Rupiah Terpantau Terdepresiasi ke Level Rp 16.788 per US$
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah kembali menunjukkan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah terdepresiasi 0,20% ke level Rp 16.788 per US$ pada Jumat (30/1/2026) pukul 10.43 WIB.
Pelemahan yang terjadi pada rupiah terjadi seiring penguatan indeks dolar AS atau DXY yang sebesar 0,34% di posisi 96,61.
Selain rupiah, beberapa mata uang negara mitra dagang Indonesia juga menunjukkan pelemahan terhadap dolar AS. Yen Jepang melemah 0,55%, euro Uni Eropa melemah 0,45%, dan poundsterling Britania Raya juga melemah 0,40%.
Di kawasan Asia Tenggara, ringgit Malaysia, baht Tailan, dan dolar Singapura melemah masing-masing 0,31%, 0,51%, dan 0,21%.
Peso Filipina, rupee India, dan yuan China terpantau menguat terhadap greenback. Peso menguat 0,03%, rupee menguat 0,07%, dan yuan menguat 0,04%.
Baca Juga
Rupiah Melemah di Kamis Sore, Berada di Level Rp 16.786 per US$
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan pasar saham AS, pada Kamis (29/01/2026) ditutup bervariasi. Indeks Dow Jones naik 0,11% ke level 49.071,56, sementara S&P 500 turun 0,13% ke 6.969,01.
Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun turun 1,19 bps ke 4,23%, seiring investor bersiap menjelang keputusan kebijakan terbaru Federal Reserve.
"The Fed mempertahankan suku bunga acuan (federal funds rate) pada kisaran target 3,5%–3,75% dalam pertemuan 26 Januari, sesuai ekspektasi pasar, setelah tiga kali penurunan suku bunga berturut-turut pada tahun lalu. Namun, Gubernur The Fed Stephen Miran dan Christopher Waller memberikan suara menentang keputusan tersebut, dengan keduanya mendorong pemangkasan suku bunga tambahan sebesar 25 bps," kata Andry.
DXY diperdagangkan di atas level 96 pada Kamis, setelah sebelumnya menyentuh level terendah dalam empat tahun pada awal pekan. Penguatan ini terjadi menyusul pernyataan Menteri Keuangan AS, Scott Bessent yang menegaskan kembali kebijakan “strong dollar.”
"Pernyataan tersebut berbeda dengan sinyal sebelumnya dari Presiden AS Donald Trump yang menyatakan bahwa pelemahan mata uang masih dapat diterima. Bessent menekankan bahwa fundamental ekonomi AS yang kuat dan kebijakan yang sehat akan menarik arus masuk modal, serta menepis spekulasi adanya intervensi AS untuk melemahkan dolar terhadap yen," ujar dia.
Harga emas naik menembus US$ 5.400 per ons pada Jumat, melanjutkan penguatan setelah koreksi singkat pada sesi sebelumnya dan menuju kenaikan bulanan yang solid lebih dari 25%, kinerja terbaik sejak dekade 1980-an. Kenaikan ini didorong oleh pelemahan dolar AS yang berkelanjutan serta meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik tetap tinggi setelah Trump mendorong Iran untuk terlibat dalam pembicaraan nuklir, sementara Teheran memperingatkan akan melakukan pembalasan dengan respons yang belum pernah terjadi sebelumnya.
"Pandangan kami USD/IDR hari ini diperkirakan bergerak di kisaran Rp 16.735–16.792 per US$" kata dia.

