Paus Leo: Tidak Bisa Diterima, Ancaman Presiden Trump Hancurkan Peradaban Iran
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pemimpin Gereja Katolik dunia, Pope Leo XIV, mengecam keras pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengancam akan “melenyapkan peradaban Iran”, dan menyebutnya sebagai tindakan yang “tidak dapat diterima secara moral maupun hukum internasional.” Pernyataan tersebut disampaikan Paus Leo pada Selasa ( 07/04/2026) saat berbicara kepada wartawan di kediaman musim panas Vatikan di Castel Gandolfo, Italia.
Menurut laporan Reuters dan Associated Press yang terbit pada 7–8 April 2026, Paus Leo menilai ancaman terhadap seluruh populasi Iran sebagai pelanggaran serius terhadap prinsip kemanusiaan. Ia merujuk langsung pada pernyataan Trump di media sosial yang menyebut “satu peradaban bisa musnah dalam satu malam” jika Iran tidak memenuhi tuntutan AS terkait pembukaan Selat Hormuz.
“Ancaman terhadap seluruh rakyat Iran ini sungguh tidak dapat diterima,” tegas Paus Leo, seraya menambahkan bahwa serangan terhadap infrastruktur sipil bertentangan dengan hukum internasional dan berpotensi menimbulkan penderitaan besar bagi masyarakat sipil, terutama anak-anak, lansia, dan kelompok rentan lainnya.
Baca Juga
AS Ancam Aksi Militer Baru di Iran, Gencatan Senjata Sangat Rapuh
Dalam pernyataan yang sama, Paus juga menyerukan kepada masyarakat internasional—khususnya warga Amerika Serikat—untuk menekan para pemimpin politik agar menghentikan perang dan mengedepankan jalur diplomasi. Ia menilai eskalasi konflik antara AS, Israel, dan Iran hanya akan memperburuk krisis kemanusiaan dan tidak memberikan solusi jangka panjang.
Kecaman Paus Leo ini menjadi salah satu kritik moral paling keras dari Vatikan terhadap konflik yang terus memanas sejak akhir Februari 2026. Sejumlah laporan media internasional seperti Axios dan The Washington Post juga menyoroti bahwa pernyataan Trump memicu kecaman luas, termasuk dari kalangan politisi AS dan pakar hukum internasional yang menilai ancaman tersebut berpotensi dikategorikan sebagai pelanggaran hukum perang.
Paus Leo menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa perang yang menyasar populasi sipil adalah bentuk kegagalan kemanusiaan. Ia kembali mengingatkan bahwa perdamaian hanya dapat dicapai melalui dialog, bukan ancaman pemusnahan.
Baca Juga
Gencatan Senjata AS-Iran Diuji, Selat Hormuz Masih Diblokade dan Serangan Berlanjut
Sejumlah media seperti Reuters, The Washington Post, dan Axios juga melaporkan bahwa kritik Paus tersebut menjadi salah satu kecaman paling keras dari Vatikan terhadap kebijakan luar negeri AS dalam konflik Iran. Situasi semakin memanas karena pemerintahan Trump justru mempertahankan retorika kerasnya. Gedung Putih membela pernyataan presiden dengan alasan keamanan dan rekam jejak Iran di kawasan, meski menuai kritik luas dari kalangan internasional.
Hubungan Washington–Vatikan juga dilaporkan memburuk. Media seperti The Daily Beast mengungkap adanya “kuliah keras” dari pejabat Pentagon kepada diplomat Vatikan sebagai bagian dari meningkatnya friksi antara kedua pihak. Paus Leo sendiri konsisten mengambil posisi moral dengan menyerukan penghentian perang dan penolakan terhadap penggunaan kekerasan, termasuk kritik terhadap pemimpin dunia yang menggunakan agama untuk membenarkan konflik.
Dengan dinamika ini, konflik tidak hanya terjadi di medan perang Timur Tengah, tetapi juga merembet ke ranah diplomasi dan moral global. Ketegangan antara Washington dan Vatikan mencerminkan benturan antara pendekatan kekuatan militer dan seruan etika kemanusiaan, dua kutub yang kini semakin sulit dipertemukan dalam krisis Iran.

