Trump Ancam Iran Habisi Iran dalam Satu Malam
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali meningkatkan eskalasi retorika militer terhadap Iran dengan menyatakan bahwa negara tersebut “bisa dihabisi dalam satu malam”, di tengah kebuntuan diplomasi dan berlanjutnya konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah.
Dalam konferensi pers di Gedung Putih pada Senin (06/04/2026) waktu setempat, Trump menegaskan bahwa opsi militer tetap terbuka jika Iran tidak memenuhi tenggat waktu yang ditetapkan Washington, yakni membuka kembali Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia.
“Iran bisa dihabisi dalam satu malam, dan malam itu mungkin besok malam,” ujar Trump dalam pernyataan yang disiarkan dan dikutip oleh CNN pada 6 April 2026 (updated 14:38 EDT).
Baca Juga
Trump Ultimatum Iran Buka Selat Hormuz, Harga Minyak WTI Melonjak di Atas 2%
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya tekanan terhadap Teheran setelah Amerika Serikat dan Israel memperluas serangan terhadap infrastruktur strategis Iran sejak akhir Februari 2026.
Trump juga mengungkapkan kembali keberhasilan operasi penyelamatan seorang awak militer AS yang jatuh di wilayah Iran akhir pekan lalu. Ia menyebut misi tersebut sebagai bukti bahwa militer AS tidak pernah meninggalkan tentaranya di medan perang.
Namun di sisi lain, upaya diplomasi belum menunjukkan hasil signifikan. Proposal gencatan senjata selama 45 hari yang diajukan oleh sejumlah negara mediator dinilai Trump sebagai “langkah signifikan, tetapi belum cukup”.
Iran secara resmi menolak proposal tersebut dan justru menuntut penghentian perang secara permanen, sebagaimana dilaporkan media pemerintah Iran.
Trump bahkan menyebut Iran sebagai “peserta aktif” dalam negosiasi, meski pada saat yang sama tetap mengancam akan menyerang infrastruktur vital seperti jembatan dan pembangkit listrik. Ia mengklaim rakyat Iran “bersedia menanggung penderitaan” jika itu membawa kebebasan di masa depan.
Baca Juga
Pilot AS Berhasil Diselamatkan, Trump: “All Hell Will Rain Down”
Ancaman tersebut memicu kekhawatiran internasional. Pemerintah Iran memperingatkan bahwa serangan terhadap infrastruktur sipil akan berdampak luas, tidak hanya di kawasan tetapi juga terhadap stabilitas global.
Laporan Reuters yang terbit pada 6 April 2026 menegaskan bahwa meskipun jalur diplomasi masih berjalan melalui mediator seperti Pakistan, posisi kedua pihak tetap keras. Sementara itu, BBC dalam laporan langsungnya pada hari yang sama menyebut bahwa diplomasi kini memasuki fase “last-ditch effort” atau upaya terakhir sebelum eskalasi lebih lanjut terjadi.
Konflik yang telah berlangsung sejak 28 Februari 2026 ini telah memperlihatkan peningkatan intensitas serangan, termasuk penggunaan rudal, drone, dan serangan terhadap infrastruktur energi dan transportasi. Dampaknya tidak hanya dirasakan di kawasan Timur Tengah, tetapi juga mulai mengguncang pasar energi global dan meningkatkan ketidakpastian ekonomi dunia.
Dengan tenggat waktu yang semakin dekat dan retorika militer yang kian tajam, situasi kini berada di titik kritis—di mana keputusan dalam hitungan hari dapat menentukan arah konflik, apakah menuju de-eskalasi atau justru perang yang lebih luas.

