Rupiah Terpantau Melemah terhadap Dolar AS di Awal Mei 2025
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Mengawali perdagangan pada awal Mei 2026, rupiah terpantau melemah dalam terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Senin (4/5/2026) pukul 09.08 WIB, rupiah melanjutkan depresiasi sebesar 0,02% ke posisi Rp 17.341 per US$.
Sejumlah mata uang negara mitra dagang Indonesia seperti yen Jepang, rupee India, dan dolar Singapura terpantau melemah. Yen melemah 0,08%, rupee melemah 0,07%, dan dolar Singapura melemah 0,04%.
Sementara itu, baht Tailan, ringgit Malaysia, peso Filipina, dan yuan China terapresiasi terhadap dolar AS. Baht menguat 0,03%, ringgit menguat 0,31%, peso Filipina menguat 0,1%, dan yuan menguat 0,12%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mencatat posisi rupiah (30/04) terdepresiasi 0,36% ke level Rp17.353 per US$ hingga akhir April 2026. Dengan posisi itu rupiah telah terdepresiasi 3,97%.
Pada awal Mei 2026 ini, Andry menyebut Indeks Dolar (DXY) jatuh ke bawah level 98, mencapai titik terendahnya sejak akhir Februari, setelah mencatatkan penurunan harian terbesar sejak pertengahan Maret pada sesi sebelumnya. Penurunan ini sebagian besar didorong oleh penguatan tajam mata uang Yen, menyusul dugaan intervensi oleh otoritas Jepang.
Laporan menunjukkan bahwa pejabat AS telah diberitahu sebelumnya, sejalan dengan praktik G7 dalam mengoordinasikan intervensi mata uang utama.
Baca Juga
Rupiah Terseok ke Rp 17.370 per US$, Pascaputusan The Fed Pertahankan Suku Bunga Acuan
Dari sisi ekonomi, data terbaru menunjukkan bahwa pertumbuhan manufaktur AS stabil di level tertinggi dalam empat tahun pada bulan April. Hal ini didorong oleh pertumbuhan pesanan baru yang kuat, pengiriman pemasok yang semakin lama, dan kenaikan tajam tekanan harga di tengah konflik Iran yang masih berlangsung.
Di dalam negeri, PMI Manufaktur Indonesia dari S&P Global turun tipis ke level 49,1 pada April 2026. Angka tersebut melemah jika dibandingkan PMI Manufaktur Maret 2026 yang sebesar 50,1.
"Ini merupakan level terendah sejak Juni 2025 dan menandakan kontraksi pertama dalam aktivitas pabrik dalam sembilan bulan terakhir," ujar Andry.
Andry menjelaskan penyerapan tenaga kerja turun pada laju tercepat dalam sepuluh bulan, dan tumpukan pekerjaan terus menurun. Perusahaan sedikit memangkas aktivitas pembelian sejalan dengan kebutuhan produksi yang melambat.
PMI Manufaktur AS dari S&P Global direvisi naik menjadi 54,5 pada April 2026, dari estimasi awal 54,0 dan di atas angka Maret sebesar 52,3. Ini mengindikasikan ekspansi terkuat di sektor manufaktur sejak Mei 2022. Pesanan baru meningkat pada laju tercepat dalam empat tahun, meskipun ekspor mengalami penurunan selama sebelas bulan berturut-turut akibat tarif dan konflik di Timur Tengah.
Terkait kebijakan moneter AS, Presiden Fed Cleveland Beth Hammack dan Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari menyatakan kekhawatiran bahwa pernyataan kebijakan terbaru The Fed terlalu dovish. Hal ini menggarisbawahi tantangan potensial yang mungkin dihadapi oleh calon Ketua Fed berikutnya, Kevin Warsh, jika ia mencoba menurunkan suku bunga.
The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran target 3,5%–3,75% untuk pertemuan ketiga berturut-turut pada April 2026. Keputusan ini sesuai dengan ekspektasi pasar.

