Trump Tunda Lagi Tenggat Serangan ke Iran, Buka Ruang Negosiasi hingga 6 April 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menunda tenggat waktu bagi Iran untuk membuka penuh Selat Hormuz, dari sebelumnya Jumat menjadi 6 April 2026, di tengah klaim adanya kemajuan dalam proses negosiasi untuk mengakhiri perang. Kebijakan tersebut diumumkan Trump pada Kamis (26/3/2026) waktu setempat, sebagaimana dilaporkan oleh The New York Times dalam liputan langsung bertajuk Iran War Live Updates yang diperbarui pada hari yang sama.
Trump menyatakan bahwa penundaan selama 10 hari itu dilakukan atas permintaan pemerintah Iran, sekaligus memberi ruang bagi diplomasi yang disebutnya tengah berjalan positif. Dalam pernyataan di media sosial Truth Social, ia menegaskan bahwa pembicaraan berlangsung “sangat baik”, meskipun Iran secara terbuka membantah adanya negosiasi resmi. Tenggat baru tersebut ditetapkan hingga Senin, 6 April 2026 pukul 20.00 waktu setempat.
Ini merupakan penundaan kedua yang dilakukan Trump dalam sepekan terakhir. Sebelumnya, pada Sabtu (21/3/2026), ia memberikan ultimatum 48 jam kepada Iran untuk membuka Selat Hormuz atau menghadapi serangan terhadap infrastruktur energi. Tenggat itu kemudian diperpanjang hingga Jumat (27/3/2026), sebelum akhirnya kembali diundur menjadi 6 April.
Langkah ini diambil di tengah eskalasi tekanan militer dan diplomatik terhadap Teheran. Trump sebelumnya memperingatkan bahwa jika Iran menolak proposal damai dari Amerika Serikat, maka Washington akan terus meningkatkan serangan, termasuk terhadap fasilitas pembangkit listrik Iran. Ancaman tersebut disampaikan dalam rapat kabinet beberapa jam setelah Israel mengklaim telah menewaskan komandan angkatan laut Iran yang berperan dalam penutupan Selat Hormuz.
Baca Juga
Harapan Gencatan Senjata Iran Memudar, Yield Obligasi AS Melonjak
Namun, terdapat perbedaan penilaian di dalam pemerintahan AS terkait sikap Iran. Trump menyatakan bahwa Iran sebenarnya sedang bernegosiasi secara diam-diam, meskipun secara publik menyangkalnya. “Mereka akan bilang tidak bernegosiasi, tetapi sebenarnya mereka bernegosiasi,” ujar Trump kepada wartawan.
Sebaliknya, utusan khusus AS, Steve Witkoff, menyampaikan pandangan yang lebih hati-hati. Ia menyebut bahwa upaya diplomasi masih dalam tahap membujuk Iran agar melihat situasi ini sebagai titik balik yang tidak memiliki alternatif selain menghindari kehancuran lebih lanjut. Witkoff juga mengungkapkan bahwa ia bersama Jared Kushner masih aktif menjajaki jalur komunikasi dengan Teheran.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio turut menekankan pentingnya keterlibatan negara-negara lain, khususnya sekutu di Eropa dan Asia. Menurutnya, stabilitas Selat Hormuz bukan hanya kepentingan Amerika Serikat, tetapi kepentingan global. “Sangat sedikit energi kami yang melewati Selat Hormuz. Dunia yang memiliki kepentingan besar di sana, sehingga mereka harus ikut terlibat,” kata Rubio sebelum bertolak ke Prancis untuk menghadiri pertemuan G7 pada Jumat (27/3/2026).
Di sisi lain, Iran tetap mempertahankan sikap keras di ruang publik. Pemerintah Teheran membantah adanya negosiasi dan menuduh Washington menyebarkan narasi diplomasi untuk menenangkan pasar global. Pernyataan ini sejalan dengan laporan Reuters dan BBC pada 26 Maret 2026 yang menyebut Iran menolak proposal gencatan senjata AS, meski membuka kemungkinan pembicaraan secara tidak langsung.
Sementara itu, situasi di lapangan menunjukkan bahwa konflik masih terus berlangsung. Serangan rudal Iran ke wilayah Israel dilaporkan tetap berlanjut pada Kamis (26/3/2026), meskipun intensitasnya mengalami fluktuasi. Hal ini menandakan bahwa meskipun jalur diplomasi dibuka, eskalasi militer belum sepenuhnya mereda.
Laporan Al Jazeera pada tanggal yang sama juga mencatat terjadinya ledakan besar di beberapa wilayah Teheran pada Kamis malam, dengan warga melaporkan intensitas serangan udara yang lebih tinggi dibandingkan hari-hari sebelumnya. Israel disebut tengah meningkatkan kampanye militernya untuk menghancurkan kapasitas pertahanan Iran sebelum kemungkinan adanya penghentian perang.
Dampak konflik juga semakin meluas ke kawasan lain. Di Lebanon, lebih dari satu juta orang dilaporkan mengungsi akibat perang antara Israel dan kelompok Hizbullah, dengan lebih dari 100.000 orang kini bergantung pada tempat penampungan darurat, menurut data otoritas setempat yang dikutip The New York Times dan Associated Press.
Korban jiwa terus bertambah di berbagai wilayah terdampak. Human Rights Activists News Agency melaporkan lebih dari 1.492 warga sipil tewas di Iran, sementara Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat lebih dari 1.110 korban jiwa. Di Israel, setidaknya 16 orang dilaporkan tewas akibat serangan Iran, sementara korban dari pihak militer Amerika Serikat mencapai 13 personel.
Baca Juga
Wall Street Ambruk di Tengah Ketidakpastian Perdamaian AS-Iran, Dow Anjlok Lebih 450 Poin
Tekanan geopolitik tersebut langsung tercermin di pasar global. Bursa saham Wall Street mencatat penurunan harian terbesar sejak awal perang pada Kamis (26/3/2026), sementara harga minyak melonjak tajam akibat kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global. Laporan Bloomberg dan CNBC menyebut lonjakan harga minyak dipicu oleh ketidakpastian di Selat Hormuz yang merupakan jalur vital sekitar 20% distribusi minyak dunia.
Penundaan tenggat oleh Trump memberikan sedikit ruang bagi pasar untuk berharap adanya deeskalasi. Namun, pelaku pasar tetap bersikap hati-hati karena risiko konflik masih tinggi dan arah negosiasi belum jelas. Setiap perkembangan di Selat Hormuz dinilai akan terus menjadi faktor penentu volatilitas harga energi dan stabilitas ekonomi global.
Analis geopolitik menilai langkah Trump memperpanjang tenggat merupakan strategi untuk menjaga tekanan sekaligus membuka jalur diplomasi. Dengan memberikan waktu tambahan, Washington dapat menguji keseriusan Iran tanpa kehilangan leverage militer. Di sisi lain, Iran juga berusaha menjaga posisi tawarnya dengan menunjukkan fleksibilitas terbatas tanpa menyerah sepenuhnya.
Dengan demikian, perpanjangan tenggat hingga 6 April 2026 menjadi titik krusial dalam dinamika konflik ini. Apakah akan berujung pada deeskalasi atau justru eskalasi lebih lanjut, sangat bergantung pada hasil negosiasi yang masih berlangsung di balik layar. Bagi dunia, khususnya negara-negara importir energi seperti Indonesia, perkembangan ini menjadi indikator penting yang akan menentukan arah harga minyak, inflasi, dan stabilitas ekonomi dalam waktu dekat.

