Cegah Overtreatment Kesehatan, Pasien Diimbau Jangan Pasrah
SURABAYA, investortrust.id - Pendiri Yayasan Orang Tua Peduli dan Praktisi Medis Purnamawati Sujud mengungkapkan, pelayanan berlebih (overtreatment) yang diberikan oknum fasilitas kesehatan tak hanya berdampak buruk dari sisi finansial, tapi juga bagi kesehatan jangka panjang pasien. Oleh karena itu, pasien jangan hanya pasrah atas tindakan atau obat-obatan yang disarankan oleh tenaga medis.
“Jangan pasien itu memposisikan di pihak yang pasrah. Karena pasien juga stakeholder layanan kesehatan, jadi posisikan diri Anda sebagai konsumen kesehatan ,” ujarnya, dalam Investortrust Power Talk bertema ‘Fraud di Layanan Kesehatan, Bagaimana dengan Perlindungan Konsumen/Pasien?’, yang digelar di Vasa Hotel, Surabaya, Rabu (14/8/2024).
Jika menderita suatu penyakit tertentu, dikatakan Purnamawati, kemudian diberikan berbagai macam obat yang sangat banyak, maka perlu dipertanyakan khasiat dan fungsinya. Dengan konsumsi semakin banyak obat, tentu risiko kesehatan di kemudian hari akan makin meningkat.
Baca Juga
Praktisi Sebut Literasi Kesehatan Sangat Penting untuk Antisipasi Overtreatment Kesehatan
“Celakanya overtreatment itu efek sampingnya sebagian besar tidak ada yang tahu, tidak sadar pemburukan (penyakit) karena obat yang diresepkan (terlalu banyak), dikiranya karena penyakitnya. Dan efeknya biasanya beberapa lama kemudian,” katanya.
Menurutnya, hal ini sangat penting karena yang memiliki tanggung jawab terhadap kesehatan masing-masing adalah kita sendiri. Selain itu, agar terhindar dari praktik oknum “nakal” pada layanan kesehatan, ada baiknya melakukan sejumlah hal, salah satunya mengkonsumsi makanan sehat agar tubuh tetap bugar.
Baca Juga
Kesenjangan Pengetahuan antara Dokter dengan Pasien Picu Timbulnya Overtreatment Kesehatan
“Kedua, tingkatkan literasi kesehatan. Ketiga, dokter harus melakukan layanan kesehatan yang berbasis bukti, lalu si pasien harus mempelajari,” ucap Purnamawati.
Kemudian, ia juga berharap pemerintah segera mewujudkan medical record electronic karena hal tersebut bisa menjadi sarana monitor dan audit.
“Lalu, dari sisi asuransi harus diperkuat. Asuransi yang baik harus punya rambu-rambu, salah satunya formularium, dan akreditasi tidak boleh hanya sekadar dokumentasi paperwork,” ujarnya.

