Israel Ancam Tingkatkan Serangan ke Iran
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Konflik antara Israel dan Iran semakin memanas setelah pemerintah Israel menyatakan akan meningkatkan intensitas serangan militernya sebagai respons atas gelombang serangan rudal dari Teheran. Eskalasi ini terjadi di tengah upaya diplomasi yang masih berlangsung, termasuk keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menunda serangan terhadap fasilitas energi Iran.
Berdasarkan laporan CNN yang diperbarui pada Jumat (27/3/2026) pukul 12.32 waktu AS Timur, Menteri Pertahanan Israel menegaskan bahwa negaranya akan “mengeskalasi” serangan sebagai balasan atas rentetan rudal Iran yang terus berlanjut dalam beberapa hari terakhir. Serangan udara terbaru dilaporkan terjadi di berbagai kota di Iran pada malam sebelumnya.
Data dari Bulan Sabit Merah Iran menunjukkan bahwa korban tewas akibat konflik ini telah mendekati 2.000 orang, menandai tingginya intensitas pertempuran sejak perang dimulai pada 28 Februari 2026.
Di sisi lain, konflik ini mulai berdampak luas terhadap stabilitas energi global. Media lokal Iran melaporkan bahwa tiga kapal tanker ditolak melintas di Selat Hormuz oleh Garda Revolusi Iran (IRGC) pada Jumat pagi (27/3/2026). Selat tersebut merupakan jalur vital perdagangan minyak dunia, sehingga gangguan di kawasan ini langsung memicu kekhawatiran pasar global.
Dampak krisis energi bahkan telah meluas hingga ke berbagai negara. Di Filipina, gelombang protes terjadi akibat lonjakan harga bahan bakar, menjadikannya negara pertama yang menetapkan status darurat energi. Sementara itu, sejumlah wilayah di Afrika juga mulai merasakan tekanan akibat kenaikan harga energi global.
Baca Juga
Israel Gempur Situs Rudal Iran, Trump Tunda Serangan 10 Hari
Di tengah eskalasi tersebut, Presiden AS Donald Trump memilih menahan diri untuk sementara. Pada Kamis malam (26/3/2026), Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat akan menunda serangan terhadap fasilitas energi Iran selama 10 hari ke depan. Ia menegaskan bahwa pembicaraan dengan Teheran masih berlangsung dan menunjukkan perkembangan positif.
Laporan Al Jazeera yang diterbitkan pada Jumat (27/3/2026) juga mengonfirmasi bahwa Washington tengah membuka ruang diplomasi dengan Iran meskipun operasi militer masih berlangsung di lapangan. Sementara itu, Reuters dalam laporannya pada 27 Maret 2026 menyebutkan bahwa ketegangan di Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama yang mendorong lonjakan harga minyak global dan meningkatkan risiko gangguan pasokan energi.
Dengan situasi yang masih sangat dinamis, pasar global kini berada dalam kondisi waspada tinggi. Kombinasi antara eskalasi militer, ancaman terhadap jalur energi strategis, dan ketidakpastian diplomasi membuat konflik ini berpotensi berkembang menjadi krisis yang lebih luas, tidak hanya di Timur Tengah tetapi juga terhadap perekonomian global.

