Jalan Damai Rusia-Ukraina Masih Panjang, Putin Sebut Ada Poin dalam Proposal AS Tak Bisa Disetujui
Poin Penting:
- Putin menyatakan beberapa poin dalam proposal damai AS tidak dapat diterima, menandakan jalan panjang menuju kesepakatan.
- AS meningkatkan diplomasi lewat Witkoff dan Kushner, sementara Eropa merasa tersisih dari proses.
- Serangan Rusia ke wilayah sipil Ukraina terus berlanjut, menewaskan dan melukai warga serta merusak infrastruktur penting.
- Macron dan Xi bertemu di Beijing, namun Tiongkok belum memberikan komitmen jelas untuk menekan Rusia menuju gencatan senjata.
NEW YORK, investortrust.id - Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut beberapa usulan dalam rencana AS untuk mengakhiri perang di Ukraina tidak dapat diterima oleh Kremlin, menandakan bahwa kesepakatan masih jauh dari tercapai. Komentar tersebut dipublikasikan Kamis (4/12/2025), menyusul pertemuan lima jam antara Putin, utusan khusus AS Steve Witkoff, dan menantu Presiden Donald Trump, Jared Kushner.
Trump telah memulai upaya diplomatik paling agresif sejak invasi penuh Rusia dimulai hampir empat tahun lalu. Upaya itu kembali tersandung pada tuntutan sulit, terutama mengenai apakah Ukraina harus menyerahkan wilayah kepada Rusia dan bagaimana menjamin keamanan negara itu dari agresi di masa depan.
Baca Juga
Rencana Damai Ukraina Masuki Babak Baru, Putin Siap Dialog ‘Serius’
Witkoff dan Kushner dijadwalkan bertemu negosiator utama Ukraina, Rustem Umerov, di Miami pada Kamis untuk pembicaraan lanjutan, menurut seorang pejabat senior pemerintahan Trump yang enggan disebutkan namanya, seperti dilansir Associated Press.
Putin menggambarkan pembicaraan Selasa di Kremlin sebagai “perlu” dan “berguna,” tetapi juga “pekerjaan yang sulit,” menambahkan bahwa beberapa poin tidak dapat disetujui. Ia mengatakan kedua pihak harus “menelusuri satu per satu” seluruh isi proposal AS, sehingga pembahasan berlangsung lama.
Dalam wawancara dengan India Today TV sebelum mendarat di New Delhi untuk kunjungan kenegaraan, Putin menolak menjelaskan poin mana yang dapat diterima atau ditolak, dengan alasan terlalu dini untuk mempublikasikannya karena dapat mengganggu proses negosiasi. Kantor berita Rusia, Tass dan RIA Novosti, mengutip sebagian komentarnya.
Baca Juga
AS-Rusia Diam-diam Bikin Kesepakatan Damai, Ukraina Makin Terpojok?
Trump mengatakan pada Rabu bahwa Witkoff dan Kushner pulang dengan keyakinan bahwa Putin ingin mencari jalan damai. Namun pejabat Eropa menuduh Putin hanya berpura-pura mendukung inisiatif Trump, sementara Washington mengambil alih posisi utama dalam pembicaraan, meninggalkan Eropa di pinggir.
Di Beijing, Presiden Prancis Emmanuel Macron bertemu Presiden Xi Jinping untuk mendorong Tiongkok menekan Rusia menuju gencatan senjata. Xi tidak menanggapi ajakan tersebut secara langsung, namun mengatakan Tiongkok mendukung upaya apa pun yang mengarah pada perdamaian.
Serangan Terus Berlanjut
Ketika diplomasi berlangsung, serangan Rusia ke wilayah sipil Ukraina terus berlanjut. Sebuah rudal menghantam Kryvyi Rih pada Rabu malam dan melukai enam orang, termasuk seorang anak perempuan berusia tiga tahun. Lebih dari 40 bangunan rusak.
Baca Juga
Rencana Damai Perang Ukraina Dekati Kesepakatan, Jaminan Keamanan Masih Diperdebatkan
Di Kota Kherson, seorang anak perempuan berusia enam tahun meninggal akibat luka-luka dari serangan artileri sehari sebelumnya. Pembangkit Listrik Tenaga Panas Kherson juga berhenti beroperasi setelah diserang drone dan artileri selama beberapa hari, memutus pasokan pemanas bagi lebih dari 40.000 penduduk. Pemerintah lokal menyiapkan sumber pemanas alternatif sementara tenda-tenda darurat didirikan.
Rusia juga menyerang Odesa dengan drone, melukai enam orang dan merusak infrastruktur sipil dan energi. Secara keseluruhan, Rusia menembakkan dua rudal balistik dan 138 drone semalam.
Di wilayah Kherson yang diduduki Rusia, dua pria tewas akibat serangan drone Ukraina terhadap kendaraan mereka, sementara seorang perempuan berusia 68 tahun terluka.

