AS Kirim Proposal Damai 15 Poin ke Iran, Teheran: “Washington Bernegosiasi dengan Dirinya Sendiri”
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Upaya diplomasi untuk meredakan perang Iran–Israel yang didukung Amerika Serikat memasuki fase krusial. Washington melalui jalur tidak langsung disebut telah menyampaikan proposal damai berisi 15 poin kepada Teheran, namun langsung ditanggapi dengan penolakan keras.
Berdasarkan laporan BBC dalam liputan langsung yang diterbitkan pada Rabu (25/3/2026), proposal tersebut disampaikan melalui Pakistan sebagai mediator. Hingga kini, dokumen lengkap belum dipublikasikan, namun sejumlah poin utama mulai terungkap.
Salah satu inti proposal adalah permintaan agar Iran membongkar fasilitas nuklirnya dan menghentikan pengayaan uranium, sebagai imbalan atas pencabutan sanksi ekonomi oleh Amerika Serikat. Selain itu, Iran juga diminta membuka seluruh program nuklirnya untuk inspeksi penuh oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Proposal tersebut juga mencakup pembatasan program rudal balistik, penghentian dukungan terhadap kelompok proksi di kawasan seperti Hizbullah, serta jaminan keamanan jalur pelayaran global, termasuk membuka Selat Hormuz secara penuh. Sebagai bagian dari kerangka awal, Washington juga menawarkan gencatan senjata sementara sekitar 30 hari untuk membuka ruang negosiasi lanjutan.
Baca Juga
Israel Gempur Teheran di Hari ke-26 Perang, Upaya Damai AS–Pakistan Masih Menggantung
Namun, respons Teheran menunjukkan penolakan tegas. Media pemerintah Iran, FARS News Agency, mengutip sumber internal yang menyatakan Iran tidak akan menerima tawaran gencatan senjata.
“Iran tidak menerima gencatan senjata. Tidak logis bernegosiasi dengan pihak yang melanggar perjanjian,” demikian pernyataan sumber tersebut, seperti dilaporkan CNBC pada 25 Maret 2026. Juru bicara militer Iran bahkan menyebut Amerika Serikat “bernegosiasi dengan dirinya sendiri”, menegaskan bahwa kesenjangan posisi kedua pihak masih sangat lebar.
Keraguan juga muncul dari pihak Israel. Seorang pejabat Israel yang dikutip BBC menilai proposal tersebut “terlihat indah di atas kertas”, namun kecil kemungkinan akan diterima Iran.
Di tengah kebuntuan diplomasi, situasi di lapangan tetap berbahaya. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyerukan “penahanan diri maksimal” setelah fasilitas nuklir Bushehr kembali terdampak serangan. Menurut laporan Reuters yang dikutip BBC pada 25 Maret 2026, tidak ada kerusakan pada reaktor utama maupun korban jiwa, namun risiko keselamatan nuklir tetap menjadi perhatian serius. Kepala IAEA Rafael Grossi memperingatkan bahwa eskalasi di sekitar fasilitas nuklir dapat memicu krisis keselamatan global.
Sementara itu, Iran menyatakan kapal “non-hostile” masih dapat melintasi Selat Hormuz. BBC melaporkan sebuah tanker milik China terpantau melintas pada hari yang sama. Meski demikian, analis menilai jaminan tersebut belum cukup untuk memulihkan kepercayaan pelaku industri pelayaran global.
Perkembangan ini terjadi saat perang Iran–Israel/AS telah memasuki hari ke-26 pada 25 Maret 2026, sejak dimulai pada 28 Februari 2026. Laporan lain, termasuk dari Al Jazeera (25/3/2026) dan Associated Press (25/3/2026), juga mengonfirmasi bahwa proposal damai AS telah diteruskan ke Iran, namun belum mendapat respons positif.
Dengan tuntutan denuklirisasi total di satu sisi dan penegasan Iran untuk mempertahankan kedaulatan serta tujuan strategisnya di sisi lain, proposal 15 poin tersebut lebih mencerminkan posisi tawar dibandingkan solusi damai yang siap dijalankan.
Hingga kini, belum ada indikasi titik temu, sementara eskalasi militer terus berlangsung dan memperdalam ketidakpastian global, terutama terhadap stabilitas energi dan keamanan kawasan Timur Tengah.

