Serangan AS–Israel ke Iran Ditingkatkan Jelang Deadline Hormuz, Negosiasi Kandas
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Eskalasi perang Amerika Serikat–Israel melawan Iran memasuki fase paling kritis setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan “menghapus satu peradaban” jika Teheran tidak segera membuka kembali Selat Hormuz sesuai tenggat yang ditetapkan.
Dalam laporan live update The New York Times yang diperbarui pada 7 April 2026 pukul 13.31 waktu Timur AS (ET), Trump menyampaikan ancaman tersebut di media sosial hanya beberapa jam sebelum batas waktu pukul 20.00 ET (Rabu pagi WIB) untuk membuka jalur pelayaran strategis tersebut. “A whole civilization will die tonight, never to be brought back again,” tulis Trump, seraya menyebut momen ini sebagai salah satu titik paling menentukan dalam sejarah dunia.
Seiring ancaman tersebut, militer AS meningkatkan intensitas serangan dengan meluncurkan lebih dari 90 serangan udara ke Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran—pada Selasa (7/4/2026) dini hari. Pejabat militer AS menyebut serangan itu sebagai “restrikes” untuk memastikan kerusakan lebih besar pada target militer yang sebelumnya telah dihantam.
Meski demikian, pejabat AS menegaskan bahwa infrastruktur minyak belum menjadi sasaran langsung, meskipun lokasi serangan berada di kawasan vital energi global di Teluk Persia. Serangan ini merupakan bagian dari upaya tekanan maksimum Washington terhadap Teheran agar membuka kembali Selat Hormuz, jalur yang mengalirkan sekitar 20% perdagangan minyak dan gas dunia.
Negosiasi Terhenti
Di sisi lain, Iran dilaporkan menghentikan keterlibatan dalam negosiasi tidak langsung dengan Amerika Serikat yang dimediasi Pakistan dan sejumlah negara lain. Tiga pejabat Iran yang dikutip The New York Times menyebut keputusan ini sebagai respons atas eskalasi militer dan ancaman Washington. Meski demikian, komunikasi dengan Pakistan masih berlangsung, membuka kemungkinan diplomasi kembali dilanjutkan.
Baca Juga
Trump Ancam Luluhlantakkan Jembatan dan Pembangkit Listrik, Iran Siap Lawan
Juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaghari, memperingatkan bahwa Teheran akan membalas secara “menghancurkan dan luas” jika fasilitas sipil menjadi target serangan. Ancaman ini muncul di tengah kekhawatiran bahwa rencana penghancuran jembatan dan pembangkit listrik yang sebelumnya disampaikan Trump—berpotensi melanggar hukum humaniter internasional dan dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Di lapangan, intensitas serangan meningkat signifikan. Militer Israel dilaporkan melancarkan serangan udara terhadap sedikitnya delapan jembatan di berbagai wilayah Iran.
Iranian state media melaporkan bahwa serangan terhadap jembatan rel di kota Kashan menewaskan sedikitnya tiga orang. Israel juga memperingatkan warga Iran untuk tidak menggunakan jaringan kereta hingga pukul 21.00 waktu setempat, mengindikasikan potensi serangan lanjutan terhadap infrastruktur transportasi.
Sementara itu, Iran meningkatkan serangan balasan ke kawasan Teluk. Kementerian Pertahanan Arab Saudi melaporkan puing rudal jatuh di dekat fasilitas energi di wilayah timur, sementara Uni Emirat Arab mengonfirmasi adanya serangan rudal dan drone dari Iran.
Warga Sipil Siaga
Di dalam negeri Iran, warga sipil dilaporkan bersiap menghadapi kemungkinan serangan lanjutan. Beberapa kelompok warga bahkan membentuk rantai manusia di sekitar jembatan dan pembangkit listrik, sebagaimana terlihat dalam video dan foto yang beredar di media lokal. Aksi tersebut mencerminkan campuran antara perlawanan, ketidakpastian, dan kekhawatiran atas eskalasi konflik yang semakin tidak terkendali.
Data dari Human Rights Activists News Agency (HRANA) menunjukkan bahwa hingga awal April 2026, sedikitnya 1.606 warga sipil, termasuk 244 anak-anak, telah tewas di Iran sejak konflik meningkat.
Di Lebanon, lebih dari 1.500 orang dilaporkan tewas dalam pertempuran antara Israel dan Hizbullah. Sementara di negara-negara Teluk, sedikitnya 50 orang tewas akibat serangan yang dikaitkan dengan Iran. Di Israel sendiri, korban jiwa mencapai sedikitnya 20 orang, sedangkan AS melaporkan 13 personel militer tewas dan ratusan lainnya luka-luka.
Seiring meningkatnya risiko gangguan energi global, Inggris dijadwalkan memimpin pertemuan virtual yang melibatkan lebih dari 40 negara untuk membahas pengamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz pascakonflik.
Laporan senada dari BBC dan Al Jazeera (7 April 2026) juga menyoroti meningkatnya intensitas serangan dan ancaman terhadap infrastruktur vital, serta kegagalan diplomasi mencapai terobosan dalam waktu dekat.
Dengan tekanan militer yang terus meningkat, negosiasi yang terhenti, dan ancaman terhadap jalur energi global, konflik ini kini berada di titik kritis yang berpotensi memicu dampak sistemik terhadap stabilitas geopolitik dan ekonomi dunia.

