The Fed Tahan Suku Bunga di Tengah Perang AS-Israel vs Iran dan Inflasi yang Memburuk
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuan (Fed funds rate/FFR) di level 3,5% hingga 3,75% pada Rabu (18/3/2026). Keputusan ini diambil di tengah eskalasi perang AS-Israel versus Iran serta tekanan inflasi yang memburuk.
Dalam pernyataan terbarunya, Federal Open Market Committee (FOMC) menilai aktivitas ekonomi AS masih tumbuh solid, meskipun sejumlah indikator menunjukkan perlambatan. Pasar tenaga kerja juga mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan, dengan kenaikan lapangan kerja yang melambat dan tingkat pengangguran yang sedikit meningkat dalam beberapa bulan terakhir.
“Indikator yang tersedia menunjukkan aktivitas ekonomi tetap berkembang dengan kecepatan yang solid. Namun inflasi masih relatif tinggi,” jelas FOMC, dalam pernyataannya.
The Fed juga menyoroti konflik AS-Israel dengan Iran terhadap perekonomian domestik. Dampak perang tersebut belum dapat dipastikan. “Ketidakpastian ini menjadi salah satu faktor yang mendorong bank sentral untuk bersikap hati-hati dalam menentukan arah kebijakan moneter ke depan,” demikian FOMC dalam pernyataannya.
Baca Juga
Inflasi AS Sesuai Perkiraan, Arah Bitcoin Kini Menunggu The Fed
Meski menahan suku bunga, The Fed tetap membuka peluang terhadap penurunan suku bunga setidaknya satu kali tahun ini, seiring upaya menyeimbangkan pengendalian inflasi dan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Sejumlah data ekonomi terbaru memperkuat sikap wait and see tersebut. Laporan indeks harga produsen (producer price index/PPI) yang dirilis pada hari yang sama mencatat kenaikan sebesar 0,7% pada Februari. Itu merupakan lonjakan terbesar sejak Agustus 2023. Kenaikan ini mengindikasikan tekanan harga di tingkat produsen masih cukup kuat.
Di sisi lain, data ketenagakerjaan menunjukkan pelemahan. Bureau of Labor Statistics melaporkan penambahan pekerjaan nonpertanian justru turun 92.000 pada Februari, sedangkan tingkat pengangguran naik menjadi 4,4%.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Naik, Investor Cermati Suku Bunga The Fed
Menurut Kepala Ekonom Raymond James, Eugenio Aleman, kombinasi inflasi yang masih tinggi dan perlambatan pasar tenaga kerja membuat pelaku pasar menjadi lebih berhati-hati dalam memperkirakan arah kebijakan suku bunga.
“Lonjakan inflasi di tingkat produsen kemungkinan besar memperkuat keputusan The Fed untuk menahan suku bunga. Data inflasi terbaru ini cenderung mendukung langkah The Fed untuk tetap menahan suku bunga dalam waktu dekat,” tutur dia.
Meski demikian, kata Eugenio Aleman, data inflasi produsen tersebut belum sepenuhnya mencerminkan dampak dari konflik Iran. Alhasil, arah kebijakan moneter ke depan masih sangat bergantung pada perkembangan geopolitik dan data ekonomi berikutnya. (dari berbagai sumber)

