Perang Iran vs AS-Israel Mulai Pukul Industri Eropa, Prancis Luncurkan Paket Bantuan Darurat
Poin Penting
|
PARIS, investortrist.id – Gejolak harga minyak akibat perang Iran versus AS dan Israel mulai memukul negara-negara Eropa, salah satunya Prancis. Pemerintah Prancis meluncurkan paket bantuan darurat senilai 70 juta euro (sekitar Rp 1,36 triliun) guna melindungi industri-industri utama negara itu dari gejolak harga energi.
Dalam pernyataan resminya, pemerintah Prancis menyebutkan, sektor transportasi, pertanian, dan perikanan menjadi fokus utama bantuan. Langkah ini dianggap krusial untuk menjaga kedaulatan pangan serta memastikan aktivitas ekonomi nasional tetap berjalan lancar.
Dari total nilai paket bantuan itu, 50 juta euro (sekitar Rp 976,4 miliar) di antaranya akan dialokasikan untuk perusahaan transportasi jalan raya kecil dan menengah. “Bantuan diberikan dalam bentuk subsidi tetap sebesar 0,20 euro per liter bahan bakar,” jelas pemerintah Prancis dalam pernyataan resminya.
Baca Juga
Sementara itu, sektor pertanian akan mendapat pembebasan pajak atas bahan bakar diesel selama satu bulan. Di sisi lain, industri perikanan memperoleh alokasi dana lima juta euro (sekitar Rp 97 miliar) guna menutup lonjakan biaya bahan bakar yang kini mencapai sekitar 35% dari total biaya operasional.
Pemerintah Prancis juga menawarkan sejumlah skema tambahan, termasuk penangguhan pembayaran pajak dan jaminan sosial tanpa penalti, serta pinjaman Boost Fuels hingga 50.000 euro (sekitar Rp 976 juta) bagi usaha kecil yang terdampak.
Namun, menurut pemerintah Prancis, kebijakan khusus ini bersifat sementara dan hanya berlaku hingga April 2026. Kebijakan darurat tersebut diambil di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran yang menewaskan lebih dari 1.340 orang.
Baca Juga
Iran kemudian membalas melalui serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta sejumlah negara di kawasan, termasuk Yordania dan Irak, yang turut mengganggu stabilitas pasar global dan jalur penerbangan.
Selain itu, gangguan di Selat Hormuz sejak awal Maret turut memperparah situasi. Jalur yang biasanya dilalui sekitar 20 juta barel minyak per hari itu kini mengalami hambatan, sehingga mendorong kenaikan biaya pengiriman dan harga minyak dunia. (Anadolu/Ant)

