Kurs Rupiah Bergejolak, BI Telat Rilis Indikator Stabilitas Nilai Tukar
JAKARTA, investortrust.id – Berbeda dengan rutinitas mingguan sebelumnya, pada Jumat (4/10/2024) hingga pukul 21.06 WIB, Bank Indonesia belum mengeluarkan data perkembangan indikator stabilitas nilai rupiah. Padahal, nilai tukar rupiah tengah bergejolak mendekati level psikologis Rp 15.500/USD, akibat imbas memanasnya konflik di Timur Tengah usai gelombang serangan rudal Iran menghujam Israel.
Data indikator stabilitas nilai rupiah terakhir dirilis Bank Sentral pada Jumat pekan lalu, 27 September 2024. Padahal, pada pekan ini, rupiah tercatat tengah bergejolak.
Baca Juga
Pasar Khawatir Eskalasi di Timur Tengah, Harga Minyak Melonjak Lebih dari 5%
Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank terus merosot terhadap greenback, dengan Jisdor Bank Indonesia (BI) mencatat, kurs rupiah pada Jumat (4/10/2024) ditutup melemah 101 poin atau 0,65% ke Rp 15.495/USD. Ini semakin mendekati level psikologis Rp 15.500/USD. Hal itu juga berimbas indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia ditutup anjlok, hingga di bawah level psikologis 7.500 sore tadi, tepatnya 7.496,09.
Pada perdagangan spot valas yang dipantau Yahoo Finance, kurs rupiah juga nampak tersungkur. Kurs rupiah hingga pukul 15.30 WIB bergerak melemah 66 poin (0,43%) ke level Rp 15.480/USD.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Edi Susianto sebelumnya membeberkan soal mata uang Garuda yang cenderung terus melemah terhadap dolar AS. Ia mengatakan, tidak hanya rupiah, pergerakan mata uang regional di Asia umumnya melemah terhadap dolar AS sepanjang hari ini.
Ia menegaskan, meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah menjadi sentimen kuat yang berpengaruh terhadap naiknya indeks dolar AS. "Tak hanya itu, rilis data fundamental AS yang menguat semakin menekan pergerakan mata uang Asia, termasuk rupiah, terhadap dolar AS. Hal itu mendorong menurunnya ekspektasi pasar soal agresivitas penurunan Fed Funds Rate," kata Edi.
Baca Juga
Berlanjut, Pemodal Asing kembali Net Sell Sasham Rp 521,01 Miliar
Di sisi lain, ada ekspektasi pasar terhadap European Central Bank (ECB) yang diperkirakan akan melakukan kebijakan memangkas suku bunga acuan. Ekspektasi ini berbeda dari sebelumnya, di mana ECB diperkirakan akan menahan suku bunga acuan.
"BI akan terus mengawal kondisi perkembangan tersebut. Kami akan melakukan intervensi pasar untuk memastikan keseimbangan supply demand di pasar tetap terjaga, dan supply valas dari korporasi masih cukup support di market," tutur Edi.
Berlanjut Net Sell Saham
Sementara itu, Bursa Efek Indonesia mencatat, dana asing masih mengalir keluar dari pasar saham domestik pada Jumat ini, dengan mencatatkan net sell Rp 0,52 triliun. Hal ini melanjutkan penjualan bersih saham Rp 1,10 triliun kemarin.
Dengan demikian, sepanjang Oktober ini, asing sudah mencatatkan penjualan bersih saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) senilai Rp 1,77 triliun month to date. “Sedangkan secara year to date, asing masih mencatatkan net buy saham Rp 47,87 triliun,” papar BEI dalam keterangan di Jakarta, pada Jumat sore.
Net Buy SBN Mtd
Sementara itu, di pasar Surat Berharga Negara (SBN), data terbaru yang dirilis Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) adalah transaksi kemarin. Non-resident melakukan pembelian neto jumbo Rp 5,19 triliun di pasar SBN rupiah yang dapat diperdagangkan.
Secara month to date, asing sudah mencatatkan pembelian bersih Rp 7,89 triliun di SBN rupiah yang dapat diperdagangkan hingga kemarin. Secara year to date, asing mencatatkan pembelian bersih Rp 48,38 triliun hingga kemarin.

