Deputi Gubernur Senior BI Destry: Banyak Keuntungan, Bank Lain Bisa Gabung CCP
JAKARTA, investortrust.id - Bank Indonesia baru saja meluncurkan Central Counterparty (CCP) untuk akselerasi menuju pasar uang dan pasar valuta asing di Indonesia yang modern dan maju. BI bersinergi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), serta 8 bank untuk membentuk dan mengembangkan CCP, yang sudah lama ada di negara-negara maju.
Sebagai tahap awal implementasi CCP di Tanah Air, terdapat 8 bank yang diikutsertakan serta BEI sebagai pemegang saham existing KPEI. Bank ini mencakup 3 dari bank Himbara -- PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI --, PT Bank Central Asia Tbk (BCA), PT Bank CIMB Niaga Tbk, PT Bank Permata Tbk, PT Bank Danamon Indonesia Tbk, serta PT Bank Maybank Indonesia Tbk.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan, selain 8 bank yang sudah bekerja sama, bank lain juga berpotensi bergabung dalam kerja sama CCP. “Bank-bank yang bisa ikut bekerja sama adalah yang telah terdaftar primary dealer pasar uang dan valuta asing. Bank ini berpotensi untuk turut serta dalam CCP, karena memiliki transaksi pasar uang dan valas yang besar, dan akan memperoleh banyak manfaat dari keikutsertaan di CCP,” katanya kepada Investortrust.id, Jakarta, Rabu (2/10/2024) malam.
Destry ini kembali menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) untuk periode 2024-2029, setelah sebelumnya menjabat pada periode 2019-2024.
| Perkembangan rupiah terhadap USD berdasarkan kurs Jisdor BI dalam lima tahun terakhir, hingga 2 Oktober 2024. Infografis: Diolah Riset Investortrust. |
Lalu, apa saja potensi keuntungan bank yang bekerja sama dalam CCP? Destri menjelaskan, bank primary dealer memiliki volume transaksi pasar uang dan pasar valas yang besar. Dengan CCP memiliki fitur multilateral netting dan manajemen risiko yang baik, maka bank akan memperoleh manfaat yang besar dari efisiensi margin dan permodalan apabila mengkliringkan transaksi di CCP.
Transaksi Diproyeksi 10 Kali Lipat
Pada kesempatan terpisah sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan Central Counterparty atau CCP yang dibentuk di Indonesia bisa membuat transaksi dolar ke rupiah melonjak. Ia memproyeksikan transaksi bisa terus melejit dari rata-rata saat ini US$ 100 juta/hari menjadi US$ 1 miliar/hari hingga tahun 2030, atau melambung menjadi 10 kali lipat.
Lalu, seberapa besar dampaknya dalam memperkuat stabilisasi rupiah dan bagaimana mekanisme/cara kerjanya untuk memperkuat stabilisasi rupiah?
“Dengan adanya CCP, akan mengurangi segmentasi antarpelaku di pasar derivatif valas sebagai instrumen hedging nilai tukar. Perluasan pelaku akan berdampak pada peningkatan volume transaksi dolar rupiah. Perluasan pelaku dan peningkatan volume derivatif akan memperdalam pasar valas, sehingga memperkuat stabilitas rupiah,” papar Destry.
Lalu, bagaimana beroperasinya CCP ini bisa menurunkan yield, termasuk imbal hasil surat berharga negara (SBN) yang selama ini menjadi beban cukup besar bagi APBN RI?
Destry menjelaskan, ke depan, CCP mendorong penurunkan yield SBN juga. Bagaimana caranya?
“CCP ke depan akan mencakup kliring transaksi repurchase agreement (repo). Perluasan implementasi CCP SBNT (Central Counterparty untuk Transaksi Derivatif Suku Bunga dan Nilai Tukar Over-the-Counter) pada repo akan mengurangi segmentasi di pasar repo, sehingga memperluas pelaku dan meningkatkan volume repo,” ujar Destry.
Peningkatan repo akan meningkatkan likuiditas SBN, sehingga menurunkan premi risiko likuiditas SBN. Penurunan komponan premi risiko likuiditas SBN akan menurunkan yield SBN.
Dampak Dorong Investasi Asing
Lalu, bagaimana dampak CCP terhadap peningkatan investasi asing di pasar keuangan di Indonesia?
Ia menyebut, CCP akan mendorong penguatan aliran modal asing masuk. “Peningkatan inflow investasi asing akan meningkatkan volume pasar keuangan domestik dan memperdalam pasar. Likuiditas yang meningkat dari inflow akan mendorong penurunan yield. Selanjutnya, pasar yang semakin dalam akan mendorong stabilitas pasar,” tandasnya.
Bagaimana dampaknya terhadap iklim investasi Indonesia secara umum?
Destry menjelaskan, CCP akan mendorong perluasan pelaku dan peningkatan volume produk pasar keuangan. Sebagai ilustrasi, implementasi CCP yang akan mengkliringkan transaksi derivatif valas berupa Domestic Non Deliverable Forward (DNDF) akan mendorong perluasan pelaku di pasar hedging meningkat. Dengan demikian, investor akan mudah melakukan lindung nilai investasi terhadap pengaruh pergerakan nilai tukar.
Lalu perlukah para investor dan pengusaha memanfaatkan adanya CCP di Indonesia?
Destry menegaskan, CCP akan semakin mengakselerasi pendalaman pasar keuangan, sehingga akan mendorong peningkatan sumber pembiayaan usaha dan instrumen lindung nilai nilai tukar dan suku bunga. “Dengan demikian, investor dan pengusaha ditargetkan semakin mudah dalam memperoleh sumber pembiayaan melalui pasar keuangan. Dan, di sisi lain, mudah melakukan manajemen risiko suku bunga dan nilai tukar melalui penggunaan instrumen lindung nilai,” tandasnya. ***

