Deflasi 4 Bulan, Menkeu: Tak Cerminkan Penurunan Daya Beli
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut deflasi yang terjadi empat bulan secara beruntun pada 2024 bukan merupakan indikasi pelemahan daya beli masyarakat. Sebab, deflasi yang kembali terjadi pada Agustus 2024 tidak menekan inflasi inti.
“Kalau lihat dari core inflation-nya masih positif,” kata Sri Mulyani, di kawasan DPD, Jakarta, Senin (2/9/2024).
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, komponen inflasi inti masih mengalami inflasi sebesar 0,2% secara bulanan. Komponen ini menyumbang inflasi Agustus 2024 sebesar 0,13%.
Baca Juga
Harga Emas Antam Naik Rp 3.000 per Gram, Cek Daftar Lengkapnya
Bendahara Negara mengatakan, deflasi yang terjadi pada Agustus karena anjloknya inflasi bahan pangan bergejolak atau volatile food. Deflasi yang terjadi pada komponen volatile food sebesar 1,24% secara bulanan, dengan andil deflasi 0,2%.
"Kalau deflasi berasal dari harga pangan, itu memang diupayakan oleh pemerintah untuk menurunkan, terutama kan waktu itu inflasi dari unsur harga pangan cukup tinggi terutama dari beras, kemudian faktor El Nino. Jadi, kalau penurunan koreksi terhadap harga pangan itu menjadi tren yang positif," kata dia.
Waspada
Meski demikian, Sri Mulyani mengatakan pemerintah tentu tetap waspada terhadap data-data inflasi tersebut, meski deflasi empat bulan beruntun tidak disebabkan angka inflasi inti yang ambruk. "Kita akan tetap waspada ya, meski kalau kita lihat core inflation-nya masih cukup bagus dan masih tumbuh, ya itu oke," kata dia.
Baca Juga
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini mengatakan, deflasi sebesar 0,03% secara bulanan pada Agustus 2024 didorong komponen harga bergejolak. Komponen harga bergejolak mengalami deflasi sebesar 1,24% secara bulanan dengan andil deflasi 0,2%.
“Komponen yang dominan memberikan deflasi harga bergejolak ini adalah bawang merah, daging ayam ras, tomat, dan telur ayam ras,” kata dia.
Pudji mengatakan komponen inti mengalami inflasi sebesar 0,2% secara bulanan dengan andil sebesar 0,13%. Komoditas yang mempengaruhi inflasi pada komponen ini yaitu kopi bubuk, emas perhiasan, biaya sekolah dasar, biaya perguruan tinggi, dan biaya sekolah menengah pertama.
Sementara itu, komponen yang diatur pemerintah mengalami inflasi sebesar 0,23% secara bulanan dengan andil inflasi 0,04%. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi yaitu komponen yang diatur pemerintah berupa bensin dan sigaret kretek mesin (SKM).

