Iran Tolak Pembicaraan Langsung dengan AS, Minyak Brent Tembus US$ 108
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak dunia melonjak pada Kamis (26/3/2026) setelah Iran menegaskan tidak akan melakukan pembicaraan langsung dengan Amerika Serikat, meskipun proposal perdamaian dari Washington tengah ditinjau.
Baca Juga
Israel Klaim Bunuh Komandan Laut Iran, Perang Masuk Fase yang Mengerikan
Patokan internasional minyak mentah Brent naik 5,66% menjadi US$108,01 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 4,61% menjadi US$94,48 per barel.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan kepada media pemerintah pada Rabu bahwa pertukaran antara kedua negara melalui mediator tidak berarti “negosiasi dengan AS,” lapor Reuters.
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran akan menolak tawaran gencatan senjata AS dan justru telah menetapkan syaratnya sendiri untuk mengakhiri konflik.
Komentar terbaru ini muncul ketika Washington dan Teheran terus memberikan versi berbeda mengenai status pembicaraan.
Donald Trump mengatakan pada Selasa bahwa AS dan Iran “sedang bernegosiasi saat ini” dan mengisyaratkan Teheran ingin mencapai kesepakatan, meskipun Republik Islam membantah adanya pembicaraan langsung.
Berbicara di Oval Office, Trump mengatakan ia menahan diri dari ancaman sebelumnya untuk menyerang infrastruktur energi Iran “berdasarkan fakta bahwa kami sedang bernegosiasi.”
Dikutip CNBC, analis di bank investasi TD Securities menyatakan bahwa guncangan harga minyak terbaru kemungkinan tidak akan memicu respons kebijakan agresif dari Federal Reserve.
Meskipun pasar mulai memperhitungkan risiko kenaikan suku bunga di tengah meningkatnya ekspektasi inflasi, TD menyebut The Fed lebih mungkin tetap dalam posisi “wait and see,” dengan kepemimpinan yang masih condong pada pemangkasan suku bunga pada akhir 2026.
Baca Juga
The Fed Tahan Suku Bunga di Tengah Perang AS-Israel vs Iran dan Inflasi yang Memburuk
The Fed kemungkinan tidak bereaksi agresif terhadap guncangan energi selama ekspektasi inflasi jangka panjang tetap terjaga dan dampak lanjutan tetap terkendali.

