Trump: Perundingan dengan Iran Bisa Dilanjutkan Dua Hari ke Depan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan perundingan dengan Iran berpeluang dilanjutkan kembali “dalam dua hari ke depan”, di tengah hari-hari awal penerapan blokade laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran yang justru memperlihatkan pelaksanaan yang belum sepenuhnya konsisten. Pernyataan itu muncul setelah putaran pertama perundingan di Islamabad, Pakistan, pada akhir pekan lalu berakhir tanpa kesepakatan, sementara Washington pada saat bersamaan berusaha menekan Teheran lewat blokade maritim di sekitar jalur vital Selat Hormuz.
Sebagaimana diberitakan BBC Live dengan judul “Trump says Iran talks could resume ‘over next two days’ as US says ships turned back by blockade”, Rabu (15/04/2026), dan Reuters (14/04/2026), tidak ada kapal yang menerobos blokade dalam 24 jam pertama, dan enam kapal dagang disebut mematuhi instruksi pasukan AS dengan berbalik arah. Reuters juga menyebut operasi itu dilaksanakan setelah perundingan damai AS-Iran runtuh dan diberlakukan terhadap lalu lintas maritim yang masuk atau keluar dari pelabuhan Iran.
Namun, klaim keberhasilan awal Washington itu tidak sepenuhnya menutup fakta bahwa sejumlah kapal yang terkait dengan Iran tetap melintas di Selat Hormuz pada hari pertama penuh setelah blokade dimulai. Reuters, yang dikutip The Guardian dalam liputan langsungnya pada 14 April 2026, melaporkan sedikitnya tiga kapal tanker terkait Iran berhasil melintasi selat tersebut. The Guardian menambahkan kapal-kapal itu tidak menuju pelabuhan Iran, sehingga dinilai berada di luar cakupan blokade yang diumumkan AS. Al Jazeera dalam live blog bertanggal 14 April 2026 juga menurunkan laporan senada bahwa tiga kapal melintas di tengah blokade, sementara Iran menuduh AS melakukan “pembajakan” dan pelanggaran atas kedaulatannya.
Kontras antara klaim resmi Washington dan lalu lintas kapal yang masih terjadi itu memperlihatkan bahwa 24 jam pertama blokade tidak sepenuhnya berjalan mulus. Reuters melaporkan operasi ini melibatkan lebih dari 10.000 personel AS, lebih dari selusin kapal perang, serta puluhan pesawat, dengan pengecualian bagi pengiriman kemanusiaan setelah inspeksi. Tetapi laporan Reuters lainnya menyebutkan blokade itu belum secara signifikan mengganggu arus pelayaran di Selat Hormuz, meski kekhawatiran terhadap pasokan energi global tetap tinggi.
Di tengah tekanan itu, China mengambil posisi keras. Kementerian Luar Negeri China menyebut blokade AS sebagai langkah yang “berbahaya dan tidak bertanggung jawab”. Kritik Beijing itu penting, mengingat China merupakan pembeli terbesar minyak Iran dan sangat berkepentingan terhadap kelancaran jalur energi dari Teluk. Penolakan serupa juga datang dari Iran yang menyebut blokade tersebut sebagai pelanggaran atas kedaulatan nasionalnya.
Trump, di sisi lain, tetap berusaha menampilkan sinyal bahwa jalur diplomasi belum tertutup. Reuters melaporkan Trump mengatakan perundingan dengan Iran kemungkinan dapat dilanjutkan kembali pekan ini, setelah pembicaraan sebelumnya gagal. Harapan akan kembalinya dialog itu sempat membantu menurunkan harga minyak dari level di atas US$100 per barel, meski pasar tetap berhati-hati karena blokade dan risiko militer di Hormuz belum benar-benar berakhir.
Sementara itu, perkembangan lain di kawasan juga menunjukkan bahwa krisis belum mereda. The Guardian melaporkan pembicaraan langsung antara pejabat Lebanon dan Israel digelar di Washington untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, tetapi peluang stabilisasi kawasan tetap bergantung pada banyak aktor, termasuk Hizbullah yang hingga kini belum menunjukkan sikap lunak. Di saat yang sama, Eropa masih cenderung menahan diri untuk tidak terlibat langsung dalam blokade maritim yang dipimpin AS.
Dengan demikian, pesan yang muncul dari perkembangan terbaru ini cukup jelas. Di satu sisi, Washington ingin menunjukkan bahwa blokade berjalan dan tekanan ekonomi terhadap Iran mulai efektif. Di sisi lain, fakta bahwa kapal-kapal tertentu masih bisa melintas, kritik keras dari China, serta dibukanya kembali kemungkinan perundingan dalam dua hari ke depan menunjukkan bahwa blokade ini bukan tanda kemenangan cepat, melainkan instrumen tekanan dalam negosiasi yang hasil akhirnya masih jauh dari pasti.

