AS Sita Kapal Iran di Teluk Oman, Ketegangan Memuncak Jelang Perundingan Islamabad
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah militer AS menembak dan menyita kapal berbendera Iran di kawasan Teluk Oman. Hal ini memperburuk situasi menjelang rencana perundingan damai putaran kedua di Islamabad, Pakistan.
Baca Juga
Presiden Donald Trump pada Minggu menyatakan bahwa kapal perusak Angkatan Laut AS, USS Spruance, telah mencegat kapal kargo Iran bernama Touska dan memberikan peringatan agar menghentikan pelayaran.
“Kami sudah memberi peringatan yang layak untuk berhenti. Namun kru Iran menolak, sehingga kapal Angkatan Laut kami menghentikan mereka dengan melubangi ruang mesin,” ujar Trump dalam pernyataannya, dikutip dari CNBC, Senin (20/4/2026).
Setelah serangan tersebut, pasukan Marinir AS naik ke kapal dan mengambil alih kendali. Trump menegaskan bahwa kapal tersebut kini berada dalam pengawasan penuh militer AS dan menyebut Touska sebagai kapal yang telah masuk dalam daftar sanksi Departemen Keuangan AS karena “riwayat aktivitas ilegal sebelumnya.”
Komando Pusat AS, US Central Command, merilis rekaman yang menunjukkan peringatan radio kepada kapal tersebut sebelum tindakan militer dilakukan. “Kami siap melakukan tembakan untuk melumpuhkan kapal Anda,” demikian peringatan yang disampaikan melalui radio.
Menurut CENTCOM, kru kapal Touska mengabaikan peringatan berulang selama lebih dari enam jam sebelum akhirnya kapal perusak AS melepaskan tembakan ke ruang mesin setelah meminta kru mengevakuasi area tersebut.
Eskalasi dari Blokade Laut
Insiden ini terjadi di tengah kebijakan blokade laut yang diberlakukan AS terhadap kapal-kapal yang keluar masuk pelabuhan Iran sejak pekan lalu. Penyitaan Touska menandai eskalasi signifikan dari kebijakan tersebut.
Langkah ini juga terjadi hanya beberapa jam setelah Iran dilaporkan menembaki kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz—jalur vital yang menghubungkan Teluk Oman dan Teluk Persia.
Dengan posisi strategis tersebut, insiden di laut langsung berdampak pada stabilitas keamanan energi global dan meningkatkan risiko konflik terbuka.
Diplomasi Terancam Gagal
Di tengah meningkatnya ketegangan militer, upaya diplomasi justru menghadapi hambatan serius. Delegasi AS yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance sebelumnya dijadwalkan bertolak ke Pakistan untuk melanjutkan perundingan damai dengan Iran.
Namun, laporan media pemerintah Iran menyebut Teheran menolak melanjutkan pembicaraan tersebut. Iran menilai blokade laut yang dilakukan AS merupakan pelanggaran terhadap gencatan senjata yang telah disepakati sebelumnya, dan menjadi alasan utama pembatalan kehadiran dalam perundingan di Islamabad.
Baca Juga
Trump Ancam “Hancurkan Iran” Jika Gagal Deal, Negosiasi Mandek
Dalam pernyataannya, Trump juga mengeluarkan ancaman keras terhadap Iran jika tidak menyetujui syarat yang diajukan Washington untuk mengakhiri konflik. “Jika mereka tidak setuju, kami akan melumpuhkan setiap pembangkit listrik dan setiap jembatan di Iran,” tegas Trump. Pernyataan tersebut menandai peningkatan retorika yang signifikan dan memperkecil ruang kompromi dalam negosiasi.

