Israel Klaim Bunuh Komandan Laut Iran, Perang Masuk Fase yang Mengerikan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Eskalasi perang Iran–Israel yang didukung Amerika Serikat memasuki babak baru setelah pemerintah Israel mengklaim telah menewaskan komandan angkatan laut Iran, Alireza Tangsiri tokoh yang disebut sebagai arsitek utama blokade Selat Hormuz, jalur vital bagi distribusi energi dunia.
Klaim tersebut dilaporkan dalam live update Al Jazeera dan dikonfirmasi oleh Reuters pada Kamis, 26 Maret 2026. Operasi ini dinilai sebagai pukulan strategis terhadap kemampuan Iran dalam mengganggu lalu lintas minyak global, sekaligus menandai pergeseran konflik dari perang militer konvensional menuju perang kendali energi.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam pernyataan video menegaskan bahwa operasi tersebut merupakan “contoh nyata kerja sama erat antara Israel dan Amerika Serikat dalam mencapai tujuan perang.” Ia juga menyatakan bahwa Israel akan terus “menyerang secara kuat” target-target strategis di Iran hingga tujuan militernya tercapai.
Senada, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyebut Tangsiri sebagai figur kunci yang “bertanggung jawab langsung atas penutupan efektif Selat Hormuz.” Pernyataan ini mempertegas bahwa operasi militer Israel kini tidak hanya menargetkan fasilitas militer Iran, tetapi juga aktor-aktor yang berperan dalam strategi tekanan ekonomi global.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia, dilalui sekitar 20% perdagangan minyak global. Blokade yang dilakukan Iran dalam beberapa hari terakhir telah memicu kekhawatiran luas di pasar energi dan keuangan internasional.
Baca Juga
Iran Buka Selat Hormuz untuk Kapal dari Negara Sahabat, 5 Negara Ini Beberapa di Antaranya
Sejumlah laporan dari Bloomberg dan BBC menyebut bahwa gangguan di jalur ini telah meningkatkan biaya pengiriman, mempersempit pasokan, dan mendorong tekanan inflasi global. Kelompok kebijakan internasional bahkan memperingatkan bahwa krisis ini dapat menyeret ekonomi dunia ke fase perlambatan baru jika berlangsung berkepanjangan.
Bagi negara-negara Teluk, situasi ini juga menjadi ancaman langsung. Sistem pertahanan udara di Arab Saudi, Bahrain, dan Kuwait dilaporkan aktif mencegat rudal dan drone Iran, menandakan bahwa konflik telah meluas ke kawasan yang selama ini menjadi pusat produksi energi dunia.
Risiko Konflik Regional
Di lapangan, Israel terus meningkatkan intensitas serangan terhadap Iran. Target yang disasar tidak hanya fasilitas militer, tetapi juga infrastruktur strategis yang berkaitan dengan logistik dan kemampuan tempur Teheran.
Selain itu, Israel juga memperluas operasi militernya ke Lebanon selatan. Netanyahu menyebut langkah ini sebagai bagian dari pembentukan “zona penyangga” untuk menahan pergerakan kelompok Hizbullah, sekutu utama Iran di kawasan.
Langkah ini meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya konflik menjadi perang regional terbuka yang melibatkan lebih banyak aktor, termasuk negara-negara Teluk dan kelompok milisi pro Iran di berbagai front.
Di sisi lain, Iran belum memberikan konfirmasi resmi terkait klaim kematian Tangsiri. Namun, Teheran tetap melanjutkan serangan balasan, termasuk peluncuran rudal ke wilayah Israel dan sekutunya.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengklaim Iran telah “dilumpuhkan secara militer” dan membuka peluang kesepakatan. Namun, pernyataan tersebut dibantah oleh Iran, yang justru mengajukan sejumlah syarat untuk mengakhiri konflik.
Menurut laporan BBC dan Al Jazeera, Iran tetap menolak tekanan langsung dari Washington, meskipun sinyal-sinyal diplomasi melalui jalur tidak langsung masih terus berlangsung.
Harga Minyak Naik Lagi
Kematian Tangsiri berpotensi mengganggu struktur komando Iran dalam mengelola blokade Hormuz. Namun, analis menilai langkah ini juga dapat memicu eskalasi lebih lanjut, terutama jika Iran merespons dengan memperluas serangan terhadap jalur energi atau fasilitas sekutu Barat.
Tangsiri dikenal sebagai tokoh penting dalam Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) yang mengawasi pengujian drone dan rudal jelajah, serta memainkan peran sentral dalam strategi penutupan Selat Hormuz dalam beberapa pekan terakhir. Pemerintah Amerika Serikat sebelumnya telah menjatuhkan sanksi terhadapnya pada 2019 dan 2023.
Kematian Tangsiri memperkuat ketidakpastian di pasar energi global yang sudah tegang sejak Iran mulai membatasi lalu lintas di Selat Hormuz. Investor khawatir bahwa eskalasi ini akan memicu gangguan lebih luas terhadap distribusi minyak dan gas, terutama jika Iran memperkeras blokade sebagai respons.
Menurut laporan Bloomberg, premi risiko pengiriman minyak melalui kawasan Teluk melonjak signifikan, sementara pelaku pasar mulai memperhitungkan skenario terburuk berupa penutupan total Hormuz. Kondisi ini mendorong harga minyak kembali naik setelah sebelumnya sempat stabil.
Baca Juga
Iran Isyaratkan Jalur Aman Terbatas Hormuz, Harga Minyak Turun Lebih dari 2%
Analis energi menyebut pasar kini berada dalam kondisi “risk premium driven”, di mana harga tidak hanya ditentukan oleh fundamental pasokan dan permintaan, tetapi juga oleh perkembangan geopolitik yang sangat dinamis.
Dampaknya sudah mulai terasa di pasar global. Harga energi meningkat, premi risiko pengiriman melonjak, dan ketidakpastian geopolitik membebani pasar keuangan. Negara-negara importir energi, termasuk Indonesia, menghadapi risiko tekanan pada nilai tukar, inflasi, dan beban fiskal akibat kenaikan harga minyak.
Klaim Israel atas tewasnya komandan laut Iran menandai titik balik penting dalam perang Iran–Israel. Konflik ini kini tidak lagi sekadar pertarungan militer, tetapi telah berubah menjadi perebutan kendali atas jalur energi global.
Selama Selat Hormuz tetap menjadi arena konflik dan diplomasi belum menemukan jalan keluar, dunia akan terus berada di bawah bayang-bayang krisis energi baru dengan implikasi luas terhadap stabilitas ekonomi dan geopolitik global.

