal hasil AS di awal bulan.
Imbal hasil juga meningkat setelah data terbaru ISM menunjukkan pemulihan tak terduga pada sektor manufaktur AS.
Baca Juga
Rupiah Kembali Terdepresiasi, Imbas Calon Pengganti Ketua The Fed
IHSG pada perdagangan Senin (2/2/2026) turun 4,88% ke level 7.922,73 dengan arus dana asing mencatatkan net buy sebesar Rp 654,8 miliar atau net sell Rp 9,2 triliun ytd. Imbal hasil SUN tenor 10 tahun (02/02/2026) turun 1,0 bps ke 6,32%, sementara imbal hasil obligasi pemerintah USD tenor 10 tahun naik 3,1 bps ke 5,0%.
Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut inflasi tahunan Indonesia meningkat menjadi 3,55% pada Januari 2026 dari 2,92% pada bulan sebelumnya. Ini merupakan level tertinggi sejak Mei 2023. Meski lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 3,8%, angka tersebut sedikit melampaui kisaran target Bank Indonesia sebesar 1,5%–3,5%.
Surplus neraca perdagangan Indonesia melebar menjadi US$ 2,52 miliar pada Desember 2025, naik dari US$ 2,24 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya dan di atas perkiraan pasar sebesar US$ 2,45 miliar. Ekspor secara tak terduga tumbuh 11,64% secara tahunan ke level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun sebesar US$ 26,35 miliar.
"Pergerakan USD/IDR hari ini diperkirakan berada pada kisaran Rp 16.755–16.830 per US$" kata dia.

