OPEC+ Tambah Produksi, tapi Tak Mampu Redam Lonjakan Harga Minyak
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Di tengah gejolak geopolitik yang terus memanas akibat perang AS–Israel melawan Iran, kelompok produsen minyak OPEC+ memutuskan menaikkan kuota produksi minyak. Namun langkah ini dinilai 'semu' dan lebih bersifat simbolis ketimbang solusi nyata bagi krisis pasokan global.
Baca Juga
Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Minyak, OPEC+ Diperkirakan Naikkan Produksi
Dalam pertemuan virtual Minggu, delapan anggota utama OPEC+—termasuk Arab Saudi, Rusia, Irak, Uni Emirat Arab, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman—sepakat menambah produksi sebesar 206.000 barel per hari untuk Mei.
Kenaikan ini terjadi saat jalur vital energi global, Selat Hormuz, praktis terblokade sejak akhir Februari akibat konflik. Jalur Hormuz selama ini menjadi nadi distribusi minyak dunia, sehingga gangguan langsung berdampak pada ekspor negara-negara Teluk.
Tak Cukup
Meski terdengar signifikan, tambahan produksi tersebut hanya kurang dari 2% dari total pasokan yang hilang akibat penutupan Selat Hormuz. Bahkan, sejumlah anggota utama OPEC+ saat ini tidak mampu meningkatkan produksi secara optimal karena gangguan operasional dan risiko keamanan di wilayah konflik.
Dalam pernyataan resminya, OPEC+ menegaskan komitmen untuk terus memantau kondisi pasar dan menjaga stabilitas. Namun mereka juga mengakui bahwa serangan terhadap infrastruktur energi telah memperparah situasi.
“Pemulihan fasilitas energi yang rusak membutuhkan biaya besar dan waktu panjang, yang pada akhirnya membatasi ketersediaan pasokan,” demikian pernyataan tersebut, dikutip dari laman opec.org, Senin (6/4/2026).
Konflik AS-Israel vs Iran telah mendorong harga minyak mentah melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir, mendekati US$120 per barel. Dampaknya langsung terasa pada harga bahan bakar transportasi di berbagai negara.
Baca Juga
Minyak Brent Melonjak, Pasar Energi Global Masuk Fase Darurat
Bahkan, lembaga keuangan global JPMorgan Chase memperingatkan bahwa harga minyak berpotensi menembus US$150 per barel—level tertinggi sepanjang sejarah—jika gangguan di Selat Hormuz terus berlanjut hingga pertengahan Mei.

