Trump Ancam Luluhlantakkan Jembatan dan Pembangkit Listrik, Iran Siap Lawan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Eskalasi konflik Amerika Serikat–Israel melawan Iran memasuki fase paling berbahaya setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ancaman keras untuk menghancurkan infrastruktur vital Iran jika Teheran tidak segera membuka kembali Selat Hormuz.
Dalam laporan live update yang diterbitkan Al Jazeera pada hari Selasa (07/04/2026), Trump memperingatkan bahwa pembangkit listrik dan jembatan di Iran dapat mengalami “penghancuran total” hanya dalam hitungan jam apabila jalur pelayaran strategis tersebut tidak kembali beroperasi sebelum tenggat yang ia tetapkan, yakni Selasa waktu AS. Ancaman ini mempertegas pernyataan sebelumnya bahwa Iran bisa “dihabisi dalam satu malam”.
Baca Juga
Akhir Perang Menjauh, Trump Ancam Luluhlantakkan Infrastruktur Iran
Trump juga mengakui bahwa respons Iran terhadap proposal gencatan senjata yang disampaikan melalui pihak ketiga merupakan “langkah signifikan”, tetapi masih “belum cukup”. Di sisi lain, pemerintah Iran secara tegas menolak proposal tersebut dan menyebut ancaman Washington sebagai “delusi” yang tidak mampu menutupi “kegagalan dan penghinaan” AS di kawasan, sebagaimana dilaporkan media pemerintah Iran.
Data yang dihimpun dari berbagai sumber menunjukkan intensitas konflik meningkat tajam. Serangan gabungan AS–Israel di wilayah Iran sepanjang Senin (6/4/2026) dilaporkan menewaskan sedikitnya 34 orang. Secara kumulatif, kelompok pemantau HAM berbasis di AS, HRANA, mencatat korban tewas telah melampaui 3.500 orang sejak perang dimulai, termasuk sedikitnya 1.665 warga sipil.
HRANA juga mencatat bahwa hari Senin menjadi salah satu periode dengan tingkat serangan tertinggi dalam 10 hari terakhir, dengan 49 korban sipil dalam satu hari. Di luar Iran, eskalasi meluas ke kawasan lain. Di Lebanon, kantor berita nasional NNA melaporkan sedikitnya delapan orang tewas akibat serangan udara dan drone semalam yang menghantam wilayah selatan dan Lembah Bekaa. Sementara itu, di Jalur Gaza, serangan udara Israel dilaporkan menewaskan sedikitnya 10 orang di dekat sekolah yang menjadi tempat pengungsian warga sipil Palestina.
Situs Warisan Dunia
Ketegangan juga merembet ke ancaman terhadap infrastruktur sipil strategis. Iran melalui Menteri Warisan Budaya mengirim surat resmi kepada UNESCO untuk mengecam ancaman Israel terhadap sistem perkeretaapian nasionalnya. Jalur rel Trans-Iran sepanjang 1.394 kilometer tersebut telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 2021.
Israel sebelumnya memperingatkan warga Iran agar tidak menggunakan transportasi kereta api, dengan alasan risiko keamanan, sekaligus mengonfirmasi serangan terhadap fasilitas petrokimia tambahan di Iran.
Baca Juga
Selat Hormuz kembali menjadi pusat tekanan geopolitik global. Trump menetapkan batas waktu hingga pukul 20.00 EDT Selasa (7/4/2026) bagi Iran untuk membuka kembali jalur tersebut, yang merupakan salah satu chokepoint energi terpenting dunia. Namun, laporan Al Jazeera mencatat bahwa tenggat waktu yang diberikan Trump sebelumnya beberapa kali berubah, menimbulkan ketidakpastian tambahan di pasar global.
Sejalan dengan laporan tersebut, media internasional lain seperti BBC dan CNN juga melaporkan peningkatan intensitas diplomasi darurat di balik layar, meskipun peluang tercapainya kesepakatan jangka pendek dinilai masih kecil. BBC menyebut upaya diplomasi sebagai “last-ditch efforts”, sementara CNN menyoroti bahwa kedua pihak masih mempertahankan posisi keras, terutama terkait kontrol atas Selat Hormuz.
Eskalasi ini meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global, mengingat sekitar 20% perdagangan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Ancaman terhadap infrastruktur energi dan transportasi di Iran juga memperbesar potensi lonjakan harga minyak serta volatilitas pasar keuangan global.
Dengan posisi negosiasi yang masih buntu dan ancaman militer yang semakin terbuka, konflik ini kini berada di titik kritis yang dapat menentukan arah stabilitas geopolitik dan ekonomi global dalam jangka pendek.

