Israel Gempur Teheran di Hari ke-26 Perang, Upaya Damai AS–Pakistan Masih Menggantung
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Perang Iran–Israel yang melibatkan Amerika Serikat pada Rabu (25/3/2026) memasuki hari ke-26 sejak pecah pada 28 Februari 2026, ketika Washington dan Tel Aviv melancarkan serangan udara besar-besaran ke Iran . Di tengah eskalasi militer yang terus berlangsung, sinyal diplomasi mulai muncul, meski masih diselimuti ketidakpastian.
Militer Israel pada Rabu (25/3/2026) melancarkan gelombang baru serangan ke Teheran, ibu kota Iran. Pada saat yang sama, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan dukungannya terhadap tawaran Pakistan untuk menjadi mediator dalam perundingan antara AS dan Iran.
Berdasarkan laporan The New York Times yang diperbarui pada 25 Maret 2026, Pakistan disebut telah menyampaikan proposal damai 15 poin dari Amerika Serikat kepada Teheran. Namun, belum ada kejelasan apakah Iran akan menerima proposal tersebut, maupun apakah Israel mendukungnya. Iran bahkan secara terbuka membantah klaim Washington bahwa negosiasi sedang berlangsung.
Sinyal diplomasi ini berbanding terbalik dengan langkah militer Amerika Serikat. Pentagon memutuskan mengirim tambahan sekitar 2.000 pasukan ke Timur Tengah, sehingga total pengerahan tambahan pasukan AS mendekati 7.000 personel sejak konflik dimulai. Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan operasi militer “terus berjalan tanpa henti” meskipun jalur diplomasi dibuka.
Dari Teheran, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa Iran memantau seluruh pergerakan militer AS di kawasan. “Jangan uji tekad kami untuk mempertahankan tanah air,” tegasnya, Rabu (25/3/2026).
Baca Juga
Ketegangan meningkat setelah Iran mengklaim telah menembakkan rudal jelajah ke kapal induk AS USS Abraham Lincoln. Presiden Trump menyebut lebih dari 100 rudal diluncurkan, namun semuanya berhasil dicegat.
Konflik juga meluas ke berbagai titik kawasan. Arab Saudi melaporkan sedikitnya 30 drone berhasil dicegat, sementara Kuwait menyatakan enam drone berhasil dihancurkan. Serangan juga memicu kebakaran di Bandara Internasional Kuwait setelah tangki bahan bakar terkena dampak serangan.
Di Lebanon, jet tempur Israel terus menggempur wilayah selatan Beirut yang menjadi basis Hizbullah. Sementara di Irak, pemerintah memprotes keras serangan yang menewaskan tujuh tentaranya dan melukai 13 lainnya.
Korban jiwa terus meningkat. Data yang dikutip dari berbagai sumber menunjukkan lebih dari 1.400 warga sipil tewas di Iran, lebih dari 1.000 korban di Lebanon, serta puluhan korban di Israel dan militer AS.
Di tengah eskalasi, laporan menyebut konflik ini memang telah memasuki hari ke-26, dengan kawasan Timur Tengah menghadapi kombinasi berbahaya antara perang terbuka dan diplomasi yang belum pasti. Sementara itu, proposal damai AS yang disalurkan melalui Pakistan mencakup isu nuklir, rudal balistik, dan keamanan jalur energi global .
Laporan Al Jazeera pada 25 Maret 2026 juga menyebut Pakistan telah menyampaikan tuntutan gencatan senjata dari AS kepada Iran dan kini menunggu respons Teheran. Namun militer Iran menegaskan Washington “bernegosiasi dengan dirinya sendiri” dan berjanji melanjutkan perlawanan.
Di sisi lain, Iran menyatakan kapal “non-hostile” masih dapat melintasi Selat Hormuz, jalur vital energi global. Meski demikian, analis menilai jaminan tersebut belum cukup untuk memulihkan kepercayaan pasar.
Harapan de-eskalasi sempat menekan harga minyak. Brent turun sekitar 6% ke level US$94 per barel pada Rabu (25/3/2026), sementara bursa saham Asia menguat seiring optimisme pasar terhadap kemungkinan meredanya konflik.
Namun, dengan serangan yang terus berlangsung dan posisi para pihak yang masih saling bertolak belakang, jalan menuju perdamaian tampak masih panjang dan penuh ketidakpastian.

