Perundingan Hari Pertama Berakhir Tanpa Kesepakatan, Pertemuan Damai AS–Iran di Pakistan Dilanjutkan Hari Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Putaran pertama perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan setelah berlangsung maraton hingga lebih dari 14 jam, Sabtu (11/04/2026). Meski demikian, kedua pihak sepakat melanjutkan pembicaraan pada Minggu (12/4/2026) di tengah ketegangan yang belum mereda, terutama di Selat Hormuz.
Berdasarkan laporan CNBC yang dipublikasikan pada 11 April 2026 pukul 02.55 EDT dan diperbarui beberapa jam kemudian, pertemuan tatap muka yang melibatkan delegasi tingkat tinggi kedua negara tidak menghasilkan resolusi konkret. Pemerintah Iran melalui pernyataan di platform X menyebut perundingan akan terus dilanjutkan meski masih terdapat “sejumlah perbedaan mendasar”. Seorang pejabat Gedung Putih bahkan menggambarkan intensitas pembicaraan dengan kalimat singkat: “15 jam dan masih berlangsung”, menandakan negosiasi berjalan alot tanpa kepastian hasil.
Delegasi Amerika dipimpin Wakil Presiden JD Vance, sementara Iran diwakili Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf. Kedua pihak bertemu dengan fasilitasi pemerintah Pakistan untuk membahas penguatan gencatan senjata dua pekan yang kini berada di bawah tekanan.
Baca Juga
Selat Hormuz Menjadi Topik Alot dalam Perundingan di Islamabad
Sumber Pakistan yang dikutip Reuters menyebut suasana perundingan diwarnai “naik-turun emosi”, mencerminkan tajamnya perbedaan posisi antara Washington dan Teheran. Perundingan ini juga berlangsung di tengah eskalasi konflik di Lebanon, di mana serangan Israel terhadap kelompok Hizbullah —yang didukung Iran— masih berlanjut. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan jumlah korban tewas telah melampaui 2.000 orang.
Selat Hormuz Jadi Titik Kritis
Di luar meja perundingan, ketegangan paling nyata terjadi di Selat Hormuz. Dua kapal perang Amerika Serikat—USS Frank E. Peterson dan USS Michael Murphy—dilaporkan melintasi selat tersebut untuk pertama kalinya sejak konflik dimulai.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan operasi ini bertujuan membuka jalur pelayaran dengan membersihkan ranjau laut yang dipasang Iran. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari misi memastikan kelancaran perdagangan global.
Namun, Iran melalui Garda Revolusi memperingatkan bahwa setiap kapal militer yang melintasi Hormuz akan menghadapi “respons keras”. Iran juga menegaskan hanya kapal non-militer yang diizinkan melintas dengan aturan tertentu.
Situasi semakin kompleks dengan munculnya laporan yang saling bertentangan. Media pemerintah Iran mengklaim telah memaksa kapal militer AS berbalik arah, sementara data pelayaran menunjukkan adanya pergerakan kapal AS di kawasan tersebut.
Empat Syarat Keras Iran
Dalam perundingan, Iran mengajukan empat syarat yang disebut “tidak dapat dinegosiasikan”, sebagaimana dilaporkan kantor berita Tasnim:
* Pertama, kedaulatan penuh atas Selat Hormuz.
* Kedua, kompensasi penuh atas kerusakan akibat perang.
* Ketiga, pembebasan tanpa syarat aset Iran yang dibekukan.
* Keempat, gencatan senjata permanen di seluruh kawasan Asia Barat
Selain itu, Iran juga menuntut penghentian serangan Israel di Lebanon sebagai prasyarat dimulainya negosiasi substantif.
Dampak ke Energi Global
Selat Hormuz, yang selama ini dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dan gas dunia, masih berada dalam kondisi terganggu akibat blokade Iran sejak awal perang pada akhir Februari 2026. Gangguan ini telah memicu lonjakan harga energi global.
Baca Juga
Perundingan “Sangat Mendalam” di Islamabad Diwarnai Perubahan Sikap yang Sangat Tajam
Meski demikian, data pelayaran yang dikutip CNBC menunjukkan tiga kapal tanker raksasa mulai melintasi jalur alternatif di Hormuz pada Sabtu, menandai potensi awal pemulihan terbatas arus energi global.
Laporan Al Jazeera (11 April 2026) juga menyebut perundingan damai di Islamabad berlangsung di tengah ketidakpercayaan tinggi dan pelanggaran gencatan senjata. Sementara Sky News (12 April 2026) menyoroti bahwa perundingan diwarnai “mood swings” dan perbedaan serius, khususnya terkait Selat Hormuz dan sanksi ekonomi.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa meskipun dialog langsung telah dimulai, jalan menuju kesepakatan damai masih panjang dan penuh hambatan. Perbedaan mendasar terkait keamanan kawasan, energi, dan kepentingan strategis membuat kompromi sulit dicapai dalam waktu singkat.
Dengan demikian, perundingan di Islamabad lebih mencerminkan upaya menahan eskalasi konflik, ketimbang solusi cepat untuk mengakhirinya. (Sumber: CNBC, Reuters, Al Jazeera, Sky News).

