Iran Gencarkan Serangan ke Israel dan Teluk, Klaim Pembicaraan Damai Trump Dipatahkan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel kian memanas memasuki pekan keempat, ditandai dengan gelombang serangan baru Teheran ke Israel dan negara-negara Teluk, di tengah klaim diplomasi damai yang disampaikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Berdasarkan laporan NBC News yang diperbarui pada Selasa (24/3/2026) pukul 07.23 EDT atau Selasa malam WIB, Iran meluncurkan serangan rudal terbaru yang menghantam sejumlah wilayah di Israel. Salah satu rudal dilaporkan jatuh di jalan di Tel Aviv, menyebabkan kerusakan pada bangunan dan kendaraan di sekitarnya.
Di saat yang sama, militer Israel kembali melancarkan serangan udara ke Teheran, sementara konflik juga meluas ke kawasan Teluk. Kuwait, Bahrain, dan Arab Saudi melaporkan adanya serangan baru yang menghantam wilayah mereka, menandakan eskalasi konflik ke tingkat regional yang lebih luas.
Serangan tersebut terjadi hanya sehari setelah Trump mengumumkan penundaan serangan terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari, dengan alasan adanya “pembicaraan produktif” antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri perang.
Namun, klaim tersebut kembali dibantah oleh Iran. Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan tidak ada negosiasi dengan Amerika Serikat, meskipun mengakui adanya pertukaran pesan melalui mediator regional. Sejumlah sumber menyebut Pakistan berpotensi menjadi lokasi pertemuan langsung dalam beberapa hari ke depan, meski belum ada konfirmasi resmi.
Baca Juga
Rencana Pembicaraan AS–Iran Masih “Dinamis”, Harga Minyak Kembali Tembus US$ 100 per Barel
Laporan serupa juga disampaikan Reuters dan AFP yang menyebut adanya sinyal diplomasi tidak langsung, namun belum menunjukkan kemajuan konkret menuju gencatan senjata.
Di lapangan, intensitas konflik terus meningkat. Otoritas Israel merilis gambar bangunan hangus dan kendaraan terbakar akibat serangan rudal Iran. Sementara itu, Garda Revolusi Iran mengancam akan melancarkan serangan lebih besar sebagai bentuk dukungan terhadap Lebanon dan Palestina.
Ketegangan juga meningkat di Lebanon selatan. Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyatakan militer Israel akan mengambil kendali penuh atas “zona keamanan” hingga Sungai Litani, sekitar 30 kilometer dari perbatasan Israel-Lebanon. Langkah ini dinilai sebagai indikasi potensi operasi militer jangka panjang di wilayah tersebut.
“Semua jembatan strategis telah dihancurkan, dan kami akan mengontrol area hingga Sungai Litani untuk menjamin keamanan,” ujar Katz, seperti dikutip AFP pada Senin (23/3/2026).
Di sisi lain, dampak perang terhadap pasar energi global kembali terlihat. Harga minyak dunia naik kembali menembus US$100 per barel setelah sempat turun akibat optimisme pasar terhadap kemungkinan negosiasi. Iran menuduh pernyataan Trump soal pembicaraan damai sebagai upaya untuk menenangkan pasar sekaligus memberi waktu bagi pengerahan tambahan pasukan dan armada militer AS di kawasan.
Secara keseluruhan, konflik ini telah menelan lebih dari 2.000 korban jiwa di kawasan Timur Tengah. Data Bulan Sabit Merah Iran menunjukkan lebih dari 1.200 orang tewas di Iran akibat serangan Amerika Serikat dan Israel, sementara lebih dari 1.000 korban dilaporkan di Lebanon. Di Israel, sedikitnya 15 orang tewas akibat serangan Iran, sedangkan militer AS kehilangan 13 personel dalam konflik tersebut.

