Wapres AS JD Vance: AS Akan Segera Keluar dari Iran
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menyatakan bahwa Washington berencana segera mengakhiri keterlibatannya dalam perang melawan Iran, meskipun operasi militer masih akan dilanjutkan dalam jangka pendek untuk memastikan tujuan strategis tercapai.
Dalam wawancara dengan podcaster konservatif Benny Johnson yang disiarkan pada Jumat (28/3/2026), Vance mengatakan bahwa sebagian besar target militer Amerika Serikat telah berhasil dicapai. Namun, Presiden Donald Trump disebut masih akan melanjutkan operasi “untuk sementara waktu” guna memastikan kemampuan pemerintah Iran melemah secara signifikan.
“Presiden akan melanjutkan ini untuk sedikit waktu lagi agar ketika kita keluar, kita tidak perlu kembali lagi dalam waktu yang sangat lama,” ujar Vance. Ia menegaskan bahwa tujuan utama operasi adalah “melumpuhkan” kemampuan Iran dalam jangka panjang.
Baca Juga
Iran Tegaskan Kendali atas Selat Hormuz, Kapal dari China dan Hongkong Pun Diusir
Vance juga mengakui bahwa konflik tersebut telah mendorong kenaikan harga bahan bakar, namun ia menilai dampaknya hanya bersifat sementara. “Ini adalah reaksi jangka sangat pendek terhadap konflik yang pada akhirnya juga akan berlangsung dalam jangka pendek,” katanya. Ia menambahkan bahwa harga energi diperkirakan akan kembali turun setelah situasi mereda.
Lebih lanjut, Vance menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak memiliki niat untuk terlibat dalam konflik berkepanjangan di Iran. “Kami tidak tertarik berada di Iran satu atau dua tahun ke depan. Kami menyelesaikan tugas, lalu kami akan keluar segera,” ujarnya.
Pernyataan ini muncul di tengah eskalasi konflik yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah sejak dimulainya serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Laporan Al Jazeera yang diterbitkan pada Sabtu (28/3/2026) mencatat bahwa meskipun Washington membuka ruang diplomasi, operasi militer tetap berlanjut dengan serangan terhadap berbagai target strategis di Iran. Sementara itu, Reuters pada 28 Maret 2026 melaporkan bahwa pemerintah AS terus menyeimbangkan antara tekanan militer dan upaya negosiasi, dengan tujuan mencegah konflik meluas menjadi perang jangka panjang.
Baca Juga
Israel Gempur Situs Rudal Iran, Trump Tunda Serangan 10 Hari
Di sisi lain, peringatan datang dari kalangan analis bahwa eskalasi konflik berisiko mengganggu stabilitas energi global. Lonjakan harga minyak yang terjadi sejak awal perang menunjukkan sensitivitas pasar terhadap perkembangan geopolitik, meskipun pejabat AS optimistis tekanan tersebut hanya bersifat sementara.
Dengan pernyataan Vance, arah kebijakan Amerika Serikat terlihat mengarah pada strategi “quick strike”—menyelesaikan target militer utama dalam waktu singkat sebelum menarik diri. Namun, dinamika di lapangan menunjukkan bahwa risiko eskalasi masih tinggi, terutama dengan keterlibatan berbagai aktor regional yang memperluas cakupan konflik.

