Iran Kenakan Tarif US$ 2 Juta Bagi Kapal yang Melintas di Selat Hormuz
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Iran memungut biaya transit hingga US$ 2 juta (Rp 34 miliar) dari kapal-kapal tertentu yang melintasi Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik kawasan yang memicu gangguan perdagangan energi global dan lonjakan biaya pengiriman.
Kebijakan ini disampaikan oleh anggota parlemen Iran Alaeddin Boroujerdi dalam pernyataannya belum lama ini. Boroujerdi merupakan anggota Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri parlemen Iran yang menilai langkah tersebut sebagai bagian dari pendekatan baru terhadap kedaulatan maritim negara.
Baca Juga
ESDM Perkuat Koordinasi untuk Pelintasan Kapal Indonesia di Selat Hormuz
Boroujerdi mengatakan Iran telah menetapkan “konsep kedaulatan baru” atas Selat Hormuz setelah 47 tahun dan mulai mengenakan biaya transit kepada kapal-kapal tertentu yang melintas. “Pengumpulan US$ 2 juta sebagai biaya transit dari beberapa kapal yang melintasi selat tersebut mencerminkan kekuatan Iran,” ujarnya dalam program televisi yang dikutip media lokal dilansir Anadoulu Agency, Senin (30/3/2026).
Langkah ini terjadi setelah Iran secara efektif membatasi akses Selat Hormuz bagi sebagian besar kapal sejak awal Maret. Jalur ini merupakan salah satu chokepoint energi paling vital di dunia, dengan volume lalu lintas mencapai sekitar 20 juta barel minyak per hari atau setara dengan sekitar 20% perdagangan gas alam cair global.
Pembatasan tersebut telah mendorong kenaikan biaya logistik dan premi asuransi kapal, yang pada akhirnya berdampak pada harga minyak global. Pelaku pasar juga mulai mengantisipasi risiko gangguan pasokan energi yang lebih luas, terutama bagi negara-negara importir utama di Asia dan Eropa.
Ketegangan di kawasan meningkat tajam sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada Jumat (28/2/2026). Serangan tersebut menewaskan lebih dari 1.300 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu Ali Khamenei, dan memperburuk stabilitas geopolitik di Timur Tengah.
Baca Juga
AS Kirim Ribuan Marinir ke Timur Tengah, Fokus Amankan Hormuz, Iran Melawan
Sebagai respons, Iran meluncurkan serangan balasan menggunakan pesawat tak berawak dan rudal yang menargetkan Israel serta sejumlah wilayah di Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk. Pemerintah Iran menyatakan serangan itu diarahkan pada “aset militer AS”, tetapi dampaknya meluas hingga menimbulkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan pada pasar global dan penerbangan internasional.
Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan rantai pasok energi global, mengingat peran strategis Selat Hormuz sebagai jalur utama distribusi minyak dan gas dunia.

