Iran Buka Ruang Negosiasi Damai, Israel Justru Tingkatkan Serangan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Upaya meredakan perang Iran melawan Israel dan Amerika Serikat kembali menemui jalan buntu. Pemerintah Iran secara terbuka menolak proposal gencatan senjata yang diajukan Presiden AS Donald Trump, namun di saat yang sama memberi sinyal terbatas bahwa jalur diplomasi masih terbuka.
Berdasarkan laporan The New York Times yang diperbarui pada Rabu (25/3/2026) waktu AS, Teheran menegaskan bahwa perang hanya akan berakhir sesuai dengan syarat yang ditetapkan Iran sendiri. Media pemerintah Iran mengutip pejabat senior yang menyatakan bahwa Iran tidak akan membiarkan Washington “mendikte waktu berakhirnya perang”.
Meski demikian, sejumlah pejabat Iran secara tertutup menyampaikan kesiapan untuk membuka pembicaraan tidak langsung melalui mediator, termasuk Pakistan. Sumber diplomatik menyebutkan Iran bersedia mempertimbangkan pertemuan dengan perwakilan AS dalam waktu dekat, namun menolak pembahasan gencatan senjata sementara karena khawatir hal itu justru dimanfaatkan AS dan Israel untuk memperkuat posisi militer sebelum melanjutkan serangan.
Di tengah peluang diplomasi yang masih rapuh tersebut, Benjamin Netanyahu justru memerintahkan peningkatan ofensif militer selama 48 jam untuk menghancurkan sebanyak mungkin industri persenjataan Iran. Langkah ini mencerminkan kekhawatiran Israel bahwa perang bisa dihentikan sebelum target strategis mereka—yakni melumpuhkan program rudal balistik dan nuklir Iran—tercapai.
Militer Israel pada hari yang sama juga mengonfirmasi telah melancarkan gelombang serangan baru ke wilayah Iran. Serangan ini memperpanjang eskalasi konflik yang telah berlangsung sejak 28 Februari 2026.
Baca Juga
Sementara itu, sinyal dari Washington juga terkesan tidak konsisten. Di satu sisi, pemerintahan Trump mendorong inisiatif diplomatik melalui proposal damai 15 poin yang disampaikan via Pakistan. Namun di sisi lain, Pentagon justru memerintahkan pengiriman tambahan sekitar 2.000 pasukan ke Timur Tengah, sehingga total penambahan pasukan AS di kawasan tersebut mendekati 7.000 personel. Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa operasi militer AS tetap berjalan “tanpa henti” meskipun upaya diplomasi terus dilakukan.
Ketegangan juga meningkat di berbagai titik kawasan. Iran mengklaim telah menembakkan rudal jelajah ke kapal induk AS, USS Abraham Lincoln, meski Washington menyatakan seluruh rudal berhasil dicegat. Di sisi lain, Iran terus memantau pergerakan militer AS di kawasan dan memperingatkan agar tidak menguji tekadnya dalam mempertahankan wilayah.
Dinamika konflik ini turut berdampak pada pasar global. Harapan akan jalur de-eskalasi sempat menekan harga minyak dunia pada Rabu pagi, sementara pasar saham di Asia dan AS menunjukkan penguatan terbatas. Namun, ketidakpastian tetap tinggi mengingat peran strategis Selat Hormuz sebagai jalur utama sekitar 80% pasokan minyak ke Asia.
Iran bahkan menyatakan hanya kapal “non-hostile” yang diperbolehkan melintas di Selat Hormuz, sebuah pernyataan yang dinilai analis pelayaran belum cukup untuk meyakinkan operator tanker global kembali beroperasi normal di jalur tersebut.
Konflik juga meluas ke wilayah lain. Di Lebanon, Israel melancarkan serangan ke pinggiran Beirut yang menjadi basis kelompok Hizbullah. Sementara di Irak, pemerintah memprotes keras serangan yang menewaskan sedikitnya tujuh tentara di fasilitas milisi pro-Iran.
Korban jiwa terus bertambah. Duta Besar Iran untuk PBB menyebut sedikitnya 1.348 warga sipil tewas sejak perang dimulai, sementara kelompok pemantau independen melaporkan angka lebih tinggi, yakni di atas 1.400 korban. Di Lebanon, korban tewas mendekati 1.100 orang, sementara di Israel sedikitnya 15 orang dilaporkan tewas akibat serangan Iran. AS sendiri mencatat 13 personel militernya tewas dalam konflik ini.
Laporan senada juga disampaikan oleh Reuters, BBC, dan Al Jazeera yang menyoroti pola yang sama: diplomasi berjalan di belakang layar, tetapi eskalasi militer justru meningkat di lapangan. Kombinasi ini menunjukkan bahwa meski peluang negosiasi masih terbuka, perang belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir.
Posisi yang saling bertolak belakang. Teheran menuntut kompensasi perang dan pengakuan atas kedaulatan di Selat Hormuz, sementara Washington dan Tel Aviv ingin membatasi program nuklir dan rudal Iran. Jalan menuju perdamaian tampak masih panjang dan penuh ketidakpastian.

