Pemotongan Bunga Bisa 50 Bps, Kurs Rupiah Terus Melesat Tembus Rp 15.299/USD
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar rupiah cenderung terus melesat terhadap dolar Amerika Serikat. Dalam pembukaan perdagangan Senin awal pekan ini (26/8/2024), dilansir Yahoo Finance, kurs mata uang Garuda menguat 185 poin ke level Rp 15.299/USD pada pukul 09.00 WIB, dibanding posisi Rp 15.484/USD Jumat (23/8/2024) lalu.
"Pergerakan indeks dolar cenderung melemah, dikarenakan sinyal yang makin menguat dari bank sentral AS soal arah kebijakan suku bunga. Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengisyaratkan pemotongan suku bunga akan segera terjadi," kata Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro dalam keterangan pada Senin (26/8/2024).
Powell menyatakan keyakinan bahwa inflasi akan kembali ke target bank sentral negara dengan perekonomian terbesar di dunia itu, yakni 2%. Ia meyakinkan pasar bahwa mereka menyeimbangkan risiko terhadap pasar tenaga kerja.
Powell mencatat pasar tenaga kerja AS mendingin dengan cepat, menyusul laporan pekerjaan yang lebih lemah dari Juli 2024 dan revisi ke bawah daftar gaji minggu ini. "Konsensus pasar saat ini melihat peluang sekitar 70% untuk pemotongan 25 bps pada September dan 30% di pemotongan 50 bps," kata Andry.
Baca Juga
IHSG Potensi Menguat, Cek Rekomendasi Saham BBNI, EXCL, INDY, BSDE, dan PGAS
Indeks Dolar Terendah Sejak Juli 2023
Minggu ini, investor menantikan data klaim pengangguran awal AS pada hari Kamis, untuk mengukur keadaan pasar tenaga kerja. "Ada pula pembacaan pengeluaran konsumsi pribadi Juli 2024 pada hari Jumat," paparnya.
Indeks dolar tercatat turun di bawah 101 pada Jumat lalu, level terendah sejak Juli 2023, setelah Ketua The Fed Jerome Powell mengonfirmasi ekspektasi pasar Federal Reserve akan melakukan pemangkasan suku bunga beberapa kali tahun ini. Dalam pidatonya di Jackson Hole, Powell mengatakan sudah waktunya bagi Fed untuk menyesuaikan kebijakannya, tetapi waktu dan besaran pemangkasan suku bunga akan bergantung pada data ekonomi mendatang.
Baca Juga
Sementa itu imbal hasil obligasi pemerintah IDR 10 tahun turun 1,30 bps menjadi 6,64% (+11,9 bps year to date). Sedangkan imbal hasil obligasi pemerintah USD 10 tahun (INDON) naik 1,7 bps menjadi 4,72% (-10,3 bps ytd).
Sebelumnya berdasarkan kurs Bank Mandiri, rupiah pada Jumat lalu menguat 0,71% ke level Rp 15.490/USD. Namun, rupiah masih terdepresiasi 0,60% ytd.
Data Ditunggu Minggu Ini
Pada kesempatan terpisah, analis pasar keuangan Cheril Tanuwijaya membeberkan Ketua The Fed Jerome Powell memberikan komentar bahwa sudah saatnya kebijakan diubah dan pemangkasan suku bunga semakin dekat. Komentar dovish itu disampaikan pada pidato di acara tahunan Jackson Hole Symposium.
"Hal itu ditopang oleh inflasi AS yang melanjutkan tren pelemahan yang semakin mendekati target 2% dan pasar tenaga yang 'mendingin'. Ini ditandai dengan tingkat pengangguran di level tertinggi sejak Oktober 2021," ujarnya saat membeberkan hasil analisis Tim Riset InvestasiKu, Jakarta, Senin (26/8/2024).
Ia menuturkan, mayoritas pelaku pasar masih melihat kecenderungan pemangkasan suku bunga sebesar 25 bps, dengan probabilitas 76% untuk FOMC September mendatang. Pekan ini, lanjut dia, fokus pasar tertuju pada berbagai rilis data ekonomi AS seperti produk domestik bruto (PDB) kuartal II-2024. Selain itu, pemesanan barang tahan lama, dan inflasi personal consumption expenditures (PCE) Juli.

