Deflasi 5 Bulan Beruntun, Daya Beli Masyarakat Menurun?
JAKARTA, investortrust.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terjadi deflasi September 2024 sebesar 0,12% secara bulanan. Ini merupakan deflasi 5 bulan beruntun tahun 2024 di Indonesia.
Deflasi selama 5 bulan beruntun itu banyak disebabkan oleh penurunan harga bahan-bahan pangan (volatile food). "Penurunan tren inflasi volatile food ini juga sejalan dengan menurunnya harga di tingkat pedagang besar. Penyebab utama deflasi karena kenaikan harga pangan amat sangat tinggi, di akhir 2023 hingga awal tahun 2024," kata Ekonom dari Center of Reform on Economics (Core) Eliza Mardian kepada Investortrust, Jakarta, Rabu (2/10/2024).
Merujuk data BPS, Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) pertanian bulan September 2024 mencapai 2,14% year on year. Ini terus menurun, sejak mencapai puncaknya pada momen Idul Fitri April 2024 lalu (9,10%, yoy).
Baca Juga
Kurs Rupiah Melemah, Tertekan Panasnya Geopolitik Timur Tengah
56% Konsumsi Kelas Menengah untuk Makanan
Eliza mengatakan, hampir 56% konsumsi kelas menengah dan menengah bawah digunakan untuk belanja bahan makanan. Pada saat harga bahan pangan naik, daya beli masyarakat kian menurun, yang diperparah dengan kenaikan upah minimum yang tidak sebanding.
"Akhirnya daya beli masyarakat terus melemah hingga saat ini. Kondisi itu diperparah dengan banyaknya PHK (pemutusan hubungan kerja), yang menyebabkan daya beli masyarakat kian tertekan," tandas dia.
Pada kesempatan terpisah, Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani blak-blakan menyebut tengah terjadi fenomena penurunan purchasing power atau daya beli masyarakat. Ia mengatakan hal ini perlu menjadi sorotan serius pemerintah.
"Otomatis kalau demand-nya turun, supply-nya over, ya otomatis deflasi," kata dia saat ditemui di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta, Rabu (2/10/2024).
Menurut pria yang juga menjabat sebagai ketua umum Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) itu, salah satu alternatif yang dapat digenjot oleh pemerintah untuk berkontribusi positif terhadap perekonomian adalah sektor pariwisata. Ia mencontohkan Thailand, sebagai salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yang berhasil mengoptimalkan potensi wisata.
"Itu pemerataan pendapatannya betul-betul secara real sampai ke masyarakat. Dan, ini akan terjadi otomatis, kalau terjadi permintaan kan tidak deflasi, tapi (semestinya) inflasi yang terkontrol," sebut dia.
Deflasi Terdalam 5 Tahun
Sebelumnya, Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, deflasi pada September 2024 sebesar 0,12% secara bulanan (month to month/mtm) tercatat yang paling dalam, dibandingkan dengan bulan yang sama lima tahun terakhir.
Amalia mengatakan lebih lanjut, deflasi yang terjadi dalam lima bulan terakhir terlihat secara umum disumbang oleh penurunan harga komoditas bergejolak.
Baca Juga
Deputi Gubernur Senior BI Destry: Banyak Keuntungan, Bank Lain Bisa Gabung CCP
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama deflasi pada September 2024. Deflasi dari kelompok ini tercatat sepanjang enam bulan berturut-turut atau sejak April 2024.
"Selain disumbang kelompok makanan, minuman, dan tembakau, deflasi pada September 2024 disumbang oleh harga BBM. Penyesuaian harga BBM pada September 2024 membuat deflasi," kata Amalia.

